Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Antara Jambu Bangkok, Gay, dan Sekularisme

Posted by imambudiraharjo on April 22, 2009

Bulan Februari 2009 lalu saya mendapat tugas dinas ke salah satu pelanggan kami di Thailand. Ini adalah kunjungan saya yang kedua ke negeri gajah putih itu. Dan seperti pada kesempatan yang pertama sebelumnya, kembali saya terkagum dengan infrastruktur jalan yang lebar dan mulus serta fasilitas transportasi yang nyaman di sana, baik dari bandara Suvarnabhumi ke pusat kota Bangkok, maupun dari Bangkok ke lokasi pelanggan kami yang kebetulan berada di luar kota. Meskipun Bangkok terkenal dengan kemacetannya, tapi kondisinya tidak terus membuat kendaraan kita berhenti total selama berjam – jam. Ini karena macet di sana adalah macet teratur yang kendaraan satu sama lain tidak serudak seruduk macam Metromini di Jakarta.

Thailand adalah salah satu monarki paling makmur di dunia. Bahkan pada bulan Agustus 2008, majalah Forbes menempatkan kerajaan Thailand sebagai monarki terkaya sedunia versi 2008, serta melaporkan bahwa kekayaan sang raja diperkirakan sebesar 35 miliar dolar. Melalui kekayaannya itu, Raja Bhumibol Adulyadej yang naik tahta di bulan Mei 1950 banyak menyalurkannya untuk proyek – proyek kerajaan di bidang ekonomi dan sosial di berbagai pedesaan di Thailand. Berbagai proyek pembangunan yang dilakukan atas inisiatif sang raja akhirnya menempatkan Thailand sebagai negara penghasil produk pertanian dan perkebunan terkemuka di dunia. Prestasi itu sudah tentu menambah karisma sang raja yang memang dianggap sebagai manusia setengah dewa, sehingga tidaklah mengherankan bila Raja Bhumibol begitu dihormati oleh seluruh orang Thailand. Selain raja yang fotonya bertebaran di mana – mana, orang Thailand juga banyak yang memakai kalung dengan gantungan kalung berupa gambar atau patung Budha.

Kebetulan pelanggan kami itu adalah salah satu produsen traktor – traktor pertanian. Di tengah situasi krisis global saat ini yang dampaknya banyak mengena para fabrikan otomotif utama dunia yang beberapa diantaranya juga pelanggan kami, ternyata penjualan mesin – mesin pertanian di Thailand tidak banyak terpengaruh. Bahkan mereka sedang merencanakan peningkatan produksi untuk mengantisipasi ekspor ke negara – negara tetangga seperti Vietnam dan Kamboja. Sungguh ironis bila dibandingkan dengan Indonesia, negara tropis yang segala macam tanaman dan buah – buahan ada di dalamnya. Masyarakat kita justru lebih mengenal dan mengapresiasi produk pertanian dan perkebunan yang nama belakangnya bangkok, seperti jambu bangkok, lengkeng bangkok, durian bangkok (monthong), pepaya bangkok, dan lain – lain. Padahal mungkin tidak banyak yang tahu bahwa dulunya Thailand banyak mengimpor bibit tanaman dari Indonesia untuk kemudian diadakan pemuliaan di sana. Dan akhirnya, produk serba bangkok dari tanaman unggul itu kembali ke Indonesia sebagai barang impor. Sangat disayangkan memang kondisi ini. Nggak jauh beda dengan berbagai komoditas lain yang dihasilkan dari bumi Indonesia ini, yang kita hanya pintar ekspor mentahannya saja dengan harga yang tidak seberapa tapi impor produk olahannya melulu yang jauh lebih mahal. Siapa lagi yang diuntungkan oleh kebijakan ngawur model ginian kalau bukan para pejabat culas dan cukong – cukong licik yang kerjanya cuma mengisap darah rakyat.

Ngomongin Indonesia yang serba salah urus memang nggak akan ada habisnya. Kalau begitu, sebaiknya kembali ke laptop😀

Selama kunjungan di Thailand baik yang pertama maupun kedua, saya tinggal di hotel di bilangan Silom road, distrik Bang Rak, Bangkok. Daerah ini terkenal sebagai pusat kegiatan keuangan, dimana kantor – kantor perusahaan besar seperti Charoen Phokpand Grup, Bangkok Bank, serta beberapa perusahaan asuransi dan sekuritas berlokasi. Tidak aneh bila kawasan ini pun sering disebut dengan Wall Street-nya Thailand. Aktivitas di daerah ini tidak pernah berhenti selama 24 jam. Jika malam hari berjalan ke arah Rama IV road, kita akan menemukan banyak orang berjualan cinderamata khas Thailand seperti kaos, gantungan kunci, tas, dan lain – lain. Bahkan jam imitasi merek – merek terkenal pun dapat kita jumpai dengan mudah di sini. Soal tawar menawar gak usah bingung. Si penjual biasanya akan menunjukkan harga barang dagangannya di kalkulator, dan kita tinggal mengatakan maunya jadi berapa. Night market itu terkonsentrasi di sekitar ujung Silom road, terutama di daerah yang disebut Patpong road dan Thaniya road yang juga terkenal dengan hiburan malamnya. Bahkan Thaniya road lebih dikenal sebagai Little Tokyo, mirip dengan Blok M di Jakarta sebelum kerusuhan 1998 lalu. Prinsip edan yang sering disebut work hard and play hard rupanya berlaku di sini, karena kawasan ini benar – benar menawarkan sarana pelampiasan syahwat setelah bekerja keras seharian.

Yang paling merepotkan buat saya ya saat akan membeli oleh – oleh. Gimana nggak risih kalau tiap kali muter – muter lihat barang, selalu saja disodori daftar vcd porno maupun iklan pijat spesial. Mending kalau mereka mundur setelah kita tolak. Yang paling menjengkelkan dan bikin dongkol itu yang maju terus pantang mundur menawarkan komoditas esek – esek tersebut, kemudian berkomentar “Are you gay?” begitu kita menolak terus. Celakanya lagi, kita malah ditawari menu gay setelahnya. Masya Allah, dunia memang sudah serba terbalik! Ah, saya baru teringat bahwa Thailand memang terkenal dengan bisnis najis itu. Meskipun Chiang Mai, Phuket, maupun Pattaya sebenarnya merupakan lokasi wisata dengan alam yang sangat indah, tapi yang muncul dalam imajinasi banyak orang justru malah konotasi jorok jika ketiga tempat itu disebut. Apalagi ditambah fakta bahwa Thailand adalah salah satu negara dengan populasi penderita AIDS terbanyak di dunia.

Demi membandingkan pembangunan yang berhasil diraih oleh Thailand dan kemajuan dalam industri syahwatnya itu, saya jadi berpikir: apakah kemajuan fisik berbanding terbalik dengan aspek moral? Suasana relijius di Thailand mirip dengan di Bali. Di Amerika atau Eropa pun, pengambilan sumpah jabatan seorang presiden, raja, atau perdana menteri juga menyebut nama Tuhan. Tapi nampaknya Tuhan hanya dikurung dalam ruang privat setiap orang dan tidak boleh tampil di muka umum, sehingga nilai – nilai spiritualitas itu cukup diartikan sebagai eling saja dan buat individu saja. Mungkin disini pokok masalahnya: nilai ketuhanan tidak mengejawantah dalam tindakan riil. Kalau sudah begini, dapat dipastikan bahwa tujuan dapat menghalalkan segala cara. Yang penting pertumbuhan ekonomi, penanaman investasi, dan seabrek parameter ekonomi kapitalisme lainnya dapat diraih. Oleh karena itu, dapat dipahami bila bisnis “lendir” seperti tersebut di atas pun sah – sah saja, toh itu demi melumasi roda aktivitas para binatang ekonomi itu sendiri. Mungkin ini yang dimaksud dengan ungkapan nyeleneh dari Ulil: sinergi antara energi kemaksiatan dan energi kesalehan. Na’udzubillah.

Pikir – pikir, mungkin inilah buah dari cangkok pemikiran yang memisahkan antara wahyu dengan proses pengaturan publik, atau yang beken disebut dengan istilah sekularisme.

2 Responses to “Antara Jambu Bangkok, Gay, dan Sekularisme”

  1. Azis H. said

    gak adil rasanya kalau membandingkan Bangkok dengan indonesia..bandingkan dengan jakarta saja..dari cerita di atas, bangkok dan jakarta bedanya tipis, tempat hiburan maksiat di jakarta juga banyak, dari yang kelas rendah sampai kelas atas, bisnis esek-esek dikemas lebih sopan dengan kanban bertuliskan “pijat urut tradisional”, yang lebih disayangkan dari negara tercinta ini adalah bahwa indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

  2. Lim Hansen said

    Benar, memang tidak adil jika membandingkan dengan Indonesia, krn tidak semua wilayah indonesia begitu, ketika saya pergi ke malay pun saya membandingkan kuala lumpur dengan jakarta, saya akui kuala lumpur rapi dan bersih, terus transportasinya enak banget, berbeda jauh dengan jakarta yang sumpek, kotor, banyak paku di jalanan sehingga ban motor saya kempes terus…T.T, Haduh pak gubernur please deh.

    Soal masalah esek-esek…jakarta juga banyak (sy bukan tukang “jajan”) tp saya tau lah tempat2 begituan..dan berharap semua bertobat, menekuni ajaran agamanya masing2 supaya yg muncul dr dalam diri adalah nilai2 rohaninya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: