Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Kecap Pemilu dan Petruk

Posted by imambudiraharjo on March 24, 2009

Pemilu sebentar lagi. Seperti biasa, hingar bingar para caleg untuk mempromosikan diri sebagai kecap nomor satu semakin terasa saja di sekitar kita. Bahkan di daerah tempat tinggal teman saya, yaitu di desa X, kabupaten Y, propinsi Z, fenomena kroniisme kecap berceceran di mana – mana menebarkan bau yang kurang sedap. Walah, apaan tuh?!

Gini … ini cerita tentang keluarga kecap. Yang jelas, ada ki dalang yang menentukan akting para kecap lain. Ada neng dan kang kecap yang sudah jadi pejabat daerah, sementara beberapa mantu lakinya nyalon jadi anggota dewan. Generasi kedua juga tidak mau kalah lo. Ada yang mencalonkan diri sebagai anggota perwakilan daerah, ada pula yang nyaleg untuk tingkat kota. Pokoknya, copy and paste abis dengan keluarga Cendana waktu jaman dahulu kala. Ya diharap maklum, soalnya sama – sama dibesarkan di bawah pohon rindang yang sekarang sudah mulai menua. Cuma bedanya, kalau episode yang dulu adalah cerita Rambo kulit coklat yang pamer bedhil dan obral peluru, tapi kalo yang sekarang selalu menggantungkan kelewang di kolor celana. Yah, gak perlu pinter – pinter lah, modal sajam ternyata juga bisa kaya, jadi pejabat, dan titel berderet (yang nggak jelas dapat dari mana).

Demi melihat lelucon ini, saya jadi teringat bahwa di pewayangan ada cerita “Petruk Dadi Ratu” alias Petruk jadi raja. Petruk adalah salah satu anggota punakawan, disamping Semar, Gareng, dan Bagong, yang tugasnya adalah melayani para ksatria. Coba Anda bayangkan, apa jadinya kalau seseorang yang seumur – umur jadi pelayan tiba – tiba berubah menjadi seorang petinggi kerajaan? Tentu dia akan shock berat dengan segala fasilitas dan kewenangan yang dipegangnya. Sudah dipastikan, jurus dewa mabuk bakal menjadi andalan untuk mengurus pemerintahan, dan ilmu babi adalah gacoannya untuk bersenang – bersenang memperbesar perutnya. Belum lagi sikap arogan, merasa diri lebih pintar, dan rakus karena selalu merasa kurang juga akan semakin membumbui penampilannya yang bikin orang tambah eneg saja melihatnya. Inilah episode kehidupan si Petruk yang dikisahkan dalam cerita wayang tersebut.

Sebenarnya yang jadi masalah bukan pada status sosialnya yang pelayan itu, tapi pada pola pikirnya. Mindset itulah yang sesungguhnya menjadi penopang utama mobilitas sosial seseorang. Betapa banyak kita jumpai orang yang awalnya serba kekurangan namun sukses pada akhirnya dengan semangat belajar dan bekerja yang luar biasa. Tapi fenomena si Petruk ini tidak demikian! Karena tidak punya bekal intelektual dan spiritual yang memadai, dia tidak kuat dengan beban kekuasaan yang diterimanya dan akhirnya meng”gila”.

Kalau dipikir lebih jauh, fenomena keluarga kecap di atas ternyata paralel dengan kisah Petruk. Keberadaannya hanya akan merusak tatanan masyarakat sebagaimana cerita Orde Baru yang berhasil melakukan pembangunan fisik di mana – mana tapi juga sukses merusak mental dan karakter bangsa secara bersamaan. Argumen pesta demokrasi yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, ternyata diterjemahkan secara keliru dengan siapa saja yang mampu (membayar) boleh mencalonkan diri jadi pemimpin.

Ah, saya jadi terkenang dengan bait ke – 7 dari Serat Kalatidha karya Ronggowarsito, salah seorang pujangga Keraton Surakarta yang dulunya adalah santri Kyai Ageng Hasan Besari di pondok Tegalsari, yang merupakan cikal bakal pondok pesantren Gontor.

Amenangi jaman edan
Menyaksikan zaman gila

Ewuh aya ing pambudi
Serba susah dalam bertindak

Milu edan nora tahan
Ikut gila tidak akan tahan

Yen tan milu anglakoni
Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Boya kaduman melik
Tidak akan mendapatkan bagian

Kaliren wekasanipun
Kelaparan pada akhirnya

Ndilalah karsa Allah
Namun telah menjadi kehendak Allah

Begja-begjane kang lali
Sebahagia-bahagianya orang yang lalai

Luwih begja kang eling lawan waspada
Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: