Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

TOL dan Kemanusiaan

Posted by imambudiraharjo on March 13, 2009

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi salah satu engine parts untuk kendaraan roda empat. Produk yang kami hasilkan bersifat OEM dan dikirim ke beberapa fabrikan otomotif Jepang yang produknya banyak berseliweran di jalan. Namanya juga pemasok industrial goods yang barangnya tidak beredar bebas di pasaran, sudah tentu banyak hal yang dikontrol oleh para pelanggan.

Di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, biasanya ada ekspatriat yang tugasnya antara lain adalah mendampingi staf lokal dalam mengkoordinasi pekerjaan di satu departemen atau divisi, dan menjadi penghubung dengan induk perusahaan di Jepang. Sedangkan staf lokal lebih banyak mengerjakan pekerjaan operasional, termasuk berhubungan dengan para pemasok. Orang – orang inilah yang menerjemahkan kebijakan yang digariskan oleh pihak perusahaan dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan dari Jepang sono melalui para ekspatriat tadi. Nah, di sini saya ingin berbagi cerita menarik tentang suasana penerjemahan bahasa target tadi, yang terkadang kaku tanpa mau tahu kondisi yang dihadapi oleh pemasok. Kalau suatu hal yang menunjukkan karakter yang biasa muncul pada manusia disebut dengan humanistik, maka boleh lah saya sebut kekakuan tadi sebagai robotistik πŸ™‚

Suatu waktu, ada episode seperti ini:

Pelanggan: Pak, tahun ini saya kasih target cost down x%. Bisa nggak ya?

Pemasok: Gini Pak, kami sudah kasih harga yang kompetitif utk barang yang dikirim ke Bapak. Kami ngitung – ngitung bla … bla … bla …

Bla … bla … bla …

Bla … bla … bla …

Jadi, tolong pahami kondisi kita Pak.

Pelanggan: Tapi, x% bisa kan Pak!?

Gubrakkk!!! Ngomong berbusa – busa ternyata cuma angin lalu yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Episode – episode yang lain pun tidak jauh beda suasananya. Penjelasan ngalor ngidul ternyata ujung – ujungnya ditembak pertanyaan: tapi x% bisa kan Pak!? ; tapi tanggal H bisa kan Pak!? ; tapi xyz bisa kan Pak!?; dsb.

Namanya negosiasi kok ujung – ujungnya memaksa. Dan ternyata, saya baru ngeh kalau ada varian baru dalam bahasa nego. Jika C++ adalah Object Oriented Language (OOL), maka bahasa yang muncul dalam kebanyakan episode nego tadi adalah TARGET ORIENTED LANGUAGE alias TOL!!! Cirinya? Gak peduli pemasok ngoceh apa, yang penting target kecapai.

Yang sewot dengan sikap nggak gentle tadi ternyata bukan cuma saya, tapi juga bos saya yang orang Jepang. Dan dari beberapa kali ngobrol dengan teman – teman pemasok yang lain, ternyata keluhannya tidak jauh berbeda.

Saya paham kalau yang ada di benak para staf lokal itu adalah memenuhi target yang dibebankan oleh manajemen. Ngejar target sih boleh – boleh saja. Yang jadi masalah adalah etika dalam negosiasi itu, yang membuat pemasok justru malah terasa terintimidasi. Jika salah satu pihak tidak nyaman dengan kondisi demikian, maka istilah co-existence & co-prosperity yang selama ini didengungkan terkait hubungan pelanggan & pemasok hanya akan jadi slogan kosong belaka.

Saya pribadi lebih enjoy melakukan negosiasi langsung dengan ekspatriatnya. Meskipun mereka juga berusaha mencapai target yang ditetapkan, tapi mereka mau mendengarkan dan memahami kondisi yang ada di pemasok. Pernah pada saat negosiasi, pelanggan menentukan pengurangan harga sebesar x%. Tapi kami keberatan karena sebenarnya harga yang diberikan ke mereka pun sudah dikurangi, dengan pertimbangan bahwa produk yang menggunakan barang yang kami suplai itu sangat prospektif ke depannya. Kemudian, anjloknya nilai tukar rupiah menyebabkan kewajiban jangka panjang dalam mata uang asing begitu menguras laba operasional kami, sehingga laba bersih menjadi minus alias tekor. Menariknya, ekspatriat tadi akhirnya menurunkan targetnya, dengan memberikan komentar bahwa yang penting ada upaya cost down berapa pun besarnya. Lucu kan!? Staf lokalnya begitu ngotot, sedangkan bosnya malah fleksibel. Saya dengar dari atasan saya yang orang Jepang, bahwa seperti itulah suasana negosiasi bisnis di Jepang. Yang ingin dicapai adalah sama – sama happy, supaya jalinan bisnis tetap langgeng.

Dari teman yang pemasok salah satu fabrikan kendaraan roda dua, kondisinya jauh lebih parah katanya. Bila ada kenaikan material dari pemasok, persetujuan harga baru bisa molor sampai 6 bulan. Tapi bila pelanggan ingin implementasi cost reduction, harga dari pemasok langsung dipotong secara sepihak tanpa ba bi bu. Ujung – ujungnya, yang berantem adalah para staf lokal dari pihak pelanggan dan pemasok. Kalau sudah tidak ada titik temu, para ekspatriat yang akhirnya turun gunung.

Kalau dipikir – pikir, kok kita yang orang lokal ini jadi seperti pion kepentingan bisnis orang asing ya!? Kayaknya mantera β€œtarget” tadi begitu menyihir benak terutama kalangan staf lokal di pihak pelanggan, sehingga etika bisnis menjadi terkesampingkan. Memang pencapaian target akan berujung pada employee appraisal, yang akan berdampak pada karier. Tapi buat saya, apalah artinya karier menanjak dengan menekan pemasok. Sama artinya kita menyuruh mereka untuk mengumpat dan mencaci maki diri kita sendiri … alias mendoakan keburukan buat kita sendiri. Atau, apakah bahasa binatang kapitalisme adalah Target Oriented Language (TOL)? Yang fasih mengucapkannya akan mendapat carrot atawa karier menanjak, sedangkan yang tidak, akan menerima pentungan stick alias karier mentok. Jangan – jangan, bahasa tadi memang sengaja dirancang untuk melanggengkan mental inlander yang pintar bahasa Inggihis? Inggih ndoro, inggih tuan. Siap, laksanakan target.

Kalau memang demikian, yang hati – hati saja. Keseringan lewat jalan TOL bisa – bisa ngguling rasa kemanusiaannya. β€œKerja itu nggak perlu pake hati!”, kata salah satu manajer yang saya kenal di salah satu perusahaan. Nah, lo!!!

Serang, 13 Maret 2009

Disclaimer: tulisan ini adalah unek – unek saya pribadi, tidak berhubungan dengan perusahaan tempat saya bergabung saat ini. Pelanggan adalah anonymous, tidak menunjuk ke perusahaan tertentu.

One Response to “TOL dan Kemanusiaan”

  1. In fact no matter if someone doesn’t know after that its
    up to other visitors that they will help, so here it occurs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: