Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Kang Jek Wes*

Posted by imambudiraharjo on March 4, 2009

(Boso Inggris: Jack Welch)

Ada adagium menarik yang pernah dilontarkan oleh Jack Welch yang mantan CEO General Electric (GE), yaitu “manager does the things right; leader does the right things”. Ungkapan ‘sengak’ tersebut disampaikan berdasarkan pengalamannya membenahi GE yang ketika dia diserahi jabatan puncak eksekutif perusahaan itu, perolehan laba & omzet sedang mengalami penurunan yang drastis. Welch menemukan bahwa ternyata bukan profesionalitas anak buahnya yang menjadi hambatan kemajuan perusahaan. Dia bahkan menyimpulkan bahwa para manajernya terlalu profesional malah dalam menjalankan tugasnya. Ibarat pemain watak, mereka terlalu menghayati peran yang dimainkannya sehingga lupa bahwa setting panggung telah berubah. Ringkasnya, mereka lebih banyak “ngikut aja” secara profesional apa yang menjadi kebijakan para CEO sebelumnya tanpa berani mempertanyakan apalagi menggugatnya. Mudah ditebak bila hal ini mengakibatkan banyak lini bisnis GE yang tidak menghasilkan laba secara optimal. Pola pikirnya adalah: “Toh dengan bidang usaha yang dijalankan selama ini, perusahaan juga masih berjalan”. Mereka lupa bahwa tren bisnis telah berubah secara drastis, sehingga metode konvensional para CEO sebelumnya sudah tidak layak lagi diterapkan sebenarnya.

Welch memulai perbaikan GE dengan melikuidasi bidang usaha yang tidak produktif, menawarkan kepada pihak lain bidang usaha yang masih layak untuk dijual, dan menggenjot lini usaha yang menjadi inti bisnis (core business) GE yang menghasilkan banyak keuntungan. Tindakan ini ibarat menggempur kemapanan dan kenyamanan kerja para karyawan sehingga karena kebijakannya itu, Welch dijuluki “neutron Jack”. Disebut neutron karena sinar neutron mampu menembus ke mana-mana dan dapat menghancurkan materi apabila ditembakkan dalam jumlah energi tertentu.

Sambil melakukan restrukturisasi hardware (penggarapan core business) dan software (manajemen), hal utama lain yang dilakukannya adalah melakukan pembenahan brainware (SDM). Welch mendidik manusia GE agar mampu berpikir menyamping atau lateral thinking -meminjam istilah Edward de Bono-, dan berani menyampaikan pendapat orisinal kepada atasan. Tegasnya, pendidikan dan pelatihan dilakukan dengan sangat ketat di pusdiklat GE di Crotonville, New York untuk membentuk manusia-manusia yang kreatif dan visioner dalam menghadapi perubahan iklim bisnis. Orang-orang yang pernah masuk pusdiklat ini ke depannya terbukti menjadi core person dalam merumuskan dan menjabarkan kebijakan taktis dan strategis perusahaan. Kemudian, bila selama ini pengambilan kebijakan hanya melibatkan level manajerial ke atas, maka pola tersebut diubah dengan melibatkan seluruh karyawan di semua level (hal ini identik dengan mekanisme Suggestion System atau SS dalam Toyota Production System).

Gebrakan di atas yang dilakukan secara kontinyu ternyata mampu mendongkrak omzet dan laba bersih GE. Selama kepemimpinan Welch, laba bersih perusahaan dalam 1 tahun bahkan pernah melampaui laba kumulatif GE dalam beberapa tahun lampau. Bila selama ini bidang usaha perusahaan lebih terfokus pada lini bisnis konvensional yang telah menjadi tradisinya seperti pembuatan lampu, lokomotif, turbin, mesin pesawat terbang, dll, maka di tangan Welch, GE merambah bidang finance (GE Finance), jasa (maintenance peralatan), broadcasting (akuisisi saham salah satu stasiun TV), dll.

GE kemudian berkembang menjadi konglomerasi bisnis yang luar biasa setelah restrukturisasi. Namun menariknya, meskipun tambun tetapi perusahaan tetap dapat berjalan dengan lincah dan gesit, terbukti dengan terus menaiknya omzet dan laba bersih yang berhasil diraih. Bukan itu saja, bahkan penetrasi GE akhirnya merambah ke pelosok dunia, dari Eropa Timur (akuisisi saham perusahaan lampu Osram di Hongaria) sampai Indonesia (bahkan perusahaan lampu Sibalec dekat alun-alun kabupaten Sleman Yogya pun dibeli oleh GE).

Dengan prestasinya yang huebat tersebut, apakah Welch merupakan salah satu lulusan sekolah bisnis terbaik di Amerika? Ternyata bukan. Pendidikan terakhirnya justru doktor teknik kimia. Itupun bukan dari Berkeley, MIT, Harvard, atau Caltech.

Jadi?

Jangan sampai terkungkung pada tempurung paradigma bahwa aktivitas atau karir harus sesuai dengan disiplin keilmuan yang pernah dipelajari.


* Tulisan lama, September 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: