Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Kick Andy 2 (Kitab Kejujuran Yang Terselip di Mabes Polri)

Posted by imambudiraharjo on April 13, 2009

Jika kisah Karmaka adalah episode perjuangan dan kerja keras seorang wiraswastawan dalam membesarkan usahanya, maka kisah Hoegeng adalah goresan perjalanan seorang pelayan masyarakat yang keras dalam prinsip kejujuran dan memegang amanah. Betul – betul sebuah catatan yang sangat langka di negeri ini, yang membuat saya berulang kali menitikkan air mata ketika membacanya. Dan rasanya akan kurang bila drama seorang Hoegeng hanya berdasarkan apa yang disampaikan di Kick Andy. Untuk itu, tulisan ini juga akan menambahkan beberapa episode menarik lain dari kehidupan beliau yang dapat kita jadikan teladan, yang penulis ambil dari beberapa sumber.

Kejujuran Hoegeng yang pernah menjabat Kapolri periode 1968 – 1971 itu memang sangat terkenal, bahkan sampai – sampai Gus Dur pun gatel untuk tidak mengeluarkan banyolan mautnya: “Di kepolisian hanya ada 3 orang jujur. Yang pertama adalah Hoegeng, kedua patung polisi, dan yang ketiga polisi tidur.” Gueerrrr🙂

Prinsip kejujuran yang dipegangnya itu rupanya tidak hanya buat dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarganya. Saat Bung Karno mengangkatnya menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (Dirjen Imigrasi), Hoegeng meminta istrinya untuk menutup toko bunga di Jalan Cikini yang dikelola oleh istrinya itu. Ketika ditanya apa alasannya, dijawab olehnya bahwa karena besok akan dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi. Lho, apa hubungannya antara toko bunga dan imigrasi? Karena orang – orang yang berhubungan dengan urusan imigrasi akan membeli bunga di toko itu, dan ini merugikan toko – toko yang lain, lanjut Hoegeng. Dan sang istri pun akhirnya menutup toko bunga itu sesuai permintaannya. Mungkin sebagian kita akan sulit menerima sikap Hoegeng tadi. Bukankah berjualan adalah hak setiap orang? Tapi itulah sikap berhati – hati seorang Hoegeng, yang tidak mau terjebak pada perasaan balas budi terhadap orang yang berkeinginan mempermudah urusan perijinan dengan memanfaatkan usaha yang dilakoni istrinya. Satu hal lagi yang menurut saya luar biasa adalah perasaannya yang tidak mau usaha orang lain rugi karena persaingan yang mungkin menjadi tidak sehat terkait posisi barunya sebagai pejabat.

Cerita tentang Hoegeng yang tidak mudah disuap juga terjadi saat dirinya ditunjuk menjadi Kepala Reskrim Sumatera Utara tahun 1955. Dikisahkan oleh anak keduanya, Aditya Soetanto, ketika mereka sekeluarga tiba di Medan, rumah dinas ternyata telah terisi penuh oleh perabotan termasuk kendaraan. Tidak jelas siapa yang mengisinya karena mereka belum kenal dengan siapa pun di Medan waktu itu. Tapi Hoegeng tegas memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan barang – barang tersebut keluar rumah dalam waktu 2X24 jam, kecuali barang inventaris Polri. Belakangan diketahui bahwa yang mengirimkan barang – barang itu adalah salah seorang pengusaha di Medan. Sebagian orang pun mungkin juga akan mempertanyakan: “Apa salahnya menerima pemberian orang? Toh kita tidak memintanya.” Tapi tunggu dulu, ini bukan pejabat rakus mata duitan model birokrat korup bung! Sekali lagi, inilah Hoegeng, spesies pejabat langka yang mungkin sudah hampir punah di Indonesia, sebuah negara yang katanya masyarakatnya relijius itu.

Prinsip memegang amanah jabatan dari mantan Kapolri ini juga seharusnya menjadi perilaku yang harus kita teladani. Sebuah catatan kecil disampaikan oleh Reni Soeryanti, anak pertama Hoegeng, yang menceritakan bahwa dirinya paling susah jika berangkat sekolah bersama sang ayah. Kok bisa? Ya jelas saja, karena Hoegeng akan selalu turun dari kendaraan bila jalan yang dilewatinya macet, kemudian mulai mengatur lalu lintas sampai lancar. Ini tentunya akan makan waktu, dan mengakibatkan anak – anaknya terlambat sekolah. Ketika ditanyakan kenapa seorang Kapolri harus turun ke jalan mengatur lalu lintas, dijawab oleh Hoegeng bahwa polisi adalah pelayan masyarakat yang harus selalu siap melayani masyarakat yang membutuhkan kapan saja! Coba kita bandingkan dengan perilaku para pejabat yang lain, baik dulu maupun sekarang. Kalau lewat jalan raya, justru malah membikin macet karena mendapat prioritas lewat duluan. Bahkan ada yang bikin kecelakaan segala karena pengawalnya berhenti mendadak.

Kejujuran dan integritas Hoegeng juga tercermin dalam sikapnya yang profesional. Pemberhentiannya sebagai Kapolri oleh Presiden Suharto sampai saat ini masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab dengan tuntas. Akan tetapi, khalayak hanya bisa menduga bahwa hal itu terkait dengan ketegasan Hoegeng dalam mengusut kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan salah seorang pengusaha terkenal yang dekat dengan Pak Harto. Dan ketika dirinya ditawari untuk menjadi duta besar di Belgia setelah pencopotannya, Hoegeng pun menolak dengan alasan bahwa dirinya dididik untuk menjadi seorang polisi. Beliau pun akhirnya memilih pensiun dari dinas kepolisian dalam usia yang relatif muda, yaitu 49 tahun.

Membaca kisah Hoegeng ini, mungkin ada di antara kita yang menggumam: “Kok ada ya model pejabat macam ginian di Indonesia!?” Dan terus terang saya pun juga demikian. Tapi saya yakin, prinsip tadi tidak muncul dengan sendirinya. Pastilah ada proses internalisasi nilai yang dialami oleh Hoegeng sejak kecil. Dan ternyata faktanya adalah ayah Hoegeng adalah seorang pejabat yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, pernah mendirikan rumah penampungan untuk orang – orang miskin dan terlantar. Hoegeng kecil sering diajak oleh ayahnya menyambangi rumah penampungan itu. Kemudian pada suatu saat, sang ayah membisikinya: ”Kelak, bila kau jadi orang berpangkat dan berkuasa, ingatlah: kekuasaan itu laksana pedang bermata dua.” Inilah kedahsyatan penanaman nilai sejak dini, yang membuat orang memiliki prinsip yang tidak gampang mabuk diombang – ambing oleh gemulai goyangan korupsi, kolusi, nepotisme, dan berbagai kebejatan moral lainnya.

Dalam pola penanaman nilai sejak dini itu, keluargalah yang sesungguhnya memegang peranan yang sangat besar. Sehebat apa pun pendidikan moral yang diajarkan di sekolah, hal itu tidak akan berdampak banyak pada perilaku anak didik bila di rumah tidak mendapatkan bimbingan yang serupa. Tidak sulit membuktikan hal ini. Kita semua tentu pernah diwajibkan mengikuti penataran P4 sewaktu sekolah dulu, yang bertujuan baik yaitu untuk memahami dan menghayati nilai – nilai luhur Pancasila. Tapi tidak sedikit alumni penataran itu yang di kemudian hari menjadi tawanan KPK karena korupsi atau suap yang dilakukannya. Sering pula kita diperdengarkan oleh jargon gerakan disiplin nasional, tapi tidak jarang pula kalau mengantri sesuatu harus sambil mengumpat karena banyak yang berebut dan tidak mau mengalah. Apanya yang salah dengan program – program itu? Gampang saja. Karena nilai – nilai yang diajarkan atau digembar – gemborkan itu hanya sebatas pengetahuan yang tidak mendorong kepada suatu tindakan. Kalau ditanya lebih lanjut, kenapa? Ini juga tidak sulit menjawabnya: Karena tidak adanya keteladanan. Ya jelas saja, lha wong yang menatar P4 maupun pelaksana gerakan apa pun namanya itu, kebanyakan adalah pelanggar pertama dari apa yang mereka sampaikan!

Akhirnya, demi mendengarkan kisah Hoegeng Iman Santoso itu, saya teringat akan salah satu perkataan mulia yang keluar dari manusia paling mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW:

Dari Abu Hurairah R.a. Rasulullah Saw bersabda : Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan (pertolongan) Allah, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan (pertolongan) Allah SWT, yaitu :

  • Pemimpin yang adil.
  • Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah.
  • Seseorang yang hatinya selalu ingat atau tertaut dengan mesjid.
  • Dua orang yang saling mencintai karena Allah dan keduanya bertemu dan berpisah karena Allah.
  • Seseorang laki laki ketika dirayu oleh wanita cantik dan kaya, lalu ia berkata “sesungguhnya aku takut kepada Allah (sehingga meninggalkan perbuatan tersebut).
  • Seseorang yang mengeluarkan shodaqoh / sedekah secara sembunyi sembunyi sehingga tangan kirinya atau tetangganya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
  • Dan seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi dan kedua matanya mencucurkan airmata.

(HR. Bukhori – Muslim)

Mudah – mudahan Hoegeng Iman Santoso termasuk dalam kategori nomor satu di atas. Amin.

2 Responses to “Kick Andy 2 (Kitab Kejujuran Yang Terselip di Mabes Polri)”

  1. indarto said

    saya percaya Mas Imam mirip dengan Hoegeng…

  2. danni said

    saya harapkan semua pimpinan dapat menyontohnya..,
    terima kasih.,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: