Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Paradoks Kampanye Global Lingkungan Hidup

Posted by imambudiraharjo on September 4, 2009

Dengan semakin terasanya dampak negatif dari perubahan iklim dewasa ini, isu lingkungan nampaknya sudah menempati agenda penting yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Berbagai slogan yang diberi label dengan kata eco pun sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Bahkan dalam level internasional, berbagai konferensi yang membahas tentang lingkungan sudah tidak terhitung lagi banyaknya, yang hasilnya semua mengarah kepada satu kesimpulan: selamatkan bumi dari kerusakan lingkungan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pihak yang dominan menyuarakan isu kerusakan lingkungan dan perubahan iklim adalah negara – negara maju. Bukan hanya sekedar wacana, bahkan terkadang sampai pada gertakan politik maupun ekonomi terhadap negara – negara (berkembang) yang mereka anggap tidak peduli dengan masalah lingkungan.

Saya setuju bahwa masalah lingkungan adalah isu serius yang harus diselesaikan secara bersama – sama oleh warga dunia. Meskipun demikian, saya juga ingin mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya janggal terkait kampanye ini. Kita mulai dengan sedikit sentuhan sejarah.

Negara – negara maju saat ini, terutama negara – negara Eropa dan Amerika, adalah pihak yang paling diuntungkan oleh revolusi industri/manufaktur dan kolonialisme. Tidak susah untuk menemukan catatan sejarah bahwa negara – negara yang sekarang ini lantang berteriak tentang HAM bagaikan superhero kemanusiaan, dulunya adalah bangsa – bangsa yang justru menginjak – injak HAM sampai pada titik nadirnya. Atas nama 3G (Gold, Glory, Gospel), Spanyol menghancurkan bangsa Aztec, Maya, Inca, dan yang lainnya, sambil merampok kekayaan mereka untuk dibawa ke negerinya. Portugis, Belanda, Italia, dan Inggris juga setali tiga uang perilakunya. Bahkan dengan jumawa, salah satu otoritas keagamaan saat itu membagi dunia menjadi 2 belahan untuk dijadikan ladang berburu bagi Spanyol dan Portugis.

Perampokan kekayaan disertai peninggalan ranjau kehancuran mental dan budaya di tanah jajahan menyebabkan jurang lebar yang menganga di antara negara – negara maju dan miskin/berkembang tidak juga merapat. Bahkan faktanya, ngarai perbedaan itu kian lebar karena jebakan sistem ekonomi yang dipasang negara – negara maju begitu kuat mencengkeram dunia saat ini. Inilah neokolonialisme. Bila tempo dulu adalah penjajahan secara fisik, maka dominasi kolonialisme sekarang adalah penjajahan secara sistem, baik ekonomi, politik, maupun kebudayaan.

Dengan materi hasil garongan tadi, para kolonialis membangun negeri mereka sampai akhirnya menjadi seperti sekarang ini. Tapi sayangnya, kemajuan/industrialisasi itu juga harus dibayar mahal dengan degradasi lingkungan yang parah. Buruknya udara di London pada abad ke-20 sehingga siang hari bagaikan malam yang diakibatkan oleh kabut asap (smog), merupakan salah satu episode yang banyak dikisahkan di buku – buku pelajaran. Atau hujan asam (acid rain) di beberapa belahan Eropa yang mengakibatkan lumernya patung – patung tembaga dan meranggasnya sebagian hutan juga merupakan fakta yang tidak kalah terkenalnya.

Menyadari efek yang tidak menguntungkan tadi terutama bagi eksistensi manusia itu sendiri, industrialisasi kemudian ditata ulang dengan memperhatikan aspek lingkungan. Berbagai penelitian sains dan teknologi yang dapat mengurangi beban lingkungan pun intensif dilakukan. Meskipun demikian, mereka masih saja menjadi penyumbang polusi terbanyak saat ini untuk menjaga roda ekonominya tetap berputar, karena teknologi bersih itu tidak mungkin diterapkan di semua lini industri terutama disebabkan oleh faktor biaya.

Nah, bagaimana dengan negara – negara berkembang?

Tentu semua bangsa ingin dirinya maju. Dan untuk maju, penguasaan sains dan teknologi merupakan suatu keharusan, disamping hal lainnya yang juga penting, yaitu modal. Disinilah dilema yang dihadapi oleh negara berkembang. Jika dengan mengandalkan kekuatan sendiri, maka langkah yang akan ditempuh mungkin akan sama dengan yang pernah dilalui negara – negara maju. Lingkungan akan menjadi korban, karena teknologi relatif rendah yang mereka kuasai akan menjadi pilihan yang logis dikarenakan keterbatasan modal untuk mengimpor teknologi yang mahal.

Dengan demikian, tekanan dari negara maju terkait konsideran lingkungan dalam kebijakan pembangunan negara berkembang, seperti desakan agar Cina dan India juga ikut berpartisipasi dalam pengurangan emisi CO2 sesuai dengan amanah protokol Kyoto, mengandung 2 kesimpulan:

Pertama, negara maju tidak ingin eksistensinya terganggu oleh degradasi lingkungan yang diakibatkan oleh ekses pembangunan di negara berkembang. Mengapa? Karena dampak kerusakan lingkungan tidak hanya akan mengena wilayah tertentu saja, tapi akan menyebar secara global. Anomali pola iklim yang terjadi belakangan ini adalah salah satu bukti yang tidak terbantahkan. Negara maju pastinya tidak mau menderita oleh sesuatu yang diakibatkan oleh ulah negara berkembang. Terlepas soal lingkungan, negara maju harusnya bersikap fair dengan kebijakan pembangunan negara berkembang. Jika mereka maju dengan pernah mengorbankan lingkungan karena faktor teknologi yang masih prematur yang baru mereka kuasai pada saat itu, maka negara berkembang pun punya hak yang sama jika mereka tidak ingin menggunakan teknologi canggih yang belum mereka kuasai dan harus diimpor dengan ongkos yang mahal.

Kedua, himbuan (desakan?) agar negara berkembang lebih concern dengan lingkungan disertai ancaman boikot terhadap produk ekspor ke negara maju menyebabkan kampanye lingkungan hidup juga menjadi promosi terselubung teknologi bersih yang sudah mereka kuasai. Intimidasi secara tidak langsung ini akan membuat negara berkembang mau tidak mau mengadopsi teknolgi mahal yang ditawarkan oleh negara maju, dalam upaya pengurangan beban lingkungan dalam konteks pembangunannya. Kondisi ini jelas akan semakin memperpanjang dominasi atau jeratan ekonomi negara maju atas negara berkembang, yang biasanya melalui mekanisme hutang. Apabila memang isu lingkungan adalah masalah bersama, maka penyebaran teknologi bersih seharusnya tidak boleh dipandang sebagai bagian dari upaya marketing suatu bisnis semata. Negara maju seharusnya memasukkan komponen tanggung jawab lingkungan di dalamnya, sebagai kompensasi atas dampak lingkungan yang pernah mereka hasilkan atas kemakmuran yang dicapai saat ini.

Selain itu, hal lain yang jelas – jelas paradoksal terhadap isu lingkungan terutama adalah transaksi hasil hutan, yang menunjukkan sikap hipokrit negara maju terhadap upaya pelestarian lingkungan. Sudah menjadi rahasia umum jika produk illegal logging banyak memasuki pasar negara maju lewat jalur yang tidak resmi. Di satu sisi, negara maju begitu protektif dengan kelestarian sumber daya hutannya, tapi di sisi lain mereka tutup mata dengan kayu-kayu haram yang masuk ke pasar mereka dari negara-negara tropis yang notabene adalah negara berkembang, hasil dari illegal logging yang menghancurkan eksistensi hutan tropis.

Oleh karena itu, kampanye global lingkungan seharusnya tidak hanya melihat kondisi yang terjadi sekarang saja, tapi harus memperhatikan pula faktor kesejarahan yang melatarbelakanginya. Bila kampanye dan dialog mengenai masalah lingkungan yang berlangsung sejauh ini malah cenderung mengarah kepada saling lempar tanggung jawab atas dampak lingkungan yang muncul, maka dengan pandangan yang memasukkan faktor sejarah tadi, dialog dan kampanye diharapkan benar – benar menjadi jembatan komunikasi yang efektif untuk bersama – sama menyelesaikan masalah yang ada. Yang jadi persoalan adalah, apakah negara maju mau melepaskan baju egoisme kesejarahan untuk bersikap fair terhadap dunia yang lain (the rest world)?

One Response to “Paradoks Kampanye Global Lingkungan Hidup”

  1. Mptgar said

    Mereka mengeluh tentang lingkungan hidup, tetapi pabriknya tetap dikembangkan untuk memproduksi mesin2 yg menggunakan system pembakaran. Pantaskah mereka dipercaya???
    Menurut sy sebaiknya negara berkembang tdk perlu peduli dgn himbauan mereka, lakukan saja apa yg bisa dilakukan utk memajukan negaranya masing2. Sampai nanti dititik tertentu semua negara harus terpaksa serius menanganinya.
    Suatu hal yg menjadi kekuatan masyarakat negara berkembang adalah bahwa mereka sudah terbiasa dgn derita, berbeda dgn masyarakat negara maju, mereka harus hidup nyaman. Seharusnya merekalah yg harus membayar mahal soal kenyamanan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: