Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

The New Kind of Samurai

Posted by imambudiraharjo on August 28, 2009

Apa yang akan terbayang di benak Anda bila disebut kata “samurai”? Mungkin dengan tidak berpanjang angan, imajinasi Anda akan langsung bermain dengan kelebatan pedang panjang setajam silet serta ritual harakiri yang terkenal di Jepang itu. Dan barangkali ditambah bumbu berupa bayangan hitam sang ninja yang menyerang dan menghilang dalam sekejap dengan meninggalkan bekas senjata rahasia di tubuh si korban. Atau bagi yang tinggal di sekitar Jabodetabek, mungkin Anda akan segera teringat dengan tawuran beringas anak – anak SMA atau STM jika disebut kata samurai. Penyebabnya tentu tidak lain karena pedang panjang yang disebut samurai itu begitu melegenda sebagai salah satu senjata wajib dalam keroyokan jalanan itu.

Di Indonesia, kata samurai nampaknya sudah melekat dengan pedang panjang yang berasal dari Jepang. Padahal orang sono sendiri menyebut pedang yang demikian itu sebagai katana. Dan supaya tidak terjadi kerancuan pemaknaan, mungkin akan lebih baik bila istilah samurai tersebut diklarifikasi terlebih dahulu. Saya akan menukil sebagian kata pengantar dari buku The Swordless Samurai karangan Kitami Masao, untuk memperjelas apa itu samurai.

Samurai sebenarnya adalah suatu kaum, golongan, atau strata sosial dalam masyarakat Jepang tempo dulu. Asal muasal kaum samurai dimulai pada keluarga Yamato, yang muncul sebagai klan terkuat di Jepang pada abad ketujuh Masehi. Kata samurai berarti ‘orang yang melayani’ dan diberikan kepada mereka yang lahir di keluarga terhormat dan ditugaskan untuk menjaga anggota keluarga kekaisaran. Falsafah pengabdian ini adalah akar dari keningratan kaum samurai, baik dalam tatanan sosial maupun spiritual.

Pada akhirnya, keluarga Yamato kesulitan mempertahankan pemerintahan sentralisasi negara dan mulai ‘mendelegasikan’ tugas militer, administrasi, dan penarikan pajak kepada mantan – mantan pesaing yang berfungsi sebagai gubernur. Saat Yamato dan pemerintahan kekaisaran semakin lemah, gubernur – gubernur lokal malah semakin kuat. Akhirnya, beberapa di antara mereka berevolusi menjadi daimyo, atau penguasa feodal yang menguasai teritori tertentu yang independen dari pemerintah pusat. Pada tahun 1185, Minamoto Yoritomo, seorang panglima perang dari propinsi timur dan masih punya hubungan darah dengan keluarga kaisar, membangun pemerintahan militer negara yang pertama, dan Jepang memasuki era feodal (1185~1867). Negara itu berada di bawah pemerintahan militer selama hampir 700 tahun.

Stabilitas negara yang dirintis Minamoto pada tahun 1185 itu tidak bertahan lama. Penguasa – penguasa militer datang dan pergi silih berganti, dan pada tahun 1467 pemerintahan militer runtuh yang menyebabkan Jepang terjun dalam kekacauan. Maka dimulailah Jaman Perang Antar Klan atau Jaman Peperangan (sengoku jidai), abad berdarah ketika para panglima perang lokal saling bertarung untuk melindungi daerah kekuasaan. Mereka berusaha mengalahkan para pesaing dengan menggunakan pembunuhan, aliansi politik, pernikahan antar klan, saling mengadopsi anak, dan perang terbuka. Sekutu di antara para panglima perang selalu berubah-ubah. Di antara perebutan kekuasaan, bukan hal aneh bagi seorang daimyo untuk membunuh saudara atau bahkan orang tua sendiri.

Pada saat Jepang memasuki Jaman Perang Antar Klan, istilah samurai telah berubah, menandakan tentara negara, perwira penjaga perdamaian, dan prajurit profesional: pendeknya, hampir siapa saja yang membawa pedang dan mampu melakukan kekerasan.

Meski Jaman Perang Antar Klan membawa kekacauan, kekuasaan tetap sangat terstruktur dalam era feodal Jepang. Kaisar adalah penguasa tertinggi kepada siapa semua orang tunduk. Namun fungsinya hampir hanya berupa simbol; kekuasaan kaisar sebenarnya hanya terbatas pada menganugerahkan gelar resmi, terutama gelar Shogun. Kaisar sangat bergantung pada para daimyo untuk membiayai anggaran istananya dan tidak turun langsung dalam urusan negara.

Kelas sosial yang di bawah kaisar adalah kaum bangsawan, termasuk para pangeran, putri, dan bawahan yang memiliki hubungan darah dengan kaisar. Mereka juga tidak terlibat dalam urusan negara dan bergantung pada warisan serta upeti dari para daimyo untuk membiayai rumah tangga mereka.

Secara resmi berada di bawah kaum bangsawan adalah Shogun, namun sebenarnya kaum bangsawan dan kaisar sendiri tidak memiliki otoritas terhadapnya. Pemegang komando militer tertinggi ini dapat disamakan dengan presiden atau perdana menteri, membuat keputusan administratif sehari-hari yang dibutuhkan untuk menjalankan negara. Kekacauan Jaman Perang Antar Klan terutama disebabkan oleh ketiadaan sosok Shogun yang benar-benar punya otoritas. Tema sentral pada periode sejarah Jepang ini adalah perjuangan para panglima perang lokal yang ambisius – seperti Oda Nobunaga – untuk bisa sampai ke Kyoto, dinyatakan sebagai Shogun oleh kaisar, untuk kemudian menyatukan negeri (tenka toitsu).

Panglima perang atau daimyo, berada pada urutan berikutnya. Beberapa daimyo adalah panglima perang andal yang membangun kerajaan-kerajaan kecil dari nol; beberapa adalah bekas gubernur yang menolak tunduk pada pemerintah pusat dan sepenuhnya memerintah daerah mereka sendiri; lainnya adalah bekas pengikut yang menggulingkan gubernur mereka yang tidak kompeten. Para daimyo mengatur kota yang tumbuh di sekitar kastil mereka dan mendapatkan penghasilan dari pajak yang ditarik dari penduduk kota atau petani.

Samurai yang dipekerjakan oeh para daimyo menduduki tingkat sosial berikutnya. Orang-orang terbaik di kelompok ksatria abad pertengahan Jepang ini sangat setia pada atasan mereka dan menjunjung tinggi nilai bushido (biasanya diterjemahkan sebagai ‘semboyan kaum ksatria’ atau ‘jalan panglima’). Samurai yang terburuk tidak jauh berbeda dengan preman pasar.

Lapisan kelas sosial di bawah samurai adalah ronin, atau samurai tanpa majikan. Ronin bisa saja dilahirkan dalam keluarga samurai yang kurang beruntung atau menjadi pengangguran karena majikan mereka bangkrut atau menderita kekalahan dalam perang. Kaum ronin terdiri dari pejuang yang jujur dan para bajingan. Mereka adalah golongan sosial paling rendah yang berhak menyandang nama keluarga (marga), sebuah kehormatan yang membedakan mereka dari rakyat jelata.

Di bawah ronin terdapat penduduk kota, pengrajin, pedagang, dan petani – masyarakat kelas pekerja yang merupakan mayoritas dari seluruh penduduk Jepang. Mereka tidak bergelar dan hanya menyandang satu nama (nama pertama). Mereka juga satu-satunya golongan masyarakat yang dikenai pajak.

Dari paparan tentang samurai di atas, dapat dipahami bahwa modal utama profesi tersebut adalah fisik yang prima dan ketrampilan laga berupa penguasaan permainan pedang. Oleh karena itu, bila ada panglima perang yang akhirnya berhasil menyatukan Jepang dan kemudian diangkat oleh kaisar menempati posisi tertinggi pemerintahan, maka kemungkinan besar Anda akan membayangkan orang itu sebagai prajurit par excellence yang memiliki perawakan tinggi, tegap, mata mencorong tajam, dan ahli bermain pedang. Saya pun dulu juga berpikir bahwa jenderal yang menyatukan Jepang pada masa berakhirnya Jaman Peperangan pastilah seseorang yang berotot kawat dan bertulang besi.Tapi ternyata kita semua kecele saudara-saudara! Pada tahun 1590, kaisar Go Yozei justru mengangkat seorang Shogun yang bukan keturunan ningrat, tapi berlatar belakang anak petani, berperawakan pendek dengan tinggi badan hanya 150 cm, bertubuh bungkuk, kurus kerempeng dengan bobot 50 kg, daun telinganya lebar, wajahnya kemerahan dan keriput, serta sama sekali tidak bisa memainkan pedang. Posisi wakil kaisar yang secara de facto merupakan penguasa tertinggi Jepang itu akhirnya berhasil disandang oleh orang yang serba tidak meyakinkan tersebut. Namanya adalah TOYOTOMI HIDEYOSHI.

Kok bisa??!!

Begini. Meskipun dilingkupi kekurangan dari segi fisik serta keterbatasan fasilitas, sejak kecil, kepala Hideyoshi – saya sebut demikian saja, karena itulah namanya yang sebenarnya. Toyotomi adalah nama keluarga pemberian dari kaisar, setelah dirinya berhasil menjadi orang yang paling berkuasa di Jepang – tidak pernah berhenti dari berpikir tentang bagaimana caranya mengubah nasib. Dan puncaknya adalah saat dia berkeras minta ijin kepada ibunya untuk merantau pada usia belasan. Setelah lontang lantung tidak tentu arah selama beberapa waktu, otaknya yang cerdik mengatakan bahwa dia harus mencari mentor yang dapat dijadikan panutan sekaligus tokoh muda yang memiliki prospek sebagai orang yang berpengaruh ke depannya. Kriteria yang dibuatnya itu akhirnya mengantarkan Hideyoshi mengabdi kepada salah seorang panglima perang yang sedang naik daun, yaitu Oda Nobunaga.

Berbeda dengan panglima perang lainya, Oda Nobunaga adalah seorang jenderal yang berpikiran maju pada saat itu. Bila komposisi pasukan pada panglima yang lain sebagian besar terdiri dari para petani, alias tentara cadangan, maka Nobunaga justru kebalikannya. Milisi cadangan dalam barisannya hanya sekitar 20%, sedangkan komponen utamanya adalah para prajurit profesional yang dibinanya. Selain itu, prinsip meritokrasi dalam jenjang karir yang diterapkannya menyebabkan banyak jagoan dari penjuru Jepang datang bergabung dengannya. Dan bukan saja kemampuan olah keprajuritan semata yang dinilai, tapi juga hal – hal lain, seperti kemampuan mengurus logistik dan pemunculan ide – ide kreatif dalam strategi peperangan. Dalam lingkungan seperti inilah, dari gembel yang buta huruf Hideyoshi akhirnya terbentuk menjadi seorang yang terpelajar dan dapat melesatkan kemampuan olah pikirnya secara optimal menuju titik tertinggi, yang bahkan tidak dapat diraih oleh para samurai berdarah biru.

Dimulai dari kesuksesannya melakukan cost down urusan dapur yaitu masalah pembelian kayu bakar untuk kebutuhan kastil yang didiami Nobunaga, perlahan – lahan Hideyoshi menapaki jenjang karirnya sebagai seorang samurai di dalam klan Oda. Dua hal yang sangat mendongkrak prestasinya adalah kemampuannya memunculkan berbagai strategi peperangan dan keahliannya dalam merangkul banyak pihak.

Pertama, tentang strategi kreatif. Pada jaman itu, model peperangan boleh dibilang mirip “adu kebo”; saling menubrukkan kedua pasukan habis – habisan dalam wacana zero sum game. Oleh karena itu, mobilisasi prajurit dalam jumlah besar merupakan sesuatu yang mutlak. Strategi konvensional inilah yang kemudian mendorong munculnya persekutuan antar panglima perang lokal. Aliansi yang semu, penuh dengan kecurigaan, dan sementara saja sifatnya, karena masing – masing sebenarnya ingin menaklukkan yang lain demi meraih gelar Shogun. Nah, disinilah bedanya Hideyoshi. Dia justru banyak melakukan negosiasi untuk membangun aliansi strategis dan komitmen yang kokoh dengan para panglima perang yang ingin ditundukkannya. Peperangan hanyalah jalan terakhir apabila perundingan mengalami kebuntuan. Itupun dilakukan dengan sebisa mungkin meminimalisasi korban. Prinsip nglurug tanpo bolo menang tanpo ngasorake* yang dilakukannya secara efektif ini semakin memperluas dan mengukuhkan kekuasaan klan Oda kala itu.

Selain itu, siasat perang yang tidak lumrah juga sering keluar dari kepalanya. Misalnya, dia pernah memimpin penyerbuan ke sebuah benteng musuh yang letaknya dikelilingi rawa dan sungai. Kondisi itu sangat menyulitkan pergerakan pasukannya sehingga banyak jatuh korban pada awalnya. Setelah mengamati penyebabnya, bukannya meminta tambahan orang, Hideyoshi justru memobilisasi para penduduk di sekitarnya untuk bersama – sama menumpuk karung – karung pasir di sekitar sungai. Pekerjaan sipil yang dilakukan selama 2 minggu akhirnya menghasilkan bendungan yang dapat digunakan untuk mengatur aliran sungai. Dengan memanfaatkan bendungan itu, Hideyoshi kemudian membanjiri benteng tersebut yang menyebabkan musuh akhirnya menyerah akibat hambatan logistik, tanpa ada korban seorang pun.

Kedua, tentang kemampuan merangkul banyak pihak. Seperti dijelaskan di atas, salah satu kelebihan Hideyoshi adalah kepiawaiannya dalam berunding. Kemampuan ini sebenarnya tidak muncul begitu saja, tapi merupakan hasil dari interaksi dengan banyak orang yang pernah ditemuinya, terutama ketika dirinya masih keluyuran tak tentu arah. Hideyoshi mengaku bahwa banyaknya pergaulan yang dilakoninya menyebabkan dirinya mengenal berbagai karakter orang sehingga akhirnya dapat “membaca” siapa yang dihadapinya. Selain itu, dia juga terus menjalin komunikasi dengan orang – orang yang pernah berhubungan dengannya, karena pertemanan itu adalah aset menurutnya. Teman – teman lamanya benar – benar sangat membantu dirinya ketika menjalankan beberapa mission impossible yang diperintahkan oleh Nobunaga, di saat para pesaingnya di dalam klan Oda tidak mampu melakukannya.

Di Jepang, membicarakan tokoh yang satu ini seakan tidak pernah habis – habisnya. Sinetron – sinetron sejarah yang selalu diproduksi oleh NHK (TVRI-nya Jepang) pun, ceritanya tidak akan jauh aroma samurai yang berpengaruh ini. Bahkan salah satu relasi saya yang orang Jepang yang kebetulan suka dengan kotak katik ramalan melalui pembacaan garis tangan, suatu waktu pernah menerangkan ke saya kehebatan garis tangan Hideyoshi. Jika kamu buka telapak tangan kanan, katanya, ada garis yang bermula dari pertengahan telapak bagian bawah mengarah ke atas, ke jari tengah. Itulah yang disebut garis kesuksesan; semakin panjang garisnya maka akan semakin sukses orangnya. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa setahunya, sampai saat ini satu – satunya orang Jepang yang garis kesuksesannya lurus sampai menyentuh pangkal jari tengahnya adalah Hideyoshi itu.

Kalau Hideyoshi terlahir sebagai seorang ningrat, tentu bisa dibilang nasib baiklah yang menyebabkan dirinya jadi seorang yang berpengaruh. Tapi saya yakin, dia tidak pernah mengira bahwa dirinya memiliki hoki yang sedemikian bagus. Pastinya, dia hanya punya satu tekad bulat bahwa nasibnya harus berubah. Garis tangan saja tidak cukup, tapi harus ditambah dengan “campur tangan”, kata teman saya yang lain.

Memang, meskipun Tuhan sudah menentukan takdir setiap orang yang lahir ke dunia, tapi Tuhan tidaklah otoriter. Masih ada celah yang bisa diubah oleh manusia melalui usaha yang dilakukannya. Cukuplah kita renungi firman-Nya untuk memberikan motivasi kepada kita untuk terus bekerja: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Kisah masyur tentang Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mungkin bisa memberikan inspirasi dan semangat kepada kita untuk tidak mudah menyerah. Pada saat masih jadi pelajar, Ibnu Hajar merasa bahwa dirinya serba lambat untuk menangkap pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Putus asa dengan hal ini, beliau sampai menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak berbakat dan ingin pulang saja ke kampungnya. Di tengah perjalanan pulang, beliau kehujanan dan akhirnya berteduh di sebuah rumah. Di saat itulah Ibnu Hajar secara tidak sengaja melihat air hujan yang menetes dari atap jatuh mengenai batu di bawahnya. Dan batu itu ternyata berlubang tepat di tempat air menetes! Tersentak dengan hal itu, beliau akhirnya tergesa kembali lagi ke madrasah untuk melanjutkan belajarnya. Batu saja bisa bolong oleh tetesan air, masak saya nggak bisa pinter, pikirnya. Dan akhirnya, kita mengenal beliau sebagai Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, salah seorang ulama pakar hadits yang terkemuka. Ibnu Hajar sebenarnya adalah nama julukan yang artinya anaknya batu, mengingatkan orang akan episode turning point yang pernah dialaminya dalam upaya menuntut ilmu tadi.

Jadi, marilah kita banyak – banyak memeras keringat untuk menggurat sendiri garis tangan diri kita ini. Dan jangan lupa, sertailah dengan doa kepada-Nya supaya mendapat hasil yang terbaik dan dapat memberikan manfaat, tidak saja buat diri kita sendiri, tapi juga untuk sesama.

*Ungkapan bahasa Jawa yang artinya menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: