Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Membedah Kucing Islam Liberalis

Posted by imambudiraharjo on March 25, 2009

Beberapa waktu belakangan, telinga umat Islam di Indonesia sering diganggu oleh suara berisik dari beberapa kucing birahi (meminjam istilah Haidar Bagir) berlabel Islam Liberal, yang mengeong keras – keras sambil berlari tak karuan menabrak pagar pembatas rumah Islam. Namanya juga lagi birahi, tentunya dorongan emosi lebih kuat menguasai dirinya dibandingkan nalar, meskipun di antara para kucing itu ada yang memiliki kelebihan secara intelektual. Bahkan beberapa di antaranya sudah menghirup atmosfer pesantren sejak bayi merah, yang kemudian mengecap pendidikan agama sampai dewasanya. Tidak mengherankan bila mereka – mereka ini jago dalam mengutip berbagai pendapat ulama salaf (ulama terdahulu dari umat Islam) untuk menguatkan argumentasinya, terlepas dari keabsahan penafsiran mereka atas pendapat para ulama tersebut.

Pendapat yang mereka suarakan memang sangat mengganggu, karena sumbang dalam menyampaikan ajaran Islam yang benar. Mengherankan memang, karena banyak di antara mereka yang lahir dari rahim pesantren tapi malah kemudian berbalik menggugat dan menyerang agamanya sendiri dengan mengatasnamakan kebebasan penafsiran. Secara mudahnya, mereka berangkat dari asumsi bahwa ajaran Islam dianggap stagnan dan sudah tidak kompatibel dengan perkembangan jaman, yang diakibatkan oleh sudah ditutupnya pintu ijtihad. Karena itu, tidaklah aneh bila para ulama salaf terkemuka pun juga dicaci maki dan dituduh secara serampangan sebagai biang penyebab mandegnya dinamika ajaran Islam.

Menarik untuk mengkaji lebih jauh kesahihan asumsi dan tuduhan tersebut. Dulu saya punya tetangga yang pernah nyantri langsung dengan KH Ali Maksum di pondok Al-Munawir, Krapyak, Yogya. Kyai yang satu ini termasuk salah satu tokoh di NU, terkenal sebagai pakar fikih & ushul fikih yang mumpuni. Tetangga saya yang murid kyai Ali Maksum itu berpendapat bahwa pintu ijtihad tidak pernah ditutup. Kalau kesannya seolah – olah tertutup, hal itu lebih disebabkan oleh belum muncul laginya orang – orang yang memiliki kunci untuk membuka pintu ijtihad tersebut.

Berangkat dari pendapat ini, alangkah baiknya jika kita pelajari kembali kualitas keilmuan salah satu saja dari para ulama salaf, untuk kemudian dibandingkan dengan kapasitas orang – orang yang berkoar ingin mendekonstruksi ajaran Islam itu. Dan disini saya ingin menampilkan satu sisi dari sosok Imam Syafi’i rahimahullah, seorang ulama yang sering ditembak oleh para Islam liberalis sebagai peletak batu kejumudan umat Islam.

Imam Syafi’i adalah salah seorang dari empat imam mazhab yang yatim sejak lahir dan tumbuh serta besar di Mekah, dibawah asuhan sang ibu. Secara intelektual, beberapa keistimewaannya yang tercatat dengan baik adalah kemampuannya menghafal Al-Qur’an di luar kepala pada usia tujuh tahun, mampu menghafal kitab Hadits Al Muwathta’ karya Imam Malik bin Anas pada usia sepuluh tahun, dan beliau diberi wewenang berfatwa pada umur 18 tahun oleh gurunya yang mufti Mekah saat itu. Beliau ini sangat gemar menuntut ilmu dari para guru yang tersebar di Mekah, Madinah, Baghdad, Yaman, dan tempat lain. Dan yang perlu diingat bahwa imam yang satu ini sangat tinggi integritasnya, karena tidak pernah meminta – minta biaya dari pihak mana pun jika kehabisan uang untuk pergi berguru. Selain masalah keilmuan, Imam Syafi’i juga orang yang tekun beribadah. Sudah menjadi kisah yang masyur bahwa beliau sanggup mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan, ataupun sholat subuh dengan wudhu sholat isya dikarenakan di antara kedua waktu itu beliau mengajarkan ilmu agama dan sholat tahajud.

Dengan demikian, di dalam diri Imam Syafi’i terdapat keseimbangan antara aspek intelektual dan spiritual, dimana ilmu dan amal berjalan beriringan dan saling menguatkan. Integritas yang melekat di dalam dirinya juga membebaskan sang imam untuk menyampaikan fatwa tanpa ada tekanan maupun paksaan dari pihak mana pun. Satu lagi, soal akhlak. Beliau pernah mengucapkan kata – kata hikmah: “Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqah kepada Allah”. Dengan kombinasi perilaku dan karakter yang demikian, pantaslah kiranya Imam Syafi’i memiliki kunci yang tepat untuk membuka pintu – pintu ijtihad dalam persoalan agama. Dan karya – karya beliau seperti Ar-Risalah di bidang ushul fikih dan Al-Umm di bidang fikih menjadi sangat berbobot dan menjadi rujukan yang otoritatif di bidangnya sampai saat ini.

Sekarang kita beralih ke orang – orang yang bangga menyebut dirinya sebagai Islam liberalis. Dari berbagai sumber, ternyata kebanyakan dari mereka ini bermasalah dalam segi akidah yang notabene merupakan persoalan paling mendasar dalam Islam. Banyak persoalan akidah yang mapan dan final di dalam ajaran Islam sering digugat dan dipertanyakan oleh kaum liberal. Oleh karena itu, tidaklah aneh bila hal – hal nyeleneh seperti bolehnya Muslimah menikah dengan non Muslim, persamaan pembagian harta waris antara laki – laki dan perempuan, serta pembolehan homoseksual/lesbian menjadi barang asongan yang sering dijajakan dalam wadah sekulerisme, pluralisme, liberalisme agama.

Disinilah masalahnya. Hafal luar kepala 1000 macam kitab kuning sekalipun, tapi kalau hal – hal yang pokok dalam agama masih bermasalah, tentunya tidak pantas untuk disebut sebagai pembaharu. Sebab agama bukan hanya soal pemenuhan syahwat intelektual semata, tapi juga terkait dengan amal, baik lahiriah maupun batiniah. Inilah rantai yang terputus tentang pemahaman ijtihad dari Islam liberalis, dimana rasionalitas diletakkan di atas spiritualitas. Yang kemudian menambah masalah adalah, rasionalitas tersebut dibingkai dengan pandangan hidup Barat yang sekuler. Jadi jelas saja, apa – apa yang dikampanyekan oleh kaum liberal itu tidak jauh berbeda dengan agenda yang telah, sedang, dan yang akan diusung oleh Barat. Hanya saja, Islam liberalis kemudian mengais – ngais dalil agama untuk memberikan pembenaran atas klaim agenda itu. Dan nampak jelas bahwa mereka ini hanya menjalankan pesan sponsor, sehingga integritasnya pun layak dipertanyakan. Karena itu, kita sungguh prihatin dengan apa yang tertulis dalam buku “Fiqih Lintas Agama” terbitan Paramadina yang mencela Imam Syafi’i secara arogan. Dalam buku itu ditulis: “Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat Imam Syafi’i. Kita lupa, Imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya. Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash Syar’i (Al-Quran dan hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i.”

Kalau dikaji dan dibandingkan secara jujur mengenai kapasitas para ulama salaf dengan kalangan liberal, ungkapan di atas secara tidak langsung malah membuka borok mereka sendiri. Imam Syafi’i mampu membuka pintu ijtihad karena memiliki kuncinya, yang diperoleh dengan susah payah, penuh perjuangan, dan banyak memohon petunjuk kepada Allah. Sementara kaum liberal, perjalanan mereka malah berangkat dari menggugat hukum – hukum Allah dan menyandarkan diri pada Barat sehingga pantas saja kuncinya tidak pernah mereka peroleh. Parahnya, Imam Syafi’i kemudian dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan mereka dalam memecahkan persoalan umat.

Kalau kisah kaum liberal ini diurutkan, maka nampak bahwa para mantan santri tersebut sebenarnya memiliki bekal keilmuan yang memadai, namun kurang dari segi amaliah yang diakibatkan tidak seimbangnya aspek intelektual dan spiritual. Mereka kemudian dihadapkan pada kenyataan bahwa umat Islam sedang mundur sekarang ini. Dengan kacamata superioritas intelektual tadi, kacamata mereka hanya melihat bahwa keterbelakangan umat disebabkan oleh sikap eskapis umat dalam menghadapi realitas dan lebih banyak berkutat pada aktivitas keagamaan yang terbingkai pada ajaran yang sudah mapan. Di satu sisi, meskipun banyak belajar pemikiran Islam klasik, tapi mereka sebenarnya tidak mampu mengelaborasi lebih jauh esensi pemikiran para ulama salaf, sehingga begitu terpana dengan wacana – wacana pemikiran yang berkembang Barat yang menghasilkan peradaban yang mendominasi dunia saat ini. Pandangan distortif tadi akhirnya memberikan kesimpulan bahwa untuk maju, ajaran agama harus didekonstruksi menyesuaikan perkembangan jaman. Dan karena yang maju (secara fisik) sekarang adalah Barat, maka ajaran agama harus disesuaikan dengan wacana yang berkembang di Barat. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa Barat sendiri memiliki kepentingan untuk mengamankan hegemoninya terhadap belahan dunia yang lain. Dengan demikian, ketemulah kepentingan kaum liberal tadi dengan pihak Barat, ibarat botol menemukan tutupnya. Tidaklah mengherankan bila dana jutaan dolar banyak digelontorkan untuk menyukseskan program sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme agama.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit yang menjangkiti kalangan Islam liberalis adalah MORAL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: