Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Agus Salim, Manusia Merdeka*

Posted by imambudiraharjo on August 12, 2009

Oleh: Asvi Warman Adam (sejarawan LIPI)

AGUS Salim dilahirkan di Kota Gadang, Bukittinggi, tahun 1884 dan wafat di Jakarta tahun 1954. Saya sendiri pengagum tokoh nasional ini sejak masih kecil. Di samping karena pribadinya yang luar biasa, juga karena kebetulan tanggal lahir beliau (8 Oktober) bersamaan dengan hari kelahiran saya. Ia lahir lebih dahulu 70 tahun. Dan Agus Salim meninggal tahun 1954, tahun kelahiran saya.

KETIKA dilahirkan ia bernama Masyudul Haq, nama seorang tokoh dari sebuah buku yang dibaca ayahnya, Sutan Mohammad Salim. Nama adalah doa, kata nabi, maka dalam pemberian nama itu terkandung harapan agar sang putra kelak menjadi “pembela kebenaran”. Ketika Masyudul kecil, ia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya “den bagus”, yang kemudian dipendek jadi “gus”. Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya “Agus”.

Ketika Agus berusia 6 tahun, ayahnya menjadi jaksa tinggi pada pengadilan untuk daerah Riau dan sekitarnya. Agus diterima pada sekolah dasar Belanda ELS (Europeese Lager School). Setelah lulus dari ELS ia dikirim ke Batavia untuk belajar di HBS (Hogere Burger School). Ia lulus dengan angka tertinggi tidak saja di sekolahnya, tetapi juga untuk sekolah HBS lain (Bandung dan Surabaya). Namanya menjadi terkenal di seantero Hindia Belanda di kalangan kaum kolonial dan terpelajar.

Agus kemudian mengajukan permohonan beasiswa untuk belajar kedokteran di negeri Belanda. Tampaknya permohonan ini ditolak, sungguhnya dalam korespondensi antara Kartini dan Nyonya Abendanon, nama Agus Salim disebut-sebut. Kartini menerima keputusan pemberian beasiswa pendidikan sebesar 4.800 gulden untuk belajar di Belanda tahun 1903. Orangtua Kartini melarang pergi dan dalam waktu dekat sang putri bupati itu akan memasuki gerbang perkawinan.

Kartini mengusulkan kepada Nyonya Abendanon agar beasiswa tersebut diberikan kepada pemuda Salim, juara pada ketiga HBS tersebut. Kenyataannya tidak terjadi pengalihan beasiswa, kelihatannya Agus sendiri tidak mengetahui namanya disebut dalam korespondensi tersebut. Kemudian tahun 1905, Snouck Hurgronye mengusulkan kepada Pemerintah Belanda eksperimen penempatan tenaga pribumi pada perwakilan Belanda di luar negeri. Agus mendapat tawaran bekerja pada konsulat Belanda di Jeddah sebagai penerjemah dan mengurus urusan haji. Di kota ini ia memperoleh kesempatan untuk memperdalam ilmu agama (Islam).

Sepulang dari Tanah Suci, Salim sempat bekerja pada dinas pekerjaan umum. Namun, ia keluar dari birokrasi Belanda dan mendirikan sekolah swasta di kampungnya di Kota Gadang. Hanya sebentar, ia kemudian berangkat lagi ke Jakarta dan selanjutnya terjun ke dunia politik melalui SI (Syarikat Islam). Semasa penjajahan Belanda, ia memang tidak pernah ditangkap Belanda. Baru setelah Indonesia merdeka ia beberapa kali diasingkan bersama dengan pemimpin nasional lainnya.

Mengapa Belanda tidak menangkapnya? Salah satu kemungkinan jawabannya adalah terletak pada gaya bahasa Agus Salim yang kritis dan tajam, tetapi disampaikan secara halus tapi cerdas. Ia beberapa kali menjadi pengelola surat kabar dan sangat produktif menulis baik tajuk rencana maupun artikel lainnya. Dalam harian Neratja, 25 September 1917, ia menulis “dalam negeri kita, janganlah kita yang menumpang”.

SETELAH Indonesia merdeka, ia beberapa kali menduduki posisi menteri muda dan kemudian menteri luar negeri. Pengakuan negara-negara Arab atas kemerdekaan Indonesia tahun 1947 dapat dianggap sebagai jasa Agus Salim bersama beberapa tokoh nasional lainnya. Sebelumnya, sempat selama tiga bulan mereka mengembara di Timur Tengah dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas sebagai utusan negara yang baru merdeka.

Setelah menjadi dosen tamu di Universitas Cornell, ia mampir di Washington dan bertemu dengan warga Indonesia. Inilah petikan pesannya kepada pemuda yang masih relevan dengan kondisi kita sekarang, “Begitu pula di Tanah Air kita. Janganlah pemuda-pemuda Indonesia bimbang tentang adanya berbagai-bagai partai. Bukan uniformitas yang mencapaikan tujuan yang tinggi-tinggi, tetapi besef, kesadaran tentang unitas (unity) dalam berlain-lainan asas, dalam berlain-lain pendapat, satu bangsa, satu Tanah Air, selamat sama selamat, celaka sama celaka. Bukan satu saja, bukan uniform, tapi gerich of het gemeenschappelijk nut, bertujuan pada keselamatan bersama karena keselamatan masing-masing yang tidak membawa keselamatan bersama tidak akan tercapai”.

Selain penghargaan terhadap demokrasi, Agus Salim juga sangat memperhatikan bidang hukum. Dalam harian Fadjar Asia 29 November 1927 ia menulis tentang “Polisi dan Rakyat”: “sikap polisi terhadap rakyat, istimewa keganasan dan kebuasan polisi dalam memeriksa orang yang kena dakwa atau yang hanya kena sangka-sangka rupanya belum berubah-buah. Hampir tiap hari ada pesakitan di depan landraad yang mencabut “pengakuan” di depan polisi yang lahir bukan karena betul kejadian melainkan hanya karena kekerasan siksa. Agus Salim juga menaruh perhatian khusus terhadap para hakim. “Jika negeri hendak selamat, haruslah pengadilan berderajat tinggi dalam anggapan orang ramai di negeri ini. Dan hakim-hakim, istimewa yang mengepalai majelis pengadilan wajiblah selalu menunjukkan sikap kebesaran yang anggun, disertai kesabaran, keramahan dan kemurahan, yang menunjukkan ia menjaga jalannya hukum dengan sungguh-sungguh, dengan memakai timbangan yang jernih, yang sekali-sekali tidak boleh kecampuran pengaruh cinta dan benci, yang kira-kira boleh memincangkan teraju timbangannya” (Fadjar Asia, 26 Juni 1928)

“Orang tua yang sangat pandai ini seorang jenius dalam bidang bahasa, mampu berbicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat” demikian penilaian Prof Schermerhorn yang ditulis dalam catatan hariannya Senin malam tanggal 14 Oktober 1946.

Bahkan oleh wartawan yang juga aktivis sosialis Belanda, Jef Last, dikatakan bahwa Agus Salim juga menguasai “bahasa kambing dan kuda”. Dalam suatu pertemuan setiap akhir kalimat yang disampaikan Agus Salim disambut oleh para pemuda dengan sahutan mbek, mbek, mbek. Itu untuk mengejek janggutnya yang panjang seperti janggut kambing. Salim menukas “Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun mendatangi ruangan ini untuk mendengar pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas. Saya sarankan kepada mereka agar keluar ruangan sekedar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan disilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing untuk mereka”. Keadaan menjadi terbalik, para pemuda itu tidak keluar tetapi diam karena malu.

Salim mendidik putra-putrinya sendiri di rumah, tidak disekolahkan di sekolah Belanda. Jef Last bertanya mengapa putra Agus Salim (yaitu Islam Salim) begitu fasih berbahasa Inggris padahal tidak belajar di sekolah ? Jawab Agus “Apakah anda pernah mendengar tentang sebuah sekolah tempat kuda belajar meringkik ? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami dan anak-anak kuda ikut meringkik. Begitu pun saya, meringkik dalam bahasa Inggris dan putra saya Islam juga meringkik dalam bahasa Inggris”.

Meskipun seorang poliglot yang mahir banyak bahasa, namun Agus Salim justeru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia pada sidang Dewan Rakyat (Volksraad) sehingga menggegerkan Belanda. Karena apa yang telah diputuskan oleh lembaga ini tidak diindahkan oleh pemerintah Hindia Belanda, Salim keluar dari dewan tersebut tahun 1923. Ia menamakan Volksraad sebagai “komedi omong”.

KEMAMPUAN bahasa dan keluasan ilmu pengetahuan menyebabkan Salim menguasai suatu diskusi atau percakapan. Prof George Kahin menuturkan bahwa suatu hari ia mengundang Agus Salim dan Ngo Dinh Diem makan di ruang dosen Cornell University. Salim waktu itu sebagai pembicara tamu di Universitas tersebut sedangkan Ngo Dinh Diem saat itu sedang mengumpulkan dukungan bagi Vietnam Selatan.

Tokoh yang terkenal jago omong itu kemudian menjadi Perdana Menteri di negerinya. Kahin terperangah karena kedua tokoh itu ternyata sudah asyik berdebat dalam bahasa Perancis. Ternyata Salim dapat membuat Diem menjadi pendengar saja. Ketika mengajar di Cornell, Agus tidak melupakan kebiasaan mengisap rokok kretek, sehingga para muridnya menjadi tidak asing lagi dengan bau eksotik itu.

Salim juga tidak minder dalam berhadapan tokoh asing. Ketika mewakili Presiden Soekarno menghadiri upacara penobatan Ratu Inggris Elisabeth tahun 1953, ia agak kesal dengan suami ratu yaitu Pangeran Philip yang kurang perhatian terhadap tamu asing yang datang dari negeri-negeri yang jauh. Salim menghampiri dan mengayun-ayunkan rokok kreteknya di sekitar hidung sang pangeran.

“Apakah Paduka mengenali aroma rokok ini? ” Dengan ragu-ragu menghirup rokok itu, sang pangeran mengakui tidak mengenal aroma tersebut. Agus Salim pun dengan tersenyum berujar “Itulah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi negeri saya”. Maka suasana pun menjadi mencair, sang pangeran mulai ramah meladeni tamunya.

Agus Salim sebetulnya tokoh sangat disiplin dalam mendidik dirinya dan keluarga. Setelah anaknya yang pertama lahir, selama 18 tahun Salim sekeluarga hanya makan sayur segar tanpa daging sama sekali. Padahal dalam keluarga Minang, makan daging seperti rendang adalah santapan utama. Ada dua alasan yang mendorongnya melakukan hal tersebut. Pertama, seperti diceritakan oleh anaknya, karena ia menderita ambeien, oleh dokter dianjurkan untuk banyak makan sayur dan berpantang daging. Namun ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa Salim takut karena istrinya adalah saudara sepupunya sendiri, kuatir hal itu menyebabkan anak-anaknya cacat. Oleh sebab itu perlu dilakukan diet kesehatan yang sangat ketat agar putra-putrinya yang dilahirkan juga sehat.

Agus Salim adalah manusia komplet, ia adalah penerjemah, wartawan, diplomat dan ulama. Bahkan ia juga sastrawan. Inilah petikan dari puisi “Tanah Air Kita” yang ditulis Agus Salim tahun 1930. “Apa keikatan kita? /Menyebuahkan usaha/ Menjadi azas utama/ Pada tujuan mulia/ Tujuan kita yang sama/ Meninggikan derajat Indonesia”.

Agus Salim adalah manusia merdeka. Merdeka dalam berhadapan dengan penjajah, merdeka dalam berurusan dengan keluarga, kerabat dan bangsanya sendiri. Merdeka dalam memilih lapangan pekerjaan, merdeka dalam berbusana (yang baik), merdeka dalam bersuara. Merdeka dalam bidang pendidikan.

Pada hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-59 ini, itulah makna yang dapat dipetik dari kisah tokoh yang dijuluki oleh Hatta sebagai the old grand man. Kita baru betul-betul merdeka, kalau sudah berhasil menciptakan jutaan manusia merdeka di Tanah Air.

*Tulisan ini dimuat di harian Kompas tanggal 21 Agustus 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: