Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara

Posted by imambudiraharjo on May 30, 2009

Dalam perdagangan komoditas batubara, faktor terpenting yang mengikat transaksi antara pembeli dan penjual adalah kualitas batubara, dimana spesifikasi yang disyaratkan oleh pembeli yang harus dipenuhi oleh penjual selalu tertulis dalam kontrak kesepakatan pembelian. Di bawah ini ditampilkan contoh persyaratan produk yang tercantum di dalam kontrak pembelian batubara yang akan dikirimkan ke pembeli tertentu.

01-PA-spec

Gambar 1. Spesifikasi Batubara di Kontrak Pembelian

Kolom paling kanan dari gambar 1 di atas adalah satuan dari kualitas – kualitas yang akan dinilai, yang besarnya tidak ditentukan secara pasti di angka tertentu. Mengapa demikian? Karena sebagaimana jamak dipahami, kualitas batubara tidaklah seragam di dalam satu lapangan penggalian, bahkan di dalam lapisan yang sama sekalipun. Kondisi ini tidak  lain disebabkan oleh karakteristik yang khas dari proses pembentukan batubara itu sendiri .

Oleh karena itu, penjual biasanya akan melakukan pencampuran batubara (blending) dari beberapa lokasi atau lapisan yang memiliki kualitas berbeda – beda sehingga didapat angka rata – rata yang dikehendaki. Meskipun demikian, kemungkinan timbulnya fluktuasi kualitas dari batubara yang terkirim ke konsumen tetaplah ada, baik berupa over spec maupun under spec. Sehingga untuk mengakomodasi hal ini, maka biasanya terdapat klausul berupa bonus dan penalti di dalam kontrak yang disepakati oleh kedua belah pihak. Berikut ini adalah salah satu contoh ketentuan tersebut.

02-PA-penalti

Gambar 2. Ketentuan Penalti dan Bonus

Kemudian kalau kita perhatikan, kecuali Hardgrove Grindability Index (HGI) dan ukuran, seluruh parameter kualitas dinilai berdasarkan standar tertentu, misalnya AR atau ADB. Basis penilaian ini begitu penting karena menyangkut penyamaan persepsi antara pembeli dan penjual terhadap produk batubara yang akan diperdagangkan.

Basis Penilaian Kualitas

Untuk mempermudah penjelasan, di bawah ini ditampilkan hubungan antara basis analisis dikaitkan dengan keberadaan parameter yang menjadi dasar perhitungannya.

03-Basis analisis

Gambar 3. Basis Analisis Batubara

(Sumber: Idemitsu Kosan Co., Ltd)

Dari gambar di atas, terlihat ada 5 jenis basis untuk analisis batubara yang dapat diterapkan, yaitu ARB, ADB, DB, DAF, dan DMMF.

1. ARB (As Received Basis)

Sebagaimana arti harfiahnya, obyek analisis ini adalah batubara yang diterima oleh pembeli seperti apa adanya. Dengan demikian, analisis pada basis ini juga mengikutsertakan air yang menempel pada batubara yang diakibatkan oleh hujan, proses pencucian batubara (coal washing), atau penyemprotan (spraying) ketika di stock pile maupun saat loading. Air yang menempel di batubara karena adanya perlakuan eksternal ini dikenal sebagai Free Moisture (FM).

Yang dimaksud penerimaan oleh pembeli (as received) disini bukan selalu berarti penerimaan batubara di stock pile pembeli, tapi disesuaikan dengan kontrak pembelian. Untuk kontrak FOB (Free on Board) misalnya, maka penilaian kualitas pada basis ARB adalah pada saat berpindahnya hak kepemilikan batubara di kapal atau tongkang. Pada kondisi ini, terkadang ARB juga disebut dengan as loaded basis.

2. ADB (Air Dried Basis)

Pada kondisi ini, Free Moisture (FM) tidak diikutkan dalam analisis batubara. Secara teknisnya, uji dan analisis dilakukan dengan menggunakan sampel uji yang telah dikeringkan pada udara terbuka, yaitu sampel ditebar tipis pada suhu ruangan, sehingga terjadi kesetimbangan dengan lingkungan ruangan laboratorium, sebelum akhirnya diuji dan dianalisis.

Nilai analisis pada basis ini sebenarnya mengalami beberapa fluktuasi sesuai dengan kelembaban ruangan laboratorium, yang dipengaruhi oleh musim dan faktor cuaca lainnya. Akan tetapi bila dilihat secara jangka panjang dalam waktu satu tahun misalnya, maka kestabilan nilai tertentu akan didapat. Disamping itu, basis uji & analisis ini sangat praktis karena perlakuan pra pengujian terhadap sampel adalah pengeringan alami sesuai suhu ruangan sehingga tidaklah mengherankan bila standar ADB ini banyak dipakai di seluruh dunia.

3. DB (Dried Basis)

Tampilan dry basis menunjukkan bahwa hasil uji dan analisis dengan menggunakan sampel uji yang telah dikeringkan di udara terbuka seperti di atas, lalu dikonversikan perhitungannya untuk memenuhi kondisi kering.

4. DAF (Dried Ash Free)

Dry & ash free basis merupakan suatu kondisi asumsi dimana batubara sama sekali tidak mengandung air maupun abu. Adanya tampilan dry & ash free basis menunjukkan bahwa hasil analisis dan uji terhadap sampel yang telah dikeringkan di udara terbuka seperti di atas, lalu dikonversikan perhitungannya sehingga memenuhi kondisi tanpa abu dan tanpa air.

5. DMMF (Dried Mineral Matter Free)

Basis DMMF dapat diartikan pula sebagai pure coal basis, yang berarti batubara diasumsikan dalam keadaan murni dan tidak mengandung air, abu, serta zat mineral lainnya.

Untuk konversi perhitungan ke basis ini, maka besarnya zat – zat mineral harus diketahui terlebih dulu. Dalam hal ini, perhitungan yang paling banyak digunakan adalah persamaan parr, seperti ditunjukkan di bawah ini.

M = 1.08A + 0.55S ………. (1)

Dimana

M: Mineral matters (%); A: Ash (%); S: Sulfur (%).

Akan tetapi persamaan ini tidak dapat diterapkan untuk perhitungan yang teliti dari setiap jenis batubara.

Dalam transaksi komoditas batubara, persyaratan kualitas yang umumnya tercantum dalam kontrak pembelian adalah hasil analisis proksimat, yaitu TM, IM, Ash, VM, FC, kemudian ditambah dengan kalori serta sulfur. Karena basis DMMF tidak pernah digunakan untuk uji dan analisis parameter – parameter tadi, maka konversi – konversi nilai kualitas yang muncul di tulisan ini selanjutnya akan dibatasi hanya pada 4 basis saja, yaitu ARB, ADB, DB, dan DAF.

Konversi Hasil Analisis Batubara

Berikut ini disajikan hasil analisis terhadap salah satu sampel batubara yang berasal dari daerah Embalut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Tabel 1. Data analisis batubara

05-Data asli

Menggunakan data di atas, kita akan mencoba mengkonversinya ke dalam basis – basis analisis yang lain berdasarkan perhitungan di bawah ini.

Tabel 2. Formula konversi analisis batubara

(Sumber: Coal Convertion Facts, WCI, 2004)

04-Formula konversi*Untuk DAF, kalikan DB dengan [100 / (100 – A%)]. A dalam ADB.

Berdasarkan perhitungan konversi di atas, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Konversi Hasil Analisis Batubara

06-Hasil konversi

*Angka berhuruf tebal adalah data asli.

Untuk kalori akan dibahas lebih lanjut di bawah ini, karena parameter ini sangat vital dalam transaksi batubara.

Kalori Dalam Transaksi Batubara

Dalam kontrak pembelian batubara, persyaratan kalori oleh sebagian besar konsumen Jepang selama ini adalah GCV (Gross Calorific Value) dalam basis ADB. Akan tetapi, belakangan ini sebagiannya mulai berubah ke GCV dalam basis ARB. Dan sebenarnya di Eropa Barat, kontrak berbasis ARB untuk GCV ini sudah menjadi mayoritas dalam transaksi batubara saat ini. Bahkan dalam perkembangannya, beberapa konsumen juga mulai beralih ke persyaratan kalori dalam NCV (Net Calorific Value) berbasis ARB.

Perbedaan antara basis ADB dan ARB sudah dijelaskan di atas. Adapun apa yang dimaksud dengan GCV dan NCV akan diterangkan di bawah ini.

Pada saat pembakaran batubara di boiler, air yang menempel di batubara (dalam hal ini TM) serta air yang terbentuk dari persenyawaan hidrogen yang terkandung di dalam batubara dan oksigen, akan berubah menjadi uap air setelah melalui proses pemanasan dan penguapan. Karena tidak memberi nilai tambah apa pun dalam konversi ke energi yang dapat dimanfaatkan selain untuk menguapkan air dalam batubara saja, maka kalor yang digunakan untuk proses tadi disebut kalor laten. Jika kalor laten ini diikutsertakan dalam analisis, maka kalori dalam batubara yang bersangkutan disebut dengan GCV atau HHV (Higher Heating Value). Dan jika faktor kalor laten ditiadakan, maka disebut dengan NCV atau LHV (Lower Heating Value). Hubungan antara GCV dan NCV ditunjukkan oleh persamaan (dalam standar JIS)  di bawah ini:

NCV (kcal/kg) = GCV (kcal/kg) – 6 (9 H + W) ………. (2)

Dimana, H = kadar hidrogen (%) … analisis ultimat.

W = kadar air (%) … analisis proksimat.

Basis analisis untuk kalori, hidrogen, dan kadar air harus sama.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tampilan besaran kalori dalam NCV menunjukkan kalor atau energi panas efektif yang terkandung dalam batubara yang digunakan untuk konversi energi yang bermanfaat. Kemudian dari persamaan di atas terlihat pula bahwa bila kandungan hidrogen dan kadar air dalam batubara sedikit, maka selisih NCV dan GCV tidaklah terlalu signifikan. Perbedaan yang besar antara kedua tampilan tadi akan muncul pada batubara muda yang masih memiliki kadar air dan hidrogen yang banyak.

Dari paparan di atas maka persyaratan kalori dalam transaksi batubara dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. GAD (Gross CV; ADB)

Untuk kondisi ini, tampilan kalori cenderung tidak menunjukkan besaran kalor secara tepat yang akan digunakan dalam pemanfaatan batubara, karena Free Moisture tidak termasuk di dalamnya.

2. GAR (Gross CV; ARB)

Karena analisis untuk kalori pada kondisi ini memasukkan faktor kadar air total, maka kondisi ini menunjukkan batubara dalam keadaan siap digunakan. Akan tetapi, tampilan kalori masih belum menunjukkan kalor yang efektif untuk dimanfaatkan dalam konversi energi yang bermanfaat.

3. NAR (Net CV; ARB)

Kondisi inilah yang benar – benar menampilkan energi panas efektif dalam pemanfaatan batubara.

Secara ringkasnya, transaksi komoditas batubara (uap) sebenarnya sama saja dengan “membeli kalor (efektif)”. Sehingga dapat dipahami bahwa munculnya prasyarat NAR merupakan sesuatu yang logis. Untuk mendapatkan nilai GCV dalam NAR ini, perlu dilakukan perhitungan dengan rumus seperti di bawah

NAR (kcal/kg) = GAR (kcal/kg) – 50.7H – 5.83TM ………. (3)

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dari persamaan di atas adalah:

- NAR adalah NCV dalam ARB.

- GAR adalah GCV dalam ARB. Karena biasanya dalam ADB, maka harus dikonversi ke ARB.

- H (kadar hidrogen) biasanya dalam DB atau DAF sehingga harus dikonversi ke ARB.

Menggunakan formula dari tabel 2 dan persamaan (3) diatas, kita akan mencoba mengkonversi GCV dari sampel batubara dalam tabel 1 ke NCV berbasis ARB. Karena pada sampel tersebut tidak dilakukan analisis untuk unsur H (hidrogen), maka besaran angka yang akan digunakan disesuaikan dengan tipikal nilai H untuk batubara di daerah tersebut, dalam hal ini sekitar 5.4 (DAF).

Untuk konversi kalori dari GCV (ADB) ke GCV (ARB), maka berdasarkan tabel 3, nilai GCV (ARB) = 5,514 kcal/kg.

Sedangkan perhitungan dari H (DAF) ke H (ARB), maka berdasarkan formula pada tabel 2, nilai H (ARB) = 4.18%.

Bila angka – angka tersebut dimasukkan ke persaman (3), maka NCV (ARB) = 5,191 kcal/kg.

Dengan demikian, maka:

Gross ADB (GAD) = 5,766 kcal/kg;

Gross ARB (GAR) = 5,514 kcal/kg;

Net ARB (NAR)   = 5,191 kcal/kg.

Yang harus diperhatikan adalah bahwa meskipun terdapat 3 nilai yang berbeda untuk kalori, tapi semuanya merujuk ke batubara yang sama. Adapun angka mana yang akan digunakan dalam kontrak pembelian, tergantung dari kesepakatan pembeli dan penjual. Contoh konkret dalam hal ini adalah sebagai berikut.

Bila indeks harga untuk batubara berkalori 6,000 kcal/kg (GCV; ADB) adalah $35.00/t FOBT misalnya, maka harga batubara di kontrak pembelian dalam Gross ADB berdasarkan calorie parity adalah 5,766/6,000 X $35.00/t = $33.64/t.

Berikutnya bila kesepakatan kontrak pembelian adalah dalam Net ARB. Bila index untuk batubara berkalori 6,000 kcal/kg tadi dalam Net ARB adalah 5,500 kcal/kg, maka harga batubara akan menjadi 5,191/5,500 X $35.00/t = $ 33.03/t. (Dalam hal ini, harga index tidak tergantung dari basis analisis).

Penutup

Sama seperti perdagangan secara umum, transaksi komoditas batubara merupakan kesepakatan yang saling menguntungkan bagi pihak pembeli maupun penjual. Oleh karena itu, spesifikasi produk harus benar – benar dipahami dengan baik agar tidak timbul perselisihan di kemudian hari. Penulis berharap semoga tulisan ringkas ini dapat dijadikan masukan yang berarti bagi pihak – pihak yang terkait dengan usaha di bidang batubara.

Referensi:

1.  Bahan Pelajaran Pelatihan Umum Teknik Pertambangan Batubara: Preparasi Batubara – Kontrol Kualitas, NEDO, 2003.

2. Coal Conversion Facts, World Coal Institute, 2004. (http://www.wci-coal.com/)

3. Nippon shijou de youkyuu sareru ippan tan no hinshitsu, Coal Research Laboratory, Idemitsu Kosan Co., Ltd, tanpa tahun.

4. Sekitan no kiso chishiki, Sekitan Shigen Kaihatsu Co., Ltd, tanpa tahun.

Banjarbaru – Binuang, 30 Mei 2009.

About these ads

42 Responses to “Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara”

  1. Di Kalsel banyak batubara, mas Imam.

    • imambudiraharjo said

      Iya Pak. Mudah-mudahan karunia dari Allah ini dikelola oleh orang -orang yang amanah sehingga dapat memberikan maslahat kepada banyak orang, bukannya musibah.

  2. irsanfinazli said

    Amiin ya Robbal’alamin…

  3. WK utomo said

    Thanks Mas,,,sangat bermutu dan bermanfaat materi yang disampaikan,,,

  4. LN Nabay said

    Mas, ilmunya bermanfaat!!
    apakah pada saat sekarang ini ada penjual yang menerima kontrak dgn basis NAR? karena umumnya GAD.
    Terima kasih.

  5. Rieny said

    Ilmunya sangat bermanfaat mas. Terima kasih sharing-nya.
    Insya Allah ilmu anda akan bertambah karena membaginya dengan orang lain.
    Amin

  6. umam said

    trims utk ilmunya.
    saya sendiri mempunyai usaha trading batubara di banten juga pernah kerja di tambang daerah kalsel.once again, thanks a lot for your information

    • imam rohadi said

      sya lg btuh batu bara 5.800 – 7000 kcal/kg
      bs hub sya di no 087771898347

      • Abdul Hanan Amir said

        aswrwb. pak Imam;
        Saya bekerja di PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk di Tanjung enim Sumatera Selatan di satker Logistik namun di luaran saya juga mendirikan Lembaga Komunitas Pemerhati Lingkungan Tanjung Enim yang bergerak di bidang mediasi transaksi hasil pertambangan khususnya batubara. Jk membutuhkan silakan kontak ke saya
        Abdul Hanan Amir
        HP 08127112932. email : ahamir@bukitasm.co.id dan ahamir.mks@gmail.com.

  7. Dadi said

    Thanks Mas Imam……Pengetahuannya sangat bermanfaat dan semoga bisa membawa barokah.

  8. Fendy said

    Mas, rumus konversi dari ADB ke ARB lebih di jelaskan lg secara sederhana.
    Kami adalah pekerja bidang batubara tapi kami tidak punya basic knowledge tentang batubara itu sendiri, maklum kami adalah pekerja batubara tradisional.
    Trims

  9. christoforo columbo said

    tks mas imam atas sharing ilmunya…
    memang banyak negara untuk transaksi kualitas coal (kalori)sudah menggunakan NAR.

    ada satu pertanyaaan saya ke mas imam…mohon di sharing ilmunya..
    untuk lignite..dikatakan (banyak orang mengatakan karakternya “low flash point” appx.250 deg celcius)..
    dimana jika coal di keringkan TM nya dengan coal rotary dryer maka hati2 dengan suhu coal itu sendiri jangan lebih dari 250 deg krn akan terjadi spontaneous combustion, self burning,ato self explosives terutama pada fine grain dan bubuk ukuran coalnya.
    mohon pendapat mas imam tentang ini…gimana ? saya ingin diskusi dgn mas imam..
    tks mas..
    CC

  10. anshar said

    thanks sharing ilmunya.
    bisa backlink pa?
    jzk

  11. karsono said

    Sedangkan perhitungan dari H (DAF) ke H (ARB), maka berdasarkan formula pada tabel 2, nilai H (ARB) = 4.18%. TOLONG PAK DIMASUKIN PERHITUNGANNYA, KARENA MASUKIN HASILNYA GAK SAMA. TERIMAKSIH PAK, SAYA TUNGGU BALASANNYA SEGERA.

    • Ian said

      DAF = DB x ( 100/(100 -ASH%) )
      5,4 = DB x (100/(100 – 4,4))
      5,4 = DB x (100/95,6)
      5,4 = DB x 1,046
      DB = 5,4/1,046
      DB = 5,1625

      sekarang dari nilai DB akan kita konversi ke ARB %:

      H (ARB) = DB x ( (100 – TM%)/100 )
      = 5,1625 x ((100 – 19,1)/100)
      = 5,1625 x (80,9/100)
      = 5,1625 x 0,809
      H (ARB) = 4,176 (%) dibulatkan menjadi 4,18 %

      demikian =)

  12. fransisca said

    Thank you for your guidance on this page…it was really usedful to me, becaused Iam currently dealing with a few country for exporting a steam coal which is all of them based on ADB and ARB…
    once again thank you…
    fransisca

  13. wawan said

    Salam kenal ,
    Terima kasih buat ilmunya dan menambah sesuatu yang baru buat saya.

    Good luck.

  14. ahmad said

    Mas Imam sangat bermanfaat ilmunya..
    Bisa minta tolong di hitungin, umpama saya ingin meleburkan zinc 1 ton(450 c)di dalam tungku, berapa idealnya batubara yang saya gunakan untuk pengapian dan kira2 berapa lama mencapai temperatur 450 c
    makasih atas bantuanya, dan tolong di emaikan ke email saya

    thanks

  15. Tanto Nugroho said

    Salam perkenalan untuk para tokoh, sesepuh dari para ilmuwan batu bara.
    Nama saya Tanto Nugroho, akir2 ini saya diminta teman dari Korea dan China untuk mencarikan batu bara untuk kebutuhan pembangkit tenaga listrik.
    Dari China memberikan informasi hanya mengatakan butuh yg 5500-5100 Kcal dan TM agar dikendalikan dalam batas 15%.
    Apakah ini bertanda merupakan dalam kesatuan ARB ?
    Maaf saya mohon petunjuk, karena saya sebetulnya bukan bergerak dibidang batu bara, hanya diminta bantuan saja, jadi banyak hal yg belum saya pahami.
    Sudikiranya para senior ini dapat memberikan petunjuk bagi saya, kemana saya kiranya bisa mendapatkan batu bara yg bagus dalam kalori yg diminta.
    Terima kasih

    Wassalam
    Tanto

    • alam said

      itu mintanya di Nar kali mas. Soalnya kalori segitu kalo di ADB/GAD nggak mungkin bisa. Normal TM di 5500-5100 ADB itu sekitar 35%an keatas. Sedangkan kalo di NAR bisa dibawah 15%. Dia berarti sebetulnya cari di 5800-6300 ADB. Hope this helps.

  16. akamori said

    nice info gan..
    anyway saya lagi cari Coal kalsel spec ada disini http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6450132 .
    miner only ya…cuz cari harga yg murah..trims

  17. tito said

    Mohon bantuannya Mas Imam,
    Berikut adalah spec LOI yg saya terima,

    Quality Parameter Basis Guaranteed Rejection
    Gross Caloric Value Qnet.V.ar 4400~5000 Kcal/kg < 4000 Kcal/kg
    Total Moisture Mar According to the total moisture of the type of coal signed
    Ash Content Aar 20% 35%
    Sulphur Sar 0.8%
    Ash Fusion Point t2 > 12000C < 12000C

    dengan data tersebut apakah cukup untuk di konversi ke basis Gross ADB?

    Terima kasih sebelumnya,
    Tito

  18. eka geoseda said

    trimakasih banyak pak, tulisan anda sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuaan saya

    salam dan terimakasih,
    eka

  19. syahrial said

    thanks y pak atas ilmunya,
    oh y pak, ada saran gak buku untuk mau memperdalam tentang batubara ini

  20. thanks so much…
    it’s good informations cos..sya pemula dlm hal btu bara…

  21. berita indonesia…

    [...]Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara « Belajar Memaknai[...]…

  22. bangferry said

    Terima kasih atas infonya. sangat berguna buat pengetahuan saya.

  23. Yus Lesmana said

    Terimakasih untuk ilmunya, sangat kebetulan sekali artikel ini yang sedang saya butuhkan, semoga Allah membalas dengan pahala yang besar, amin

  24. Warta Berita Indonesia…

    [...]Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara « Belajar Memaknai[...]…

  25. [...] Dibaca Persyaratan Produk Dalam Transaksi BatubaraIndustri Batubara Indonesia*Teknologi Pembakaran Pada PLTU BatubaraMengenal BatubaraMengenal CBM [...]

  26. joevan said

    thanks……..buat ilmunya mungkin menjadikan karya yg terbeasr buat kita smua….

  27. tetz said

    Tq Bro…sy geos tp orang baru di quality Control sangat bermanfaat bg sy pribadi.
    Salam

  28. diva said

    Pak imam yang terhormat : kalau tidak salah dari AR ke ADB adalah dengan cara memanaskan batubara 10 derajat celcius diatas temp kamar samapai tidak ada perubahan berat lagi, artinya free moisturenya sudah hilang tetapi kenapa rumusnya bukan 100/(100-%FM) atau karena %FM=%TM-%IM maka bisa juga ditulis 100/(100-(%TM-%IM)), mohon petunjuknya pak,

    Yang kedua berdasarkan world coal institute bahwa IM (ADB) sama dengan IM (ARB)..berbeda dengan punya bapak…haturnuhun

  29. kurniawan said

    terima kasih banyak pak Imam untuk meluangkan waktunya buat berbagi ilmu …. sangat membantu saya di pekerjaan baru as procurement … GBU

  30. oyan9999 said

    Sgt berguna nih,,,buat para pebisnis bat u bara..thxs pak.

  31. awew said

    Semoga Barokah … terimakasih ilmunya Pak…..

  32. mas .minta tolong ,jelaskan jenis jenis boiler yg di pake di indonesiayg memakai batu bara , sehingga mempengaruhi pemakaian size dan kalori ? ,makasih

  33. CTM said

    Terima kasih banyak. Semoga Allah SWT mengkaruniakan Bapak keberkahan dan rezeki serta dimudahkan segala urusannya. Aamiin yra 3x

  34. radit said

    Terima kasih informasinya.
    Sangat bermanfaat sekali.

    Semoga sukses terus pak.

  35. imam rohadi said

    lokasi sya di cilegon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: