Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Restorasi Mourinho

Posted by imambudiraharjo on March 12, 2009

Anda salah seorang penikmat sepakbola? Pasti anda tegang saat melihat pertandingan final piala UEFA tahun 2003. Atau mungkin anda malah sampai teriak-teriak saat memelototi final piala Champions tahun 2004.

Buat anda yang bukan penggemar sepakbola, ada sedikit info. Final piala UEFA 2003 mempertandingkan kesebelasan FC Porto melawan Celtic yang dimenangkan Porto secara dramatis, sedangkan final piala Champions tahun 2004 adalah duel antara FC Porto yang asal Portugal itu melawan Monaco dari Perancis, yang dimenangkan Porto secara telak 3-0.

Musim kompetisi 2002 sampai 2004 merupakan titik balik bersinarnya kembali prestasi FC Porto setelah beberapa musim sebelumnya sempat ‘memble’. Tahun 2002/2003, Porto berhasil membuat hattrick dengan mengantongi piala UEFA, posisi teratas liga Portugal, dan juara piala liga Portugal. Prestasi itu berlanjut di musim kompetisi tahun berikutnya, dimana Porto berhasil mempertahankan posisi nomor wahid liga Portugal sekaligus merebut piala Champions yang merupakan gelar paling bergengsi dalam kompetisi antar klub Eropa.

Di negeri Ratu Elizabeth, prestasi spektakuler juga berhasil diraih oleh Chelsea. Setelah absen gelar selama puluhan tahun, posisi puncak klasemen liga utama Inggris (Premiership) dan piala liga berhasil direngkuh oleh klub asal London barat itu secara sekaligus. Prestasi itu menjadikan Chelsea sebagai klub yang difavoritkan sebagai juara musim berikutnya sekaligus kandidat untuk merebut gelar dalam kejuaraan antar klub Eropa seperti UEFA dan Champions.

Lalu, apa hubungan antara FC Porto dan Chelsea? Ada benang merah yang mengikat keduanya sebenarnya. Bagi penikmat bola tentu sudah paham yang saya maksud. Ya, kembalinya kejayaan kedua klub itu adalah berkat polesan pelatih yang sama, yaitu Jose Mourinho.

Mourinho menjadi pelatih Porto pada Januari 2002, disaat klub itu terseok-seok menapaki kerasnya kompetisi liga Portugal. Namun demikian, dengan sisa pertandingan yang masih ada, pelatih baru ini berhasil mendudukkan Porto ke peringkat 3 musim kompetisi tahun 2001/2002. Baru setelah memegang kursi kepelatihan selama satu musim penuh sejak 2002, tangan dinginnya berhasil membuat Porto kembali bersinar. Setelah berhasil mengantarkan Porto menjadi jawara Champions, Mourinho ditunjuk menjadi pelatih Chelsea pada Juni 2004, dua hari setelah pelatih sebelumnya yaitu Claudio Ranieri ditendang dari Stamford Bridge, markas Chelsea. Sejak itu, strategi briliannya terus menggoyang panggung kompetisi liga Inggris yang terkenal sangat keras. Arsenal, Manchester United, dan klub-klub papan atas lainnya terpaksa mengakui ketangguhan Chelsea dan tampuk juara liga akhirnya jatuh ke klub milik Roman Abramovich yang juragan minyak asal Rusia itu.

Dengan prestasinya sebagai pelatih yang sedemikian fantastis itu, apakah Mourinho dulunya juga seorang pemain yang hebat? Karena, sejarah mencatat bahwa Zico, Franz Beckenbauer, Johan Kruyff, Bobby Robson, Carlos Alberto Pereira adalah pelatih – pelatih jempolan yang dulunya adalah para pengocek bola yang sangat berbakat dan terkenal di jamannya. Ternyata, meskipun Jose Mourinho adalah anak dari penjaga gawang terkenal Portugal yaitu Felix Mourinho, dia sama sekali bukanlah jago bermain bola. Dari awal, dia justru lebih tertarik pada karir sebagai pelatih sepak bola.

Karir Mourinho dalam kepelatihan dimulai pada awal 1990-an dengan mendampingi Sir Bobby Robson di klub Sporting Lisbon. Bukan sebagai asisten pelatih tapi sebagai penerjemah. Meskipun hanya penerjemah, Mourinho banyak belajar dan menimba pengetahuan kepelatihan sepakbolanya dari Bobby Robson. Bahkan dia pun kembali menyertai pelatih asal Inggris itu ketika pindah ke FC Porto di tahun 1993, yang berhasil mengantarkan Porto meraih dua gelar juara liga dalam 3 tahun.

Ketika Robson pindah melatih ke Barcelona tahun 1996, Mourinho juga ngikut. Kali ini bukan sebagai penerjemah, tapi sebagai asisten pelatih! Posisi nomor dua ini tetap dipegangnya meskipun Robson pindah lagi pada tahun berikutnya digantikan oleh Louis van Gaal yang berasal dari Belanda. Tahun 2000, Mourinho menjadi pelatih di Benfica. Karena ada masalah manajemen, dia hanya sempat melatih sampai 9 pertandingan saja. Setelah itu, Mourinho sempat melatih klub Uniao de Leiria yang kurang terkenal dan menjadikannya menduduki kursi nomor 5 liga Portugal tahun 2001/2002, sebelum akhirnya menjadi pelatih FC Porto.

Jose Mourinho kini telah menjadi pelatih muda yang paling dihormati di Eropa. Padahal dia dulunya bukan pemain profesional yang hebat, tapi hanyalah seorang PENERJEMAH!!

Yang menarik dari kisah seorang bernama Mourinho ini adalah, dia mampu memanfaatkan kemampuannya untuk menambah bekal yang dibutuhkannya dalam mencapai cita-citanya. Dengan skill bahasa Inggrisnya, dia banyak belajar masalah kepelatihan secara intens langsung dari salah satu dewa sepak bola Inggris yang bernama Bobby Robson. Meskipun saya tidak yakin dia mahir melakukan tendangan pisang seperti David Beckham, tapi saya yakin dengan kemampuan Mourinho untuk mengkombinasikan karakter dan kemampuan para pemainnya sehingga menjadi sebuah tim yang solid dan dapat bermain cantik.

Pesan yang ingin saya sampaikan dari kisah Jose Mourinho adalah bahwa kemampuan berbahasa asing merupakan senjata yang luar biasa. Tapi hal ini kembali kepada si pemilik senjata itu sebenarnya, mau menggunakannya dengan optimal ataukah hanya sekedar mampu berbahasa asing saja. Ujung – ujungnya adalah “the man behind the gun”, kata orang bule. Beberapa manfaat dari kemampuan berbahasa asing tersebut adalah, pertama, kita dapat menjadikan bahasa asing itu sebagai bekal utama dalam berkarya atau dalam kata lain mencari nafkah. Tentu saja kita harus profesional betul dan menyadari beban tanggungjawab posisi kita tersebut. Apakah profesi penerjemah ini tidak prospektif? Wah, jangan salah ye. Ada alumni Jepang yang saya kenal, setelah capek muter – muter jadi manajer di beberapa perusahaan manufaktur, dia malah banting stir bekerja paruh waktu (freelance), yaitu sebagai translator & interpreter profesional. Dengan waktu yang jauh lebih fleksibel dibanding pekerjaan sebelumnya, akumulasi gaji per bulannya pun tidak jauh beda bahkan terkadang lebih dibandingkan dengan gaji manajer, katanya memberi alasan kenapa ganti profesi.

Kedua, kita dapat pula mengembangkan kemampuan bahasa asing tidak sekedar sebagai gantungan utama, tapi sebagai alat untuk belajar sesuatu dalam meraih apa yang menjadi cita-cita kita. Mourinho memberi kita pelajaran yang sungguh sangat berharga. Bahkan, ketika restorasi Meiji pada awal abad ke – 20 yang berhasil mengakselerasi Jepang menjadi bangsa yang maju, peran para penerjemah sungguh luar biasa. Merekalah yang bekerja keras menerjemahkan literatur – literatur asing ke dalam bahasa Jepang, sehingga Jepang dapat belajar banyak dari kemajuan yang dicapai oleh bangsa – bangsa Barat. Bahkan sampai saat ini pun, bila ada buku – buku bermutu dalam bahasa Inggris yang baru terbit misalnya, edisi bahasa Jepangnya akan dapat kita temui mungkin dalam waktu kurang dari sebulan.

Samarinda, April 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: