Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Kick Andy 1 (Dari Buruh ke CEO)

Posted by imambudiraharjo on April 6, 2009

Meskipun timing-nya terlambat, tapi tak apalah. Toh berbagi suatu hal yang baik tidak pernah mengenal kata telat kan🙂 Begini, di bulan Maret 2009 yang lalu, ada dua hari Minggu yang membuat hati saya begitu trenyuh sehingga sampai berulang kali menggumam: “Luar biasa”. Momennya sama – sama ketika nonton Kick Andy di Metro TV..

Kalau hari Minggu di tanggal 22 Maret perasaan saya diaduk – aduk oleh kisah Karmaka Surjaudaja yang seorang CEO emeritus Bank OCBC NISP, maka kejujuran seorang Hoegeng Iman Santoso yang mantan Kapolri gantian membuat hati saya berulang kali tercekat di hari Minggu tanggal 29 Maret lalu. Keduanya sama – sama hebat, ruaarrr biasa, dan sudah pasti – sebagaimana merek kecap Kick Andy🙂 – menginspirasi.

Dalam talkshow yang dimoderatori oleh wartawan berambut kriwil itu, diceritakan bahwa seorang Karmaka terlahir dari keluarga miskin, serta tumbuh dan besar di Bandung. Kerja keras yang dilakukannya sejak kecil untuk membantu ekoomi keluarga dengan berjualan kue – kue buatan sang ibu akhirnya membentuk karakter Karmaka muda dengan sikap yang tidak pernah mau menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Salah satu bagian yang sangat mengesankan buat saya pribadi adalah ketika dia mengisahkan pernah bekerja di sebuah perusahaan, dimana atasannya tidak menyukai dirinya dikarenakan prestasi kerja yang diraih. Karmaka sering diperlakukan tidak adil oleh sang atasan, dan bahkan akhirnya dipindahkan ke pekerjaan yang mengharuskan menggunakan mesin ketik, padahal dirinya tidak bisa mengetik. Dapat dibayangkan, akhirnya konditenya pun jelek. Karena tidak tahan dengan berbagai perlakuan buruk yang dialaminya, jalan yang ditempuh kemudian adalah mengundurkan diri. Ketika menceritakan hal itu, Karmaka terlihat menangis. Dan sambil menekan perasaannya, dia mengatakan bahwa pada saat merasakan pengalaman yang pahit itu, dia bertekad untuk tidak akan menindas dan akan memperlakukan karyawannya dengan baik seandainya memiliki perusahaan sendiri.

Jalan hidup kemudian menggariskan Karmaka menikah dengan anak orang kaya, putri seorang pengusaha yang merintis bank NISP. Dia pun akhirnya diminta untuk membantu mengurus bank punya mertuanya itu. Kerja keras, kesetiakawanan, dan perhatian dari Karmaka sangat membekas di hati para kolega dan karyawannya. Salah seorang kawannya yang hadir pada acara Kick Andy itu menceritakan bahwa jika kondisi pekerjaan mengharuskan karyawan lembur sampai larut malam sekali pun, Karmaka tidak akan pulang sebelum semuanya selesai. Sikapnya yang menganggap bahwa karyawan adalah bagian dari keluarga besarnya juga menyebabkan mereka betah bekerja sampai pensiun. Si kolega ini juga buka kartu bahwa dirinya pernah 5 bulan tidak menerima gaji. Namun demi dilihat semangat dan kerja keras dari sang pimpinan, dia pun ikut bersemangat dan bertekad untuk membantu memajukan perusahaan.

Satu episode mengesankan yang membuktikan tekad Karmaka untuk tidak menelantarkan anak buahnya adalah ketika terjadi krisis di tahun 50 an dan ketika meletus peristiwa G30S. Saat itu, situasi dan kondisi memaksa perusahaan melakukan rasionalisasi. Dan ketika langkah PHK diambil, Karmaka menangis sambil meminta maaf di hadapan karyawan yang terkena pemecatan, serta berkata akan berusaha mempekerjakan kembali bila kondisinya sudah membaik.

Bank NISP, yang saat ini bernama OCBC NISP, akhirnya berhasil menjadi salah satu bank terbesar di tanah air. Akan tetapi, kerja keras Karmaka dalam membesarkan bank itu bukan tanpa resiko. Selama 30 tahun lebih, dia berjuang melawan beberapa penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Penyakit hati (lever) yang dideritanya menyebabkan dia harus menjalani transplantasi hati. Masa menunggu donor yang bertahun – tahun pernah menyebabkan Karmaka putus asa dan berniat bunuh diri. Akhirnya takdir menentukan bahwa donor berhasil didapatkan keesokan hari setelah percobaan bunuh dirinya itu. Operasi cangkok hati pun berjalan sukses, dan Karmaka kembali bekerja seperti biasa. Meskipun demikian, perawatan pasca operasi yang mengharuskan dia menelan banyak obat – obatan justru mengganggu fungsi ginjalnya sehingga menyebabkan 1 buah ginjalnya pun terpaksa diambil. Dan ternyata, hidup dengan sebuah ginjal tidak menyurutkan langkah seorang Karmaka untuk terus bekerja.

Kisah sukses yang dibumbui dengan cerita yang mengharu biru dari seorang Karmaka tadi sungguh luar biasa. Tekad kuat untuk maju, berani bertanggung jawab, dan sikap positif setelah jatuhlah yang mungkin menjadi resep manjur untuk menghadapi masalah bagaimana pun sulitnya. Karena itu, tidaklah mengherankan bila Dahlan Iskan yang menulis biografi Karmaka memberi judul bukunya itu: Tidak Ada Yang Tidak Bisa.

2 Responses to “Kick Andy 1 (Dari Buruh ke CEO)”

  1. mansyf said

    stelah saya membaca buku “tidak ada yg tak bisa” yg mengisahkan sosok karmaka. sungguh sangat memotivasi saya.
    tapi sayang saya tidak sempat menonton tayangan nya d acara kick andy. dan
    bagi yang tau vidio tayangannya saya mohon di share..

    terimakasih..

    • jeffie firmansyah said

      Salam Hormat,
      Perkenalkan saya orang tua dari anak Raffi yang sudah lima tahun ini berobat di Rumah Sakit Harapan Kita karena menderita penyakit Cerosis Hati, Varises Esofagus, dan fundus, Hypertensi Portal. Penyakit tersebut terdeteksi saat Raffi berusia 5 tahun, kini usianya sudah 10 tahun. Dulu kami tinggal di Setiabudi Regency wing 3 namun rumah tersebut telah kami jual untuk membiayai pengobatan anak kami. Selama sakit Cerosis anak kami sudah 7 kali muntah darah dan buang air besar darah.anak kami juga mempunyai kelainan darah dimana sangat sulit untuk melakukan transfusi, ukuran limpa sudah sangat membesar. Raffi sudah berpuluh-puluh kali di endoskopi, sclerosing dan ligasi juga dua kali di biopsi.
      Pada tanggal 02 Juli 2012 Raffi kembali di endoskopi dan sclerosing dan Dokter pada saat itu memberitahu bahwa Raffi harus di transplantasi hati tentunyA dengan biaya yang sangat mahal, kami selaku orang tua dari raffi sudah kehabisan dana dan kami sudah tidak mampu untuk melakukan transplantasi untuk anak kami tetapi kami yakin semoga ada jalan untuk kesembuhan Raffi karena kami tidak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya. Dimana kakaknya Raffi anak sulung kami ketika berusia 12 tahun tepatnya Oktober 2010 meninggal dunia karena penyakit Anemia Aplastik yang pada saat itu harus melakukan cangkok sum-sum tulang belakang. Demikanlah sedikit cerita dari keluarga kami. Terima kaasih atas perhatiannya.
      Nama ayah : Jeffie
      Alamat : Jl. Purna Bakti 1 no.18
      Tlp : 08164207471
      Email : Raffi_firmansyah@rocketmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: