Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Analisis Batubara

Posted by imambudiraharjo on March 31, 2012

Sebagai kelanjutan dari artikel berjudul Standar ASTM Untuk Analisis Batubara dan untuk memperjelas materi yang disampaikan dalam artikel berjudul Persyaratan Produk Dalam Transaksi Batubara dalam blog ini, maka disini akan ditampilkan rangkaian video tentang proses analisis untuk beberapa parameter kualitas dalam batubara. Semoga video – video ini dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kualitas batubara.

Read the rest of this entry »

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , | 2 Comments »

Teknik Produksi Batubara Dengan Retreating Long-Wall

Posted by imambudiraharjo on December 6, 2011

Sebagai kelanjutan dari artikel yang berjudul “Mengenal Tambang Batubara Bawah Tanah“, maka disini akan ditampilkan rangkaian video tentang cara penambangan dengan metode retreating long-wall.

Lokasi pengambilan gambar adalah tambang batubara Taiheiyou Coal Mine (sekarang bernama Kushiro Coal Mine) yang terletak di Kushiro, Hokkaido, Jepang.

Read the rest of this entry »

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , | 1 Comment »

Underground Coal Gasification: Another Clean Coal Option*

Posted by imambudiraharjo on July 28, 2011

By Angela Neville, JD (POWER’s Senior Editor)

Underground coal gasification (UCG) is the gasification of coal in-situ, which involves drilling boreholes into the coal and injecting water/air or water/oxygen mixtures. It combines an extraction process and a conversion process into one step, producing a high-quality, affordable synthetic gas, which can be used for power generation. Still in the early stage of commercialization, UCG is poised to become a future major contributor to the energy mix in countries around the world. 

Coal gasification is a well-known chemical process that converts solid carbonaceous material into synthetic gas (syngas), which consists predominantly of methane (CH4), carbon monoxide (CO), carbon dioxide (CO2), hydrogen (H2), and water (H2O) steam. Gasification differs from combustion (or burning) because burning coal takes place in excess O2 and produces only CO2 and water steam.

In the underground coal gasification (UCG) application, air and/or oxygen is introduced to coal while it is still in the ground by pumping it down boreholes (called injection wells), which are drilled into the coal seam from the ground surface (Figure 1).

1. Making coal cleaner. The underground gasification of steeply dipping coal seams was demonstrated in a pilot project near Rawlins, Wyo. In the underground coal gasification process, air and/or oxygen is introduced to the coal while it is still in the ground by pumping it down boreholes (called injection wells), which are drilled into the coal seam from the ground surface. Courtesy: Paul Ahner

 

… Baca Lanjutannya

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , , , , , | 2 Comments »

Teknologi Pengeringan Lignit*

Posted by imambudiraharjo on June 17, 2011

Oleh: Yasuo Ōtaka (JCOAL Project Promotion Department)

1. Pendahuluan

Batubara berkualitas rendah seperti lignit (brown coal) memiliki kadar air tinggi, kalori rendah, serta sifat swabakar tinggi, sehingga berakibat pada tingkat penggunaannya yang rendah serta menimbulkan masalah pada saat pengangkutan dan penimbunannya. Hal inilah yang menyebabkan lignit selama ini hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi di lokasi dimana dihasilkan. Akan tetapi, dengan kenaikan harga minyak beberapa tahun belakangan ini, kemudian terjadinya peningkatan permintaan batubara secara drastis dari Cina, India, dan negara lainnya, maka fokus pasar batubara perlahan – lahan mulai bergeser dari sub-bituminus ke batubara berkualitas rendah yang memiliki jumlah sumber daya berlimpah. Selain itu, pengembangan teknologi gasifikasi batubara berkualitas rendah yang bertujuan untuk menghasilkan SNG (Synthetic Natural Gas) maupun bahan baku kimia juga terus dilakukan saat ini. Untuk mempromosikan penggunaan lignit, maka diperlukan aplikasi teknologi penghilangan air (dewatering) seperti pengeringan maupun up-grading terlebih dulu, untuk menghilangkan kadar air tinggi yang merupakan penyebab menurunnya efisiensi dalam penggunaan batubara jenis tersebut. Oleh karena itu, pengembangan teknologi dewatering dilakukan secara intensif di negara – negara yang banyak menggunakan lignit seperti Amerika, Australia, dan Jerman. Jepang yang selama ini tidak menggunakan lignit juga mulai mengembangkan teknologi pemanfaatan efektif batubara jenis itu melalui proyek bantuan maupun sponsor dari METI (kementrian ekonomi dan industri) dan NEDO. Dan sebagai bagian dari langkah ini, maka pengembangan teknologi pengeringan efisiensi tinggi sedang dilakukan saat ini.

2. Jenis – jenis Teknologi Dewatering

Berdasarkan metode dan kondisi pemrosesan, teknologi dewatering seperti pengeringan / drying atau up-grading dapat dibagi menjadi 4 jenis seperti terlihat pada gambar 1 di bawah.

Gambar 1. Jenis serta contoh teknik pengeringan & up-grading

Batubara seperti lignit dan lainnya akan mengalami reaksi kimia, misalnya dekomposisi, ketika suhunya mencapai 200°C atau lebih. Karena itu, jenis teknologi dewatering dapat dibagi berdasarkan suhu, dimana kondisi dengan suhu proses lebih dari 200°C disebut dengan tipe reaksi, sedangkan yang dibawah suhu tersebut disebut dengan tipe non reaksi.

Dari gambar 1 juga terlihat garis tekanan uap jenuh (saturated vapor pressure)  untuk mengetahui karakteristik penguapan kadar air. Air akan menguap bila kondisinya berada di bawah garis itu, dan sebaliknya, tidak akan menguap bila berada pada kondisi di atas garis tersebut. Dengan demikian, teknologi dewatering dapat diklasifikasi lagi sehingga menjadi 4 area, yaitu A~D.

Karakteristik dewatering serta proses yang mewakilinya untuk tiap area akan dijelaskan di bawah ini. Karena teknologi up-grading sudah banyak dijelaskan dalam artikel – artikel di JCOAL Journal maupun forum seperti workshop CCT, maka khusus teknologi pengeringan saja yang akan dibahas dalam tulisan ini.

… Baca Lanjutannya

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , , , , , , , , , , , , | 11 Comments »

Top Plant: Isogo Thermal Power Station Unit 2, Yokohama, Japan*

Posted by imambudiraharjo on June 14, 2011

By Dr. Robert Peltier, PE (POWER’s editor-in-chief)

Unit 2 at J-POWER’s Isogo Thermal Power Station entered commercial service in July 2009. The 600-MW ultrasupercritical unit joins an earlier, similar plant built in 2002. Together, these two new plants replaced 1960s-vintage coal-fired plants and doubled power generation from the small project site. In addition, the new unit improves the plant’s gross thermal efficiency to about 45% while reducing air emissions to those of a gas-fired combined-cycle plant. 

J-POWER was established as a wholesale power generator and wires company by the Japanese government in 1952 and was privatized in 2004. Today, J-POWER is owned by Electric Power Development Co., Ltd. (EPDC), which continues to distribute wholesale energy from principally hydroelectric and fossil-fueled plants to 10 utilities located across Japan.

The original Isogo Thermal Power Station (Isogo) consisted of two coal-fired units, each rated at 265 MW, that began commercial operation in 1967 and 1969. After 35 years of service, J-POWER elected to repower the plant, which is located on a peninsula in Yokohama Harbor. The project had three goals: The new plant was to lower emissions levels to those of a gas-fired plant, increase the amount of electricity produced for Japan’s second-largest city, and improve the plant’s operating efficiency.

… Baca Lanjutannya

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , , , , , | 1 Comment »

Prospek Sistem Pembangkitan Listrik Efisiensi Tinggi Berbahan Bakar Batubara*

Posted by imambudiraharjo on June 10, 2011

Oleh: Keiji Makino (Asia Pacific Coal Flow Center)

1. Latar Belakang

Perdebatan global tentang kerangka kerja pengurangan gas rumah kaca post Protokol Kyoto tengah berlangsung saat ini, yang akan segera diputuskan pada COP 15 yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Desember 2009 di Kopenhagen. Di tengah kondisi demikian, kritik terhadap penggunaan batubara tentunya akan semakin meningkat, sehingga JCOAL yang merupakan satu – satunya institusi sipil di Jepang yang berhubungan dengan batubara harus mengeluarkan rekomendasi yang komprehensif tentang masa depan batubara dari aspek hulu sampai hilir. Penggunaan batubara bagaimanapun juga masih tetap diperlukan untuk menjamin keamanan energi, sehingga seluruh dunia harus memikirkan bersama tindakan penanganan terhadap gas CO2 yang semakin meningkat seiring dengan membesarnya volume pemanfaatan batubara tersebut. Disinilah JCOAL dituntut untuk mengeluarkan rekomendasi yang tepat.

Dalam “Cool Earth 50” yang diajukan oleh pemerintah Jepang, diangkat pula teknologi revolusioner untuk mengurangi emisi CO2, yang salah satu topik didalamnya adalah tentang teknologi pembangkitan listrik. Dan melalui media seperti forum diskusi di Asia Pacific Coal Flow Center, JCOAL sendiri harus berperan aktif menyampaikan opini terkait pembangkitan listrik tersebut terutama tentang bagaimana upaya mempromosikan “Pembangkitan listrik efisiensi tinggi revolusioner berbahan bakar batubara” dan “CCS/Carbon Capture & Storage” ke depannya. Oleh karena itu, maka penting bagi JCOAL untuk berdiri dalam posisi netral dalam melakukan analisis secara independen mengenai arah perkembangan pembangkitan listrik berbahan bakar batubara di masa mendatang. Dengan mengajukan prakondisi yang diasumsikan, JCOAL telah meminta SRI International (Amerika), satu dari sedikit think tank di dunia yang memiliki reputasi di bidang ini, untuk mengembangkan perangkat lunak untuk melakukan prediksi jangka panjang terhadap pembangkitan listrik efisiensi tinggi berbahan bakar batu bara. Tulisan ini akan menjelaskan program tersebut serta hasil prediksinya.

… Baca Lanjutannya

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Industri Batubara Indonesia*

Posted by imambudiraharjo on June 4, 2011

Oleh: Masafumi Uehara (JCOAL Resources Development Division)

1. Pendahuluan

Indonesia adalah pemasok batubara terbesar kedua bagi Jepang, dan negara ini akan tetap menempati posisi yang penting terhadap stabilitas pasokan batubara yang digunakan di Jepang di masa mendatang. Tulisan di bawah ini akan menyajikan kondisi terkini industri batubara Indonesia.

2. Gambaran Umum Industri Batubara Indonesia

Batubara Indonesia terutama dihasilkan dari Kalimantan dan Sumatera, serta sejumlah kecil dari Jawa, Sulawesi, dan tempat lain. Tambang – tambang & pelabuhan batubara utama di Indonesia ditampilkan pada gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Lokasi tambang & pelabuhan batubara utama

Industri batubara Indonesia yang berkembang dengan baik selama ini ditopang oleh kebijakan batubara pemerintah yang memperkenalkan investasi asing secara agresif. Dari segi jumlah produksi, terdapat kenaikan yang sangat signifikan dimana angka produksi 15 tahun lalu yang hanya sebesar 31 juta ton meningkat hingga 8 kali lipat pada tahun 2010 menjadi 256 juta ton. Dan dalam 5 tahun terakhir ini terlihat kenaikan produksi sebanyak 20 juta ~ 40 juta ton per tahun. Demikian pula dengan volume ekspor yang terus meningkat, dimana ekspor pada tahun 2010 telah mencapai angka 198 juta ton sehingga menempatkan Indonesia menjadi salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. Dari yang sebelumnya eksportir minyak, Indonesia sekarang ini adalah negara importir minyak, yang menyebabkan batubara semakin menempati posisi yang penting menggantikan minyak dalam komposisi penggunaan energi di Indonesia.Akan tetapi, pada saat yang bersamaan pemerintah juga dihadapkan pada berbagai tantangan permasalahan, diantaranya semakin menjauhnya lokasi penambangan ke pedalaman, meningkatnya rasio pengupasan (stripping ratio), serta kekhawatiran tentang masalah lingkungan seperti kerusakan hutan. Batubara Indonesia memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dikenal ramah lingkungan. Hal ini menyebabkan batubara Indonesia semakin kompetitif di pasar dunia, di tengah kesadaran lingkungan yang makin meningkat pada saat ini. Dan untuk menjamin pasokan batubara bagi industri dalam negeri, membuka tambang – tambang baru melalui daya dorong investasi termasuk investasi asing, serta mengeliminasi penambangan ilegal dan praktik suap dalam usaha penambangan, maka pemerintah mengeluarkan UU Mineral & Batubara / UU Minerba (UU No 4 tahun 2009) sebagai pengganti UU No 11 tahun 1967, yang ditandatangani oleh Presiden pada bulan Januari 2009. Selain itu, pemerintah juga memberikan perhatian yang serius terhadap upaya pengembangan energi berbahan baku batubara seperti UBC, pencairan batubara, dan gasifikasi batubara.

… Baca Lanjutannya

Posted in Dunia Batubara | Tagged: , , , , , , , , , , , | 14 Comments »