Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Orang Yang Bisa Bekerja Adalah?*

Posted by imambudiraharjo on May 22, 2009

Di jaman sekarang, kondisi sosial kemasyarakatan, teknologi, sistem produksi, arus barang dan hal – hal lainnya sudah banyak mengalami perkembangan sehingga menjadikannya lebih rumit dari yang sudah – sudah. Dapat dikatakan bahwa menilai sesuatu hanya dari sisi “kerja keras” saja seperti pada saat pertumbuhan ekonomi tinggi Jepang beberapa waktu sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi pada saat ini.

Perubahan jaman juga sudah pasti akan mengubah konsep tentang “orang yang bisa bekerja”. Lalu, seperti apakah “orang yang bisa bekerja”? Atau dengan kata lain, orang seperti apakah yang dibutuhkan oleh kondisi jaman sekarang ini dan mungkin ke depannya? Di bawah ini adalah beberapa diantaranya:

1. Dapat menyimpulkan sesuatu dengan cepat.

Esensi bisnis adalah pada keputusan untuk melakukan “cut off”.

Cut off dalam hal ini adalah memutus atau menyetop sama sekali modal, waktu, dan tenaga yang selama ini    dicurahkan serta profit yang diharapkan terhadap bisnis yang sedang dijalankan. Jika dirasa bahwa bidang yang sedang digarap itu akan menurun atau beresiko jika dilanjutkan, maka cut off harus dilakukan tanpa pikir panjang lagi. Inilah trik bagi suatu perusahaan maupun karyawan untuk dapat lebih berkembang.

Mungkin salah satu pengalaman di Horiba Ltd dapat memperjelas maksud pernyataan di atas. Tim enjiniring Horiba Ltd pernah mengembangkan thermometer badan yang revolusional, yaitu dapat melakukan deteksi suhu tubuh melalui gendang telinga dengan memanfaatkan sensor infra merah. Produk ini benar – benar laku keras pada saat peluncurannya dulu. Nampaknya demi melihat animo konsumen terhadap barang tersebut, banyak perusahaan lain yang akhirnya ikut terjun dalam memproduksi thermometer itu.

Melihat kondisi yang demikian, Horiba Ltd akhirnya segera memutuskan untuk keluar dari bisnis itu. Horiba Ltd berani melakukan cut off meskipun mereka adalah yang pertama di bidang itu sehingga lebih menguasai teknologinya. Apalagi produk itu sendiri masih laku di masyarakat. Mengapa?

Kuncinya adalah pada hubungan berbalik nilai antara permintaan barang dan harga. Harga thermometer itu secara otomatis akan turun seiring dengan penggunaannya yang makin menjamur di masyarakat. Dan bersaing dengan perusahaan besar yang lebih menguasai know how produksi massal serta memiliki berbagai fasilitas, sangat tidak strategis bagi Horiba Ltd yang merupakan perusahaan modal ventura. Oleh karena itu, mereka memutuskan keluar dari bisnis thermometer gendang telinga tersebut.

Saat hal ini diputuskan, sebenarnya masih ada suara yang mengatakan supaya perusahaan tetap memproduksi barang tersebut beberapa saat lagi sebelum mundur dari bisnis tadi, karena produk itu masih laku. Akan tetapi, justru pada saat mendapat profit itulah kita harus keluar dari bisnis tersebut. Inilah yang dimaksud dengan cut off.

Ketika lingkungan bisnis berada pada masa menggelembungnya balon ekonomi, banyak perusahaan yang mendapat untung besar. Akan tetapi, banyak pula yang akhirnya gulung tikar ketika balon ekonomi meletus, karena tidak bisa melakukan cut off. Keinginan tanpa dasar yang kuat yang biasanya diekspresikan dengan ungkapan “tinggal sedikit lagi nih” justru malah menjerumuskan mereka ke liang kubur.

2. Dapat mengembangkan diri dengan mengubah kelemahan menjadi kelebihan

Ketika ekonomi dalam kondisi yang kondusif sampai beberapa waktu lalu, boleh dibilang keberhasilan masih dapat diraih dengan sedikit kerja keras. Oleh karena itu, “orang yang cepat menyerah” sering disebut dengan “pecundang” di dunia usaha. Akan tetapi, di tengah kondisi dimana ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan minus seperti sekarang ini, “cepat menyerah” belum tentu dapat diartikan sebagai “tidak bisa berbisnis”.

Justru senjata yang paling dibutuhkan dalam dunia usaha saat ini adalah kecepatan memunculkan berbagai inspirasi dan kekayaan ide, seperti tercermin dalam ungkapan “jika satu hal tidak prospektif, langkah berikutnya harus segera ditempuh sesegera mungkin”.

Dalam hal ini, “cepat menyerah” dapat pula diartikan sebagai “perubahan suasana”. Perubahan suasana yang cepat akan dapat mengurangi potensi kegagalan, karena akan dapat memunculkan ide – ide kreatif maupun respon yang fleksibel terhadap suatu masalah. Jadi, inilah “kelemahan” yang diubah menjadi “kelebihan”.

Kelemahan dan kelebihan dapat diibaratkan sebagai dua sisi dari sebuah uang logam. Kelemahan dapat diubah menjadi kelebihan sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu syarat penting untuk disebut sebagai “orang yang bisa bekerja”.

3. Dapat memutuskan sesuatu dengan segera di tempat itu juga

Untuk dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan cepat, diperlukan pembiasaan diri untuk selalu melakukan simulasi terhadap kondisi pekerjaan atau bisnis yang akan dihadapi. Dengan kata lain, jika kita terbiasa mensimulasi berbagai skenario masalah di kepala kita secara terus – menerus, maka pengambilan keputusan akan dapat dilakukan dengan lebih cepat. Skenario masalah disini misalnya adalah “jika kondisinya A, maka tindakannya adalah B”, atau “jika kondisinya C, maka tindakannya adalah D”, dan seterusnya.

Seseorang yang dapat segera memutuskan suatu hal dalam suatu negosiasi bisnis berarti dia sudah mempelajari terlebih dulu berbagai kemungkinan yang mungkin muncul dalam perundingan itu. Keputusan tepat yang dilakukan dengan segera tentunya akan meminimalisasi lepasnya peluang bisnis bila dibandingkan dengan keputusan yang disampaikan belakangan, misalnya dengan alasan bahwa materi negosiasi akan dibawa pulang lebih dulu untuk didiskusikan dengan pihak manajemen.

Bagi sebagian orang, keputusan yang cepat sering disalahartikan sebagai suatu ide yang muncul dengan tiba – tiba. Padahal, keputusan bisnis adalah anugerah dari pemasaran (marketing) yang dilakukan secara teliti dan serius.

4. Memiliki pola pikir dijital

Bila jarum jam analog selalu bergerak mengikuti waktu yang terus berputar, maka jam dijital hanya akan menampilkan hasilnya saja: sekarang jam berapa.

Sama halnya dengan perumpamaan kedua jam diatas, pemikiran yang turut memasukkan faktor proses disebut dengan “pola pikir analog”. Sebaliknya, yang berpikiran bahwa hasil adalah segalanya disebut dengan “pola pikir dijital”. Dalam dunia bisnis, hasil adalah segalanya tak peduli bagaimana caranya. (Pernyataan ini dalam konteks yang positif – penerjemah). Meskipun demikian, makhluk hidup yang disebut manusia itu sendiri pada dasarnya bersifat analog. Misalnya, perasaan atau suasana hati yang senantiasa berubah sehingga tidak bisa diekspresikan secara pasti.

Dapat disimpulkan bahwa di dunia bisnis, “makhluk hidup bersifat analog” yang disebut manusia akan selalu dikejar – kejar oleh “keputusan bersifat dijital” yaitu “ya atau tidak”. Nah, bagaimana caranya memberikan solusi atas hal – hal yang kontradiktif itulah yang menjadi poin yang sangat penting untuk dapat melakukan suatu pekerjaan atau bisnis dengan baik.

Untuk dapat melakukan pola pikir dijital tersebut, yang pertama kali harus kita lakukan adalah menentukan “standar nilai” atas suatu peluang bisnis menurut kita sendiri. Misalnya, kita akan menentukan bahwa “jika peluang berhasil atau gagal adalah 5 berbanding 5, maka jawabnya adalah tidak”, “jika peluang berhasil atau gagal adalah 7 berbanding 3, maka jawabnya ya”. Itulah standar nilai yang menjadi dasar terhadap keputusan yang akan kita ambil.

5. Merencanakan sesuatu secara detil

Pada bulan September 1997, Horiba Ltd telah membuat heboh dunia bisnis dengan melakukan akuisisi terhadap Instruments, perusahaan pembuat peralatan analisis lab yang terkenal dari Perancis. Untuk akuisisi sekelas ini, kebanyakan perusahaan biasanya akan meminta bantuan konsultan ahli. Tapi untuk kasus di atas, penanggung jawab akuisisi adalah Pak A, karyawan Horiba Ltd yang masih berumur sekitar 40 an tahun. Dia sendiri yang juga melakukan negosiasi bisnis itu. Latar belakang Pak A adalah akunting. Akan tetapi, dia banyak belajar tentang analisis bisnis maupun manajemen dalam 10 tahun terakhir ini, yang ternyata berguna dalam negosiasi untuk proses akuisisi tersebut di atas.

Akuisisi Instrument berhasil ditangani dengan baik oleh Pak A, seorang karyawan biasa tapi punya karakter yang total dalam melakukan persiapan maupun perencanaan secara detil. Karyawan tipe ini sekilas mungkin tampak tidak menonjol. Hanya saja karena dia terbiasa mempersiapkan segala sesuatunya dengan teliti sehingga dapat diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan proyek yang besar.

6. Kemauan untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa

Orang yang selalu berusaha untuk menelurkan berbagai ide, dapat dipastikan bahwa dia akan berkembang. Kesamaan yang biasa didapati pada manusia – manusia semacam ini adalah banyaknya gudang informasi yang dimiliki, yang tidak hanya terbatas pada pengetahuan saja tapi juga pengalaman.

Oleh sebab itu, orang – orang seperti ini akan senang melakukan berbagai hal yang berbeda dengan kebanyaan orang, untuk menambah pengalaman hidupnya. Kenapa? Karena kualitas ide itu ditentukan oleh bagaimana cara meramu berbagai pengetahuan yang tersimpan dalam gudang informasi yang dimilikinya, maka dia harus berusaha memperbesar gudangnya tersebut menggunakan sudut pandang yang berbeda dengan kebanyakan orang.

7. Berusaha keras menuntaskan pekerjaan meskipun untuk sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Orang biasanya akan mundur teratur jika diminta untuk untuk mengerjakan sesuatu yang kurang atau tidak bisa dilakukannya. Tetapi, yang dituntut dari pelaku bisnis yang mumpuni adalah menjadi seorang generalis. Dia tidak akan mendapat ampun bila sampai mengatakan “saya gak ngerti karena bukan bidang saya”.

Justru pada saat diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya, itulah kesempatan untuk menjadi seorang generalis, disamping peluang untuk memperbesar gudang informasi yang dimiliki. Oleh karena itu, kita harus bersemangat mengambil kesempatan itu bila datang menghampiri.

Ada satu pengalaman menarik saat pesta penyambutan CEO yang baru di Horiba Ltd beberapa waktu lalu. Untuk acara ini, perusahaan menunjuk Pak K yang bekerja di kantor pusat sebagai penanggung jawabnya. Bagi Pak K, hal ini adalah pengalaman pertama, disamping karakternya juga sangat canggung tampil di depan banyak orang. Dia sendiri hampir tidak pernah pergi ke pesta – pesta sehingga acaranya harus seperti apa juga tidak punya gambaran.

Akan tetapi Pak K tidak terus berdiam diri. Dia kemudian mendatangi relasinya maupun teman – temannya semasa kuliah yang terkenal sebagai “biangnya pesta”, untuk mencari tahu segala hal tentang penyelenggaraan sebuah pesta. Akhirnya, rangkaian acara sejak dari sambutan, pengundian hadiah, penampilan artis, dan acara lain yang disusunnya dapat berjalan dengan lancar sehingga pesta pun terbilang sukses besar.

Pada waktu persiapan, Pak K membuat manual detil untuk teknis pelaksaanaanya, misalnya penentuan posisi seluruh undangan, bagaimana mengatur lalu lintas mobil yang dating, dan lain – lain. Karena ini adalah pengalaman yang pertama baginya, maka dia merasa tidak terbiasa sehingga semuanya dipersiapkan secara teliti.

Untuk suatu pekerjaan yang belum pernah dilakukan, cara atau urutan pengerjaan maupun know how-nya sebenarnya banyak memiliki kesamaan dengan pekerjaan yang selama ini kita lakukan. Dapat dikatakan bahwa dasar dari semua pekerjaan adalah sama. Oleh karena itu, langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah menjadi yang terbaik di bidang kita masing – masing lebih dulu.

8. Dapat memberikan nilai tambah pada pekerjaannya

Jika seorang karyawan mengerjakan sesuatu sama persis sesuai dengan apa yang diperintahkan, maka orang yang kerja part-time pun juga bisa. Tetapi karyawan yang dapat mempersembahkan hasil kerja dengan memberikan nilai tambah terhadap apa yang diinstruksikan sajalah yang dapat disebut sebagai “orang yang bisa bekerja”. Karena itu, Mr. Horiba memberikan target atau proyek hanya dengan arahan yang sederhana saja, misalnya seperti “bisa nggak bikin barang seperti ini?” atau “saya pengin jual barang kayak gini nih”.

Dengan cara seperti ini, kemampuan karyawan akan dapat diketahui melalui bagaimana metodenya dalam menyelesaikan tugas tersebut: apakah berhasil menuntaskannya secara cepat & efektif, atau apakah masih bingung dengan tema yang diberikan, ataukah berhasil menyelesaikannya tapi melebihi target waktu yang diberikan.

Akan tetapi, bila belum apa – apa sudah muncul berbagai pertanyaan mendetil terhadap target yang diberikan, misalnya, “rencana budget-nya berapa?”, atau “tenggat waktunya sampai kapan?”, atau “berapa orang staf bisa diminta untuk membantu?”, maka dipastikan bahwa orang tersebut tidak akan dapat berkembang.

Seharusnya, dia memikirkan lebih dulu target yang diberikan itu. Dari situ tentunya baru akan keluar kesimpulan seperti “proyek ini perlu budget sekian, dengan waktu pengerjaan 3 bulan, dan membutuhkan 5 orang staf. Alasannya adalah …”. Inilah yang seharusnya disampaikan.

Karyawan yang selalu minta penjelasan detil atas suatu perintah atau selalu bertanya ke orang lain jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya, maka kesimpulannya hanya dua, yaitu  memang dia tidak punya kemampuan, atau cenderung ingin lari dari tanggung jawab. Alasannya jelas, yaitu selama mengerjakan tugas persis sesuai perintah, maka atasanlah yang harus bertanggung jawab bila terjadi kegagalan. Orang seperti ini tidak bisa diharapkan untuk melakukan suatu pekerjaan dengan baik.

9. Bisa menemukan rasa enjoy dalam pekerjaanya

Orang yang banyak mengeluhkan nasib atau menyalahkan keadaan, pasti termasuk dalam kategori orang yang tidak bisa bekerja. Mengapa? Karena orang yang banyak mengeluh terutama atas keberhasilan orang lain menandakan bahwa dia tidak mandiri. Orang yang seperti ini malah justru secara tidak sengaja menjadikan keluh kesah tadi sebagai hobinya. Akibatnya, dia tidak akan bisa menerima kenyataan dengan rendah hati sehingga tidak mungkin ada upaya introspeksi yang membangun dari dalam dirinya. Dengan kondisi demikian, jelas bahwa dia pasti tidak akan dapat bekerja.

Setiap orang pasti pernah mengalami ketidakpuasan atas suatu hal. Hanya saja, bila dia tidak segera menemukan penyebab dan mencari penyelesaian terhadap ketidakpuasan atau apa yang dikeluhkan itu, hal yang sama akan terus terulang. Sekarang ini, bagaimana caranya menghilangkan stres juga menjadi salah satu perhatian dari para pelaku bisnis. Akan tetapi, yang lebih penting untuk dipikirkan bukanlah pada bagaimana caranya menghilangkan stres, tapi pada menemukan akar penyebab menumpuknya stres itu.

Kalau diperhatikan, kita mungkin tidak akan menemukan stres pada seseorang yang melakukan sesuatu atas dasar hobi, misalnya golf, mancing, atau hal serupa lainnya. Ini karena kegiatan tersebut dilakukan atas kemauan sendiri dan karena suka. Sama halnya dengan pekerjaan, jika kita sudah menyukainya maka stres pun tidak akan melanda. Oleh karena itu, poin penting yang perlu diperhatikan adalah seberapa jauh kita bisa menemukan sisi menarik terhadap pekerjaan kita itu.

10. Mengetahui posisi dirinya sendiri (self positioning)

Karyawan yang tidak memiliki kepercayaan diri, dia tidak akan dapat bekerja. Sama halnya jika kepercayaan diri terhadap kemampuannya berlebihan pun, dia juga tidak bisa bekerja.

Kepercayaan diri dapat diibaratkan sebagai pakaian, yang memerlukan ukuran yang tepat untuk enak dikenakan. Tidak boleh terlalu besar ataupun terlalu kecil. Untuk itu, kita perlu mengukur badan kita sendiri (kemampuan) agar baju yang kita pakai terasa nyaman. Terkait hal ini, maka cara untuk mengembangkan diri adalah dengan mengevaluasi diri kita saat ini secara obyektif, kemudian menumbuhkan kepercayaan diri dengan menaruh target sedikit lebih tinggi. Ibaratnya badan kita (kemampuan) sedang tumbuh berkembang, maka akan pantas bila ukuran pakaiannya (kepercayaan diri) pun sedikit lebih besar, tapi tidak kebesaran.

Poin penting agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik adalah evaluasi secara obyektif terhadap kemampuan diri kita tersebut. Hal ini dapat diumpamakan dengan pesawat, dimana tanpa adanya data (evaluasi obyektif) posisi terbang misalnya ketinggian, azimuth, maupun longitudinal, maka sang pilot tidak mungkin akan dapat membawa pesawat itu sampai ke tempat tujuan.

Karyawan juga sama. Bila mereka tidak mengetahui “posisi dirinya” terus kemudian terbang begitu saja, maka dia akan kehilangan arah. Akan tetapi, pekerjaan yang berkualitas juga tidak akan bisa mereka lakukan meskipun sudah mengetahui “posisi dirinya” sekalipun, bila tanpa disertai perhitungan arah dan kecepatan terbang yang sesuai untuk mencapai tujuan.

Untuk mengetahui “posisi diri” ini, kita perlu mengevaluasi rekan kerja kita lebih dulu terkait dengan kemampuan perencanaan, kemampuan menyampaikan pendapat dalam rapat, maupun prestasi kerjanya misalnya. Setelah itu, baru kita bandingkan dengan diri kita sendiri untuk mengetahui posisi kita dimana.

11. Memiliki konsep dan filosofi tentang kerja.

Sekarang ini dan mungkin ke depannya, pemikiran tentang sebuah pengorbanan diri untuk organisasi sudah tidak jamannya lagi. Sudah bukan masanya lagi menilai karyawan berdasarkan ikrar kesetiaan maupun semangat loyalitas kepada perusahaan. Tidak ada lagi aktor (karyawan) yang mau bersumpah setia di atas panggung (perusahaan). Sekarang ini, para aktor bekerja keras mempersembahkan suatu hasil karya (pekerjaan). Dan panggung pun tidak lebih dari sekedar sarana. Oleh karena itu, ikrar loyalitas sudah tidak diperlukan lagi.

Yang penting bukanlah “perusahaan”, tapi “pekerjaan”. Yaitu bagaimana seseorang dapat mewujudkan aktualisasi diri melalui pekerjaan yang dilakukannya itu. Filofosi terhadap pekerjaan, misalnya dengan menanyakan kepada dirinya sendiri ” untuk apa saya bekerja?” atau “apakah yang namanya kebahagiaan itu?”, adalah sesuatu yang penting. Sehingga orang yang tidak memiliki filosofi terhadap pekerjaan itu bagaikan musafir yang berjalan kebingungan tanpa tujuan di tengah padang pasir. Atau dengan kata lain, jika seseorang bekerja dengan prinsip dan filosofi yang kukuh, maka dia pasti akan termasuk ke dalam kategori “orang yang bisa bekerja”.

* Tulisan ini adalah resensi buku berbahasa Jepang tulisan Masao Horiba berjudul “Shigoto ga dekiru hito dekinai hito (Orang yang bisa bekerja dan yang tidak – penerjemah)”, yang muncul dalam salah satu majalah manajemen di Jepang sekitar Desember tahun 2000.

Masao Horiba

Lahir pada tahun 1924 di Kyoto, Jepang. Mendirikan Horiba Radio Laboratory saat masih kuliah di departemen fisika Universitas Kyoto pada tahun 1945, yang kemudian berubah menjadi Horiba Ltd pada tahun 1953. Perusahaan ini sekarang adalah pembuat peralatan analisis lab yang terkemuka di bidangnya. Mr. Horiba sangat mendorong para karyawannya untuk terus belajar sampai dengan S3, dan beliau sendiri berhasil memperoleh gelar doktor di bidang ilmu kedokteran pada tahun 1961. Pada tahun 1978 beliau menjadi chairman dan CEO di Horiba Ltd. Menjadi chairman pada tahun 1995, dan sejak 2005 menjadi supreme council. Beliau juga adalah supreme council for the Advanced Software Technology & Mechatronics Research Institute of Kyoto. Mr. Horiba sering pula dijuluki sebagai pionir student entrepreneur di Jepang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: