Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Belajar dari Azzam

Posted by imambudiraharjo on September 6, 2009

Kata – kata Husna itu langsung melecut jiwanya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus buktikan pada dunia bahwa ia mampu untuk sukses dan berguna. Ia kembali mengingat perkataan Vince Lombard:

Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa maka akan menjadi kebiasaan!

Bagi sebagian penikmat novel (Islami), kalimat di atas mungkin sudah tidak asing lagi. Apalagi ada tokoh yang bernama Husna. Ya, kalimat di atas adalah sepenggal tulisan dari bab ke-27 dari jilid kedua novel Ketika Cinta Bertasbih karya novelis muda bertangan dingin, Habiburrahman El Shirazy. Adapun tokoh utama dalam novel ini tidak lain adalah kakaknya Husna, yaitu Azzam.

Bagi saya, novel ini begitu menarik karena penuh dengan pesan – pesan yang mendalam. Bahkan daya tariknya sudah dimulai sejak kata pengantar, yang  disampaikan dengan sangat apik pula oleh DR. La Ode Kamaludin. Dalam sebagian pengantarnya, Pak Kamaludin memberitahu kita bahwa tidak sedikit mahasiswa cerdas asal Indonesia yang hanya bermodal nekad tapi berani terjun bebas menuntut ilmu di luar negeri. Saya tidak menyangsikan hal ini. Salah seorang guru saya yang mengambil studi pasca sarjana di luar negeri pun juga pernah bercerita bahwa teman sekamarnya di asrama dulu adalah seorang doktor tempe. Bukan karena penelitiannya tentang tempe, tapi karena beliau berjualan tempe ke para mahasiswa Indonesia lainnya untuk membantu menutup biaya kuliah doktoratnya. Sekarang, ‘doktor tempe’ ini menjadi pengajar di negeri jiran, dan dikenal sebagai salah seorang pakar perbandingan agama yang otoritatif di Asia Tenggara.

Nah, dalam Ketika Cinta Bertasbih, Azzam digambarkan sebagai seorang mahasiswa yang sembilan tahun sudah di Kairo tapi tidak juga kelar kuliah sarjananya dikarenakan berjualan tempe dan bakso. Padahal normalnya empat tahun saja waktu yang diperlukan untuk menggondol gelar Lc (Licente). Padahal pula, dia pernah mendapatkan yudisium tertinggi (jayyid jiddan), yaitu ketika naik ke tingkat kedua. Ditambah pula obsesinya yang menggebu ketika di tingkat satu, untuk menjadi cendekiawan yang disegani dengan embel – embel sederet gelar akademis.

Lha kok, malah jualan tempe dan bakso?!

Yah, akhirnya semua kembali ke realitas. Saat naik ke tingkat 2, ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Inilah titik balik bagi Azzam, yang memberinya pilihan yang serba sulit: menetapi idealismenya ataukah menggantikan posisi sang ayah sebagai ujung tombak keluarga dalam mencari nafkah.

Dengan prestasinya itu, Azzam tentu tidak akan sulit memperoleh beasiswa. Bila pintar – pintar mengaturnya, tentu sebagian bisa dikirimkan ke ibunya untuk membiayai sekolah adik – adiknya dan membantu nafkah keluarga. Tambahan keuangan buat dirinya bisa saja dicari misalnya dengan menerjemahkan buku – buku berbahasa Arab atau usaha sampingan lainnya. Meminjam ungkapan salah satu entrepreneur terkenal, keadaan ini disebut dengan ‘usahanya jangan sampai mengganggu kuliahnya’.

Tapi rupanya kondisi yang dihadapi Azzam lebih dari sekedar yang dibayangkan. Sejak ayahnya meninggal, ibunya justru sakit – sakitan sehingga tidak memungkinkan untuk bekerja mendapatkan biaya yang memadai, baik untuk keperluan sehari – hari maupun biaya sekolah adik – adiknya yang masih kecil. Akhirnya, demi memikul tanggung jawab keluarga, Azzam kemudian memilih menempuh jalur ‘kuliahnya jangan sampai mengganggu usahanya’. Singkat cerita, setelah adik – adiknya berhasil menyelesaikan pendidikan diploma dan sarjana serta dapat hidup mandiri, Azzam akhirnya menyelesaikan kuliahnya setelah sekian  lama membanting tulang diiring tetesan keringat dan air mata demi menafkahi keluarganya.

Bagi saya, yang menarik disini adalah tatkala Azzam memutuskan untuk lebih memprioritaskan keluarganya dibandingkan studinya. Sebuah pilihan yang tidak gampang, apabila dia tidak memiliki sesuatu sebagai sandaran. Dan tahukah Anda, apakah sesuatu itu? Ya, keterampilannya membuat tempe dan bakso! Inilah poin terpenting menurut saya yang perlu diperhatikan.

Keterampilan, apa pun bentuknya, adalah bagaikan senjata dalam sebuah upaya survival. Semakin banyak keterampilan atau keahlian yang kita miliki sama artinya dengan fleksibelnya kita dalam memilih senjata mana yang sesuai untuk digunakan dalam pertarungan hidup atau mati. Inilah modal yang sangat penting untuk menghadapi berbagai skenario masa depan yang tidak bisa kita prediksi. Cepatnya perubahan menuntut pula cepatnya antisipasi serta respon yang terbaik. Orang dengan banyak keterampilan akan lebih tenang dan tangguh dalam menghadapi tantangan hidup, karena memiliki lebih banyak bekal. Bahkan, keterampilannya justru akan semakin berkembang seiring dengan bertambahnya hambatan yang menghadangnya. Permasalahan bertubi – tubi justru seakan menjadi batu penggosok yang berkali – kali mengasah dirinya, sehingga akan semakin membuatnya tampil kemilau.

Ah, saya jadi teringat satu hal. Di kampungnya Doraemon kebetulan ada ungkapan: naraku no soko ga fukai hodo, hito ga ookiku naru. Artinya, semakin dalam kejatuhan/kegagalan yang dialami seseorang akan menjadikannya semakin besar/dewasa. Tentunya kalimat ini tidak ditujukan untuk yang bermental cengeng yang hanya menggantungkan diri pada fasilitas dan uluran tangan orang lain. Oleh karena itu, banyak – banyaklah belajar apa saja dan dari siapa saja untuk melengkapi diri dengan keterampilan supaya kita tegak dalam menghadapi terjangan angin cobaan.

Nah, itulah kisah si Azzam. Boleh jadi secara akademis nilainya biasa – biasa saja, tapi indeks tahan bantingnya di universitas kehidupan pasti melebihi nilai rata – rata. Bagaimana dengan kita? Sudah siapkah kita menghadapi kondisi yang tidak terduga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: