Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Insinyur Mie Cap Gajah Duduk

Posted by imambudiraharjo on March 6, 2009

Mari sejenak lupakan posisi kita saat ini. Cobalah kita berkhayal bersama-sama. Maaf, bukan sembarang berkhayal. Tapi berkhayal untuk mengisi energi optimisme kita. Siap?

Bayangkan anda saat ini berada di tahun 1993 dan baru saja lulus dari jurusan teknik sipil. Maaf, bagi anda yang tidak suka jurusan ini, dimohon untuk tetap berkhayal🙂 Dasar nasib baik sedang berpihak kepada anda, sebuah perusahaan terkemuka di bidang konstruksi menerima anda bekerja disana, meskipun anda sendiri tidak yakin lolos karena saingannya yang berjubel. Dua tahun bekerja, anda mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan untuk mengambil magister jurusan teknik industri. Karena kuliah strata 2 hanya memerlukan waktu 2 tahun, maka tahun 1997 anda kembali ke perusahaan untuk mengurus proyek. Malang tak dapat ditolak, monster bernama krisis moneter datang menghajar habis-habisan ekonomi negeri ini. Perusahaan anda pun kena imbasnya. Banyak proyek yang mati suri dan akhirnya mati beneran karena cashflow yang tidak lancar. Perusahaan pun kelenger dan terpaksa banyak karyawan termasuk anda akhirnya tidak bisa ngantor lagi karena menerima surat PHK.

Padahal anda sudah berkeluarga. Ada anak istri yang menjadi tanggung jawab anda dan harus diberi nafkah.

Bagaimana ini? Maukah anda muter-muter terus melamar kerja padahal pekerjaan yang memerlukan keahlian anda sangat sedikit saat itu. Kalau anda ganti profesi menjadi pelamar lowongan kerja sementara banyak pakar ekonomi yang tidak berani memprediksikan sampai kapan krisis akan berakhir, lantas bagaimana nafkah anak dan istri?

Jadi pusing? Oke, kalau begitu kita sudahi dulu khayalan kita ini.

“Untung bukan saya yang mengalaminya,” kata salah seorang bapak. Tapi, bukan tidak mungkin situasi serupa akan menerpa anda. Siapa yang dapat menebak otak busuk para spekulan kapan mereka akan kembali mengobrak-abrik ekonomi tanah air kita? Sudah siapkah anda bila menghadapi situasi serupa?

Ehm, anda sebetulnya tidak perlu setegang ini lho. Karena sudah banyak orang yang pernah mengalaminya dan berhasil mengelabui jeratan makhluk bernama krisis ekonomi, sampai akhirnya sukses. Inilah perlunya belajar dari kesuksesan orang lain, karena kita dapat mempersiapkan mental menghadapi kesulitan sebelum mengalaminya sendiri.

Agar dapat berpikir rileks, barangkali kita perlu mampir sebentar ke warung mie Tebet. Kok mie? Wah, jangan sewot dulu. Ini mie bukan sembarang mie. Outlet-nya saja sudah 91 dengan omzet rata – rata 1 juta rupiah per hari. Yang akan membuat makan kita jadi lahap, karena mie ini diolah oleh tukang insinyur bernama DR. Ir. Wahyu Saidi, MT.

Ya, doktor manajemen pendidikan dari UNJ (dulu IKIP Jakarta) yang sekarang mengasuh konsultasi usaha di beberapa penerbitan ini memang pemilik waralaba mie, yaitu mie Tebet dan mie Langgara. Orang Palembang ini sebelumnya telah menyabet gelar insinyur teknik sipil dan magister teknik industrinya di ITB.

Jadi? Ya, sebenarnya khayalan kita di atas merupakan flashback drama kehidupan (meskipun tahunnya tidak sama persis) yang pernah dilakoni oleh juragan kita yang satu ini. Meskipun latar belakang pendidikan boleh jadi dapat membentuk karakter yang saklek terhadap profesi tertentu yang menjadi bidang keahliannya, tapi tidak dengan seorang Wahyu Saidi. Krisis ekonomi malah justru memberinya daya ungkit (leverage) dan daya hidup (survival) yang luar biasa, karena the life must go on.

Setelah proyeknya bertumbangan, dia banting stir memulai usaha yang sedang ngetrend saat itu, yaitu agroindustri. Tak dinyana, di bidang ini pun beberapa kali kegagalan menimpanya. Bukannya mundur dari berwirausaha, hal itu malah menjadi semacam vitamin penyehat semangatnya. Dengan didahului oleh survey untuk menemukan peluang usaha yang tepat, Wahyu Saidi pindah jalur dengan membuka warung mie, namanya mie Langgara. Dalam perkembangannya, kalangan menengah ke atas akhirnya menjadi konsumen setia mie ini. Untuk memperluas segmentasi pasar, dibukalah gerai mie Tebet yang khusus diperuntukkan bagi kalangan menengah ke bawah.

Meskipun awal – awalnya dibumbui dengan beberapa kali kegagalan, namun dengan ketekunan yang luar biasa akhirnya usaha mie yang dirintisnya membuahkan hasil yang ruarr biasa pula. Bahkan dia ancang-ancang membuka gerai mie yang dimilikinya ke Malaysia, Singapura, Brunei, dan Arab Saudi.

Membaca kisah juragan mie di atas, ternyata yang namanya krisis belum tentu menjadi akhir dari segalanya. Justru kesulitan malah menjadi entry point untuk menempa dirinya menjadi manusia yang tahan banting dan kreatif. Sering disinggung oleh para pakar manajemen tentang makna krisis. Dalam bahasa Jepang, karakter kanji untuk krisis adalah kiki (危機). Ki yang pertama berarti bahaya atau genting, sedangkan ki yang kedua bermakna kesempatan. Dalam bahasa sederhana, krisis sebenarnya mengandung makna kesempatan dalam kesempitan (dalam arti positif).

Sudut pandang positif atau negatif dalam menyikapi kesulitan hakikatnya berawal dari kondisi mental seseorang. Apabila alam bawah sadarnya selalu diprogram dengan bahasa positive thinking, banyak hikmah dan kebaikan yang bisa dipetik. Sebaliknya, bila memorinya diisi oleh entry yang jelek – jelek saja, bukan hanya mentalnya yang down, bahkan fisiknya pun akan terganggu. Sudah banyak kajian medis yang membuktikan bahwa kondisi pikiran sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang.

Jadi, anda ingin selalu sehat dan waras dalam setiap kesempatan? Positive thinking aja yoookk!

Samarinda, April 2006

One Response to “Insinyur Mie Cap Gajah Duduk”

  1. imam hambali said

    bagus mam, aku minta ijin untuk pake opini ini dalam workshop2 ku sebagai ilustrasi ya..

    Dan terus keluarin semua ide dan potret2 yang ada di pikiran Imam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: