Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Uda Purdi … selangkah lebih maju

Posted by imambudiraharjo on March 5, 2009

Dalam suatu seminar tentang kewirausahaan (entrepreneurship), Purdi E. Chandra (CEO Primagama Grup) pernah ditanya oleh salah seorang peserta: “Pak, gimana caranya agar BISNIS SAYA TIDAK MENGGANGGU KULIAH saya?” Apa jawab Purdi? Dia malah mengkritik pertanyaan tersebut dengan mengatakan:”Anda harusnya bertanya, gimana caranya agar KULIAH SAYA TIDAK MENGGANGGU BISNIS SAYA!”. Pernyataan Purdi tadi sontak membikin para peserta seminar terkaget-kaget. Pasalnya, ungkapan tersebut berada di luar jalur keumuman tentang paradigma sukses yang berkembang di masyarakat. Karena boleh dibilang, parameter keberhasilan yang tertanam di benak masyarakat selama ini adalah prestasi akademik, tingginya nilai IQ, titel yang berderet-deret, dan jabatan yang disandang baik di negeri maupun swasta.

Purdi tentu tidak sedang membanyol dengan kata-katanya tersebut. Dia pasti juga tidak sedang mengungkapkan kekesalan atau perasaan balas dendamnya terhadap institusi pendidikan karena ketidakmampuannya mengenyam bangku kuliah. Sesungguhnya, Purdi justru drop out dengan penuh kesadaran dari UGM dan IKIP Yogyakarta (UNY sekarang) justru pada awal – awal kuliahnya. Ya, dia memang pintar sebenarnya karena mampu kuliah di 4 jurusan dari dua perguruan tinggi itu pada awal 80-an selepas SMA di Padang. Kalau mengikuti arus utama opini masyarakat, tentu dia akan semangat untuk kuliah terus demi menggapai ‘kesuksesan’ yang lazim dibayangkan orang. Tapi dia malah bilang:”Apa yang didapat dari kuliah tidak banyak membantu untuk hidup sebenarnya di masyarakat”, ketika ditanya alasan kenapa DO. Purdi justru membuka bimbingan belajar Primagama dengan modal hasil penjualan sepeda motornya, demi melihat potensi bisnis dari antusiasme lulusan SMA yang berbondong-bondong ingin masuk bangku perguruan tinggi. Dari hanya segelintir anak yang menjadi peserta bimbingan belajarnya, setelah 20 tahun Primagama akhirnya berkibar menjadi kerajaan bisnis yang bergerak di bidang pendidikan, dengan kurang lebih 160 cabang di Indonesia dan omzet lebih dari 70 miliar rupiah setahun. Bidang garapan Primagama bukan hanya bimbingan belajar untuk lulusan SMA yang akan masuk ke PT saja, tapi juga anak-anak kelas 5- 6 SD, kelas 2-3 SMP, dan kelas 2 SMA. Bahkan sekarang telah dibuka bimbingan belajar khusus untuk lulusan SMA yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Akademi atau sekolah tinggi pun tidak luput dari jangkauan bisnis pendidikannya, mulai dari akademi manajemen, sekolah tinggi informatika, sekolah tinggi psikologi, dll. Belakangan ini, rentang sayap bisnisnya merambah lagi ke bidang broadcasting, jasa, percetakan, dll. Purdi pun akhirnya kuliah lagi di salah satu lembaga pendidikan tinggi yang dirintisnya. Opo ora hueebat?

Dari kisah Purdi di atas, setidaknya ada 2 hal yang dapat kita ambil pelajaran. Pertama, kekuatan visi dan misi hidup. Jelas sekali dia tidak ikut pusaran opini masyarakat tentang makna sukses, bahkan dia mendefinisikan sendiri kesuksesannya. Dari ungkapannya ketika DO dengan sengaja di atas, hidup mandiri dan berguna bagi orang lain merupakan kompas yang mengarahkan langkah-langkah perjuangannya. Kisah Soichiro Honda, pendiri Honda Motor, sungguh menyentuh. Honda san biasa bekerja keras sampai larut malam di bengkelnya untuk menyempurnakan mesin – mesin otomotif yang dibuatnya. Ketika ditanya mengapa dia melakukan pekerjaan sedemikian kerasnya, beliau menjawab: “Bagaimana nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari perusahaan saya jika saya tidak bekerja keras?” Sungguh jauh berbeda dengan mental para pengusaha karbitan yang banyak menggantungkan diri pada kemudahan-kemudahan baik dari orang tuanya maupun pihak lain. Selain itu, sejarah selalu mencatat, kesuksesan yang hakiki sebenarnya merupakan kompensasi dari Yang Maha Kuasa terhadap perjuangan yang dilakoni oleh seseorang. Ada kisah menarik pada saat Ford Motor Company menapaki puncak kejayaannya. Seseorang pernah bertanya kepada sang pendiri, Henry Ford: “Tuan Ford, seandainya anda jatuh miskin secara tiba-tiba, apa yang akan anda lakukan?” Henry Ford menjawab tegas: “Saya akan berpikir untuk membuat sesuatu yang berguna bagi banyak orang dan saya akan kembali jaya dalam waktu 5 tahun!” Ford berprinsip bahwa apabila kita berbuat baik dan berguna bagi banyak orang, imbalan yang sesuai baik materi ataupun non materi pasti akan didapat. Boleh dibilang, ini adalah salah satu keadilan Tuhan yang dapat kita rasakan langsung di dunia ini apabila mau bekerja keras. Tidak perlu kita melihat para pejabat baik negeri maupun swasta yang terlihat gagah, gemerlap, petantang petenteng, tapi ternyata makan minumnya, pakaiannya, kendaraannya, dan nafkah untuk keluarganya berasal dari harta haram hasil korupsi dan memeras para rekanan (supplier).

Prinsip kedua yaitu kejelian memanfaatkan peluang. Suatu hal yang luar biasa ketika seorang Purdi dapat menangkap potensi usaha dari antusiasme para lulusan SMA yang ingin masuk PT, padahal fenomena tersebut sudah berlangsung cukup lama dan selama itu pula tidak ada yang berpikir bahwa hal itu merupakan sebuah peluang. Apakah kemampuan menangkap peluang itu datang begitu saja? Pepatah mengatakan “alah bisa karena biasa”, yang berarti bahwa ketrampilan itu didapat karena terus dilatih. Menangkap dan memanfaatkan peluang pun tidak lain merupakan suatu bentuk ketrampilan juga. Dan ini harus dilatih terus, seandainya kita ingin menuai keberhasilan yang kita cita-citakan. Kuncinya? “JUST DO IT!” kata iklan sepatu Nike. Pokoknya, rancang dan kerjakan apa yang keluar di benak kepala anda. Takut gagal? Orang bijak bilang: ”Jangan mengerjakan apa-apa jika tidak ingin gagal.” Kegagalan sebenarnya mengajarkan kearifan kepada kita, agar lebih hati-hati dalam melangkah ke depan. Dikisahkan bahwa Thomas Alva Edison berhasil menemukan lampu pijar yang dapat menyala kontinyu pada percobaannya yang ke-2000. Apa jadinya dunia ini di malam hari apabila Edison kemudian menyerah pada percobaanya yang ke-1999? Ketika ada orang yang mengkritik keseriusannya untuk terus bereksperimen meskipun gagal, Edison menjawab lugas: “Dengan kegagalan, saya jadi tahu apa yang tidak boleh saya lakukan!”

Kalau begitu, mina san … gambarimashou ne (bahasa Jepang, artinya mari kita semua berusaha sekuat mungkin)

Samarinda, April 2006

2 Responses to “Uda Purdi … selangkah lebih maju”

  1. duniaentrepreneur said

    Halo pak salam knal ya… penggemar Purdi E Chandra ya?? Sama kalo gtu…
    Saling kunjung blog ya pak…
    Salam entrepreneur…

  2. imambudiraharjo said

    Iya Mas. Indonesia harus lebih banyak Purdi-Purdi lagi supaya rakyatnya tidak harus nunggu tiap 5 tahun untuk dapet jatah beras🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: