Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Tentang Pelatihan Kerja*

Posted by imambudiraharjo on March 4, 2009

Latar Belakang

Krisis ekonomi yang menghajar Indonesia selama ini sungguh amat dahsyat imbasnya, yang efeknya menjalar ke segenap sisi kehidupan bangsa ini. Kita mafhum bahwa tetek bengek kekacauan politik, rawannya situasi keamanan, carut marutnya pranata sosial dan kehidupan budaya yang terjadi pada saat ini juga merupakan produk sampingan yang sangat mengganggu dari krisis tersebut.

Ditengah situasi yang demikian, kita juga sering mendengar berbagai macam demo yang menuntut pihak yang berkepentingan agar lebih memperhatikan aspirasi para buruh atau karyawan. Terlepas dari ada atau tidaknya motif lain dari aksi tersebut, tampaknya ada satu hikmah yang perlu kita ambil dan kaji mengenai satu sisi dari peliknya permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia, yaitu aspek keterampilan (skill) dan keahlian para tenaga kerja. Di sini akan dipaparkan tentang kondisi yang ada saat ini mengenai lembaga pelatihan yang dimiliki dan dikelola pemerintah (BLKI) dan pemikiran – pemikiran dalam rangka untuk lebih meningkatkan fungsinya di masa depan, yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi beragam persoalan yang menyangkut ketenagakerjaan.

BLKI (Balai Latihan Kerja Industri atau Vocational Training Center/VTC) adalah satu – satunya institusi pelatihan tenaga kerja yang bernaung di bawah Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. BLKI mengemban tugas mempersiapkan siswa didik untuk dilatih dalam hal kemampuan teknikal untuk menangani terutama fasilitas dan peralatan industri, sebagai modal keahlian dalam memperoleh pekerjaan di bidang yang bersangkutan.

Berdasarkan realitas yang berlangsung selama ini, fungsi BLKI tak lebih dari sekedar tempat pelatihan yang aktivitasnya didasarkan pada paket-paket program pelatihan untuk bidang tertentu dalam jangka waktu tertentu pula, yang perannya lepas setelah paket-paket tersebut selesai dilaksanakan. Maksudnya, setelah siswa didik selesai melaksanakan program, adalah tanggung jawab mereka sendiri untuk mencari pekerjaan, dimana BLKI tidak ikut campur tangan lagi untuk menangani masalah tersebut. Kondisi ini tentu saja menjadi kendala tersendiri bagi bagi masa depan lembaga ini, karena kalau hanya sekedar menjadi tempat belajar dan praktek ketrampilan, tentu banyak lembaga – lembaga pelatihan swasta yang sanggup untuk melaksanakannya. Hasilnya pun bisa jadi lebih bagus karena dilaksanakan dengan manajerial yang lebih profesional -suatu hal yang mungkin sulit dikerjakan oleh lembaga pemerintah.

Misi dan Peranan

Dalam rangka pemberdayaan BLKI lebih jauh lagi, maka diperlukan suatu pemikiran ulang mengenai peranan, fungsi dan orientasi dari kehadiran lembaga BLKI itu sendiri. Sudah saatnya institusi BLKI melepaskan diri dari paradigma yang hanya memandang bahwa mencetak tenaga terampil merupakan tugas dari sebuah lembaga pelatihan. Karena kalau demikian, lembaga tersebut sama saja dengan mencetak manusia terampil tapi pasif, pandai mengoperasikan dan melakukan maintenance peralatan tapi sepi inisiatif dan tidak mandiri. Oleh karena itu, maka BLKI harus membangun misi taktis dan strategis, yang akan membedakannya dengan lembaga pelatihan lain.

Mengenai misi taktis atau hal-hal yang berkenaan dengan tujuan jangka pendek, BLKI harus bisa memerankan diri sebagai lembaga penyedia dan penyalur tenaga kerja terlatih siap pakai bagi kalangan industri, dan bukan sekedar menjadi tempat praktek ketrampilan atau keahlian saja. Jadi, lembaga ini harus berperan memberikan pelayanan bagi para siswa dalam upayanya memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Hal itu dapat dilakukan dengan meyakinkan pihak industri akan kualitas kemampuan yang dimiliki lulusannya.

Untuk misi strategis atau hal-hal yang berkaitan dengan tujuan jangka panjang, lembaga ini harus bisa menjadi inubator yang efektif bagi lahirnya entrepreneur (small dan middle class entrepreneurs) yang bergerak di bidang teknologi, yaitu kelas industri yang di negara – negara industri maju menjadi tulang punggung bagi tegaknya bangunan perekonomian tetapi malah menjadi tema yang tidak menarik di Indonesia. Terkait dengan tujuan jangka panjang inilah, maka BLKI selain berfungsi sebagai inkubator untuk menghasilkan lulusan yang berjiwa entrepreneurship dan business minded hendaknya juga memiliki peran sebagai fund and facility supporter dan technical and management advisor.

Sebagai fund and facility supporter, BLKI berperan sebagai penyokong dana berupa soft loans kepada lulusan yang berminat untuk mendirikan suatu usaha, dan memberi pinjaman fasilitas atau peralatan yang diperlukan bagi tahap awal pendirian usaha tersebut. Sedangkan sebagai technical and management advisor, BLKI harus berperan sebagai konsultan bagi para entrepreneur terutama yang berstatus pemula, untuk memberikan pengarahan dan mengenai masalah manajemen industri dan hal – hal teknis yang bersentuhan langsung dengan lapangan. Dengan demikian, keberadaan BLKI bukan hanya sebagai bengkel praktek bagi para siswa didik namun juga menjadi bengkel usaha yang memiliki fungsi pelatihan sekaligus fungsi produksi. Dalam suasana demikian, diharapkan akan tercipta suasana take and give oleh para siswa didik, lulusan, para staf instruktur, dan masyarakat luas, baik mengenai masalah teknis keterampilan yang nyambung dengan tuntutan kalangan industri, maupun masalah manajerial.

Selain sebagai konsultan bagi pihak luar, BLKI juga harus berperan sebagai advisor bagi lembaganya sendiri, yang salah satu kewajibannya adalah menentukan kurikulum tambahan yang bersifat dinamis. Yang dimaksud dengan kurikulum tambahan disini adalah bahwa disamping harus belajar berdasarkan kurikulum wajib yang telah ditetapkan, para siswa juga harus dibekali dengan pengetahuan tentang tren perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung serta kecenderungannya di masa mendatang. Pembekalan ini disamping untuk menambah wawasan para siswa, juga bertujuan untuk melatih siswa agar mempunyai kemampuan prediksi serta pengambilan keputusan yang logis dan akurat terhadap berbagai perubahan yang cepat. Hal ini diharapkan dapat membantu kemampuan manajerial para siswa ketika bekerja di lingkungan industri, maupun ketika membuka usaha sendiri.

Oleh karena itu, pihak – pihak yang duduk dalam advisory board BLKI haruslah orang-orang yang melek dan mengikuti perkembangan iptek, ahli secara teknikal, berkemampuan manajerial yang baik, dan seorang edukator. Sehingga tidak berlebihan kiranya apabila posisi ini mensyaratkan minimal jenjang pendidikan S2 yang kompeten di bidangnya, dan memiliki hubungan erat dengan kalangan industri.

Mengapa harus ada penambahan kurikulum yang bersifat dinamis tersebut? Alangkah lebih baik bila kita mengambil pelajaran dari keberhasilan program serupa di India Institute of Technology (IIT). Di IIT, selain kurikulum wajib, para mahasiswa mendapat kurikulum tambahan yang materinya berubah – ubah untuk jangka waktu tertentu misalnya 1 tahun, sesuai dengan tren teknologi yang berkembang. Sehingga dengan fasilitas yang minim, lembaga tersebut banyak menghasilkan lulusan berkualitas yang ditarik oleh perusahaan-perusahaan di Silicon Valley, Kalifornia.

Restrukturisasi Organisasi
Untuk mewujudkan hal ini, sudah tentu lembaga BLKI secara keseluruhan harus dipandang sebagai private company, dan bukan lagi sebagai lembaga milik pemerintah yang hidup segan mati pun tak mau. Implikasi sudut pandang ini adalah pada timbulnya kemandirian dan profesionalisme secara menyeluruh, karena secara mental organisasi akan dibenturkan pada kondisi to be or not to be. Untuk mendukung hal ini, organisasi dan personel baik staf administrasi maupun instruktur yang mumpuni merupakan prasyarat yang harus dipenuhi.

BLKI haruslah direstrukturisasi sehingga merupakan sebuah organisasi yang ramping secara hierarki yang bertujuan untuk mempersingkat garis komando secara manajerial, sehingga diharapkan dapat bergerak secara gesit dan dinamis dalam merespon persoalan yang muncul, serta tidak terbentur pada berbagai macam birokrasi yang ruwet dan menyulitkan, yang berakibat pada banyaknya hambatan dan pembatasan bahkan pemotongan ide-ide perbaikan yang diusulkan dari bawah – sesuatu yang jamak terjadi pada lembaga pemerintah-.

Tom Peters dalam bukunya yang berjudul Thriving on Chaos: Handbook for a Management Revolution, menekankan kesederhanaan sebagai karakteristik yang paling penting dari struktur. Ia menilai bahwa ragam lapisan manajemen dan birokrasi yang berlebihan merupakan penyebab utama munculnya banyak problem dalam organisasi, selain menghalangi arus informasi, terutama komunikasi ke atas dan diagonal. Dalam rangka penyederhaan struktur organisasi, Peters merekomendasikan hal-hal yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kurangi secara drastis jumlah lapisan yang ada dalam manajemen.
2. Jaga supaya staf inti tetap dalam jumlah yang amat terbatas.
3. Mantapkan rentang kontrol yang luas.

Mengenai upaya mengurangi lapisan dalam manajemen, Peters menyatakan bahwa hierarki lima tingkat merupakan maksimum absolut. Pernyataan ini didasarkan pada sebuah studi yang dilakukan oleh konsultan manajemen AT Kearney yang membandingkan 41 perusahaan besar berdasarkan kinerja financial jangka panjangnya. Perusahaan-perusahaan yang berkinerja bagus rata-rata memiliki empat lapisan manajemen yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang berkinerja jelek. Selain itu, dalam studi yang dilakukan oleh McKinsey and Co. yang meneliti 38 sistem teknologi manufaktur maju, dapat diambil kesimpulan bahwa tahap pertama dalam meningkatkan produktivitas adalah membersihkan lapisan-lapisan dalam manajemen madya dan staf pendukung yang membebani roda perubahan. Prinsip the right man on the right place menemukan momentumnya dalam kebijakan ini. Sedangkan rekomendasi untuk rentang control yang lebih luas merupakan prasyarat untuk menghasilkan sebuah hirarki yang mempunyai tingkatan yang lebih sedikit antara anggota yang tertinggi dan terendah.

Tujuan dari restrukturisasi organisasi tersebut diatas adalah dalam rangka mewujudkan BLKI menjadi salah satu pionir learning organization di dalam tubuh lembaga pemerintahan.

Apa itu learning organization? Pedler dan kawan-kawan (1991) mendefinisikan learning organization sebagai sebuah organisasi yang memfasilitasi seluruh anggotanya untuk secara kontinyu melakukan transformasi diri sendiri sebagai bagian dari seluruh sistem. Hal ini mengandung implikasi bahwa iklim di dalam organisasi mendorong tiap individu untuk meningkatkan diri, dan organisasi itu sendiri secara keseluruhan mampu untuk belajar. Organisasi tersebut mengembangkan kebiasaan belajar, yaitu belajar yang bukan hanya dari tindakan yang dilakukan tapi juga dari proses pengambilan tindakan, yang merupakan proses kontinyu.

Mengutip pendapat Revans (1982), setidaknya ada 4 hal yang menjadi karakteristik sebuah organisasi (perusahaan) yang mempunyai kebiasaan belajar (learning habit), yaitu:

1. Bahwa pimpinan (eksekutif) menempatkan pengembangan organisasi (perusahaan) sebagai sebuah sistem belajar yang lebih tinggi di antara tanggung jawabnya sendiri.

2. Aturan dan petunjuk kerja dilihat sebagai norma dimana variasi yang ditimbulkan dipertimbangan sebagai pendorong untuk kesempatan belajar.

3. Persoalan yang timbul di level yang lebih tinggi selalu disertai dengan penjelasan yang menyangkut mengapa tidak dapat dipecahkan dan proposal untuk mengubah sistem, sehingga persoalan yang sama yang akan timbul di masa datang dapat dipecahkan dengan baik.

4. Setiap individu di setiap level harus didorong untuk membuat proposal secara regular untuk mengkaji dan mereorganisasi sistem pekerjaan mereka sendiri.

Senge (1990) menyarankan bahwa oganisasi belajar harus menunjukkan kapasitas sebagai berikut:

1. Kemampuan setiap individu untuk secara kontinyu mempertanyakan pola pikir biasa dan belajar dari pengalaman. Mempertanyakan status quo dan menerima kebijaksanaan merupakan hal yang esensial untuk belajar.

2. Kemampuan untuk berpikir secara sistematis untuk melihat gambar besarnya dan untuk melihat keseimbangan antara konsekuensi jangka panjang dan pendek dari keputusan yang diambil.

3. Kemampuan untuk membangun berbagi visi yang melingkupi aspirasi tertinggi manusia. Berbagi visi merupakan hal yang vital bagi organisasi.

4. Kemampuan untuk menggunakan kapasitas kreatif dari kelompok untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan anggota.

Kualitas Sumber Daya Manusia

Untuk menjalankan roda aktivitas BLKI yang dipandang sebagai sebuah lembaga (berorientasi profit) yang bergerak di bidang jasa, sudah tentu kualitas SDM merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi. Bukan saja kualitas para tenaga instruktur, tapi juga para staf administrasi. Sehingga untuk membangun kualifikasi tersebut dalam rangka merealisasikan sebuah organisasi belajar yang dinamis, proses pembelajaran dan pelatihan bagi sumber daya manusia di dalam organisasi merupakan tema penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Malcolm Knowles (1975) mengajukan konsep pelatihan terhadap orang dewasa sebagai andragogi, yang merupakan lawan dari pedagogi yaitu proses mengajar pada anak-anak. Teori andragogy didasarkan atas asumsi sebagai berikut:

1. Konsep dari si peserta: aturan dari peserta adalah pada dasarnya pengarahan diri sendiri, dan pelatih atau pengarah hanya mendorong dan mengasuh kebutuhan pengarahan diri tersebut.

2. Aturan pengalaman si peserta: pengalaman peserta merupakan kumpulan secara kumulatif seumur hidup yang merupakan sumber utama bagi proses belajar tersebut. Peserta akan lebih mudah menangkap segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman mereka dari pada yang diceritakan kepada mereka. Oleh karena itu teknik pelatihan yang tetap adalah yang mengandung aspek eksperimen dari pada yang hanya berupa penyampaian.

3. Kesiapan untuk belajar: proses belajar haruslah memenuhi si peserta dan tidak distandarisasi. Oleh karena itu haruslah sesuai dengan kemampuan dan kesiapan individu untuk belajar.

4. Orientasi belajar: peserta mencari untuk mendapatkan kompetensi bagi pemecahan permasalahan di dunia mereka dan mereka mencari yang sesaat bukan yang dalam jangka panjang. Mereka mencari pengembangan diri dan untuk mencapai potensi mereka.

Model andragogikal melihat pelatih atau pengarah sebagai fasilitator yang membantu mendiagnosis kebutuhan belajar, membuat iklim yang kondusif untuk belajar, merancang rangkaian pembelajaran berdasarkan pengalaman dan menyampaikan atau memfasilitasi pengalaman-pengalaman tersebut dengan teknik-teknik dan sumber-sumber yang memadai. Pelatih atau pengarah sebagai fasilitator merupakan partner bagi peserta dan pendekatan semacam ini biasanya mendalam, memiliki pengaruh yang positif bagi penyerapan pengetahuan dan peningkatan ketrampilan.

Berdasarkan paradigma andragogi di atas, maka BLKI sendiri mempunyai peranan sebagai fasilitator bagi pemberdayaan SDM-nya, dan berusaha mengarahkannya sesuai dengan tuntutan misi dan visi baru yang diembannya.

Dalam aplikasinya misalnya, oleh karena instruktur merupakan tulang punggung yang mempunyai andil yang besar dalam menentukan kualitas pelatihan yang dilaksanakan, maka bukan saja dia harus mengajarkan materi yang berkaitan dengan ilmu dasar dan teknologi aplikatif yang relevan dengan tuntutan end user, namun juga harus memiliki pengalaman berinteraksi dengan lapangan (industri), yang akan membuatnya memiliki sense of management pula. Disinilah dituntut kualifikasi seorang instruktur yang kompeten secara teknis, memiliki kemampuan manajerial praktis, dan kemampuan mengajar yang komprehensif. Untuk menghasilkan instruktur yang demikian, maka program-program pelatihan untuk meng-upgrade kemampuan para instruktur harus dilakukan secara kontinyu. Salah satu formatnya barangkali adalah on the job training (OJT) secara berkala bagi instruktur sesuai dengan bidangnya masing masing, untuk lebih banyak membuatnya berinteraksi dan terbiasa dengan suasanan kompetitif di lingkungan industri. Maka disinilah lembaga BLKI harus tanggap dan mempunyai inisiatif dalam mewujudkan hal ini sebagai pihak pengarah yang aktif.

Staf administrasi juga memegang peranan kunci dalam menjaga BLKI supaya tetap eksis dan berkembang. Disini lebih banyak dituntut pada keahlian manajerial sehingga membuatnya mampu bergerak gesit dan efektif dalam mengendalikan jalannya lembaga ini. Kerjasama yang baik antara staf administrasi dan instruktur merupakan hal yang wajib untuk direalisasikan, sehingga keduanya dapat bergerak secara sinkron untuk memajukan BLKI.

Kesimpulan

Mencermati perkembangan masyarakat dunia dewasa ini dengan persaingan globalnya, maka kemandirian merupakan kata kunci untuk mewujudkan kelas masyarakat yang kreatif, inovatif, dan tahan banting, yang akan menopang eksistensi dan kredibilitas suatu bangsa, Oleh karena itu, terkait dengan upaya transformasi diri menuju masyarakat industri yang kompetitif, tidak bisa tidak masalah ketenagakerjaan merupakan salah satu hal mutlak yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Dan untuk itu pulalah maka pemikiran kembali visi dan misi serta orientasi pembentukan tenaga kerja terampil dan terdidik merupakan suatu keharusan yang sangat mendesak untuk dilakukan.

Demikian sekilas pemikiran yang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi bagi berbagai permasalahan pelatihan ketenagakerjaan di Indonesia. Sehingga untuk masa mendatang, diharapkan Depnakertrans memang benar -benar dapat membuktikan komitmennya dalam rangka pelayanan dan upaya memajukan kondisi ketenagakerjaan di tanah air kita ini. Dan melalui lembaga BLKI diharapkan akan tumbuh lapisan masyarakat industri kecil dan menengah berbasis teknologi yang kreatif dalam suasana kompetisi, mandiri, dan tidak jago kandang, dalam rangka membangun tulang punggung perekonomian bangsa yang kuat dan berdaya saing tinggi.


*Catatan:

Tulisan ini dibuat ketika saya masih berdinas di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Serang, Banten, sekitar Agustus 2001. Namanya juga masih terbawa semangat idealisme pengabdian dari anak berumur 23 tahun (saat itu) yang baru lulus program ikatan dinas, makanya mungkin akan ada bagian – bagian yang barangkali saja terkesan utopis. Tapi, peduli amat ah, namanya ide kan sah – sah saja🙂 Kalau ada yang kurang relevan lagi ya mohon maaf, namanya juga publish tulisan lama.

2 Responses to “Tentang Pelatihan Kerja*”

  1. Nggawe lembaga dhewe wae Mam. Berdikari..hehe..

  2. imambudiraharjo said

    Nggih, setuju sanget Mas. Mugi-mugi Gusti Allah paring kekuatan dhumateng kulo kangge kegiatan amal. Matur nuwun Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: