Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

From Pittsburgh with Lessons

Posted by imambudiraharjo on October 4, 2009

Setelah sidang umum PBB yang diadakan pada bulan September lalu, di Pittsburgh, Pennsylvania, AS, diselenggarakan pula Pittsburgh Summit, yaitu pertemuan puncak para kepala negara untuk membahas  krisis finansial global. Terlepas dari agenda apa saja yang dibahas pada pertemuan itu, tapi ada satu hal yang nampaknya perlu kita ketahui dan pelajari bersama, yaitu tentang kota Pittsburgh itu sendiri. Menarik untuk membahas kota yang satu ini, karena ternyata krisis keuangan global tidak berpengaruh terlalu banyak pada kelancaran roda ekonominya bila dibandingkan dengan kota – kota besar yang lain di AS.

Bila Detroit dikenal dunia melalui industri otomotifnya yang direpresentasikan oleh the Big Three (GM, Ford, dan Chrysler), maka Pittsburgh terkenal sebagai kota baja. Tapi sebutan itu hanya bertahan sampai dengan akhir tahun 1970an saja, karena pada dekade 1980an industri baja mengalami kemerosotan. Pada saat industri itu mencapai puncak kehancurannya, tingkat pengangguran di Pittsburgh sampai menembus angka 18%, yang berarti sekitar satu dari 5 orang  di kota itu adalah penganggur.

Tapi mengapa sekarang kota ini seolah imun terhadap krisis yang skalanya digambarkan melebihi kejadian serupa di tahun 1928? Apakah industri baja berhasil bangkit kembali dengan topangan kaki yang lebih kuat sehingga tetap tegak terhadap terpaan angin krisis? Jawabannya negatif. Ternyata, Pitssburgh menjadi kota dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil justru setelah meninggalkan sektor industri baja yang dulu pernah membuatnya jaya itu.

Reformasi struktur industri dan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah kota Pittsburgh beberapa saat setelah hancurnya industri yang menjadi label kota itu sungguh luar biasa. Diperlukan keberanian yang ekstra untuk mengubah sesuatu yang sudah menjadi tradisi serta kecermatan yang jitu dalam mengambil pilihan yang prospektif bagi kesinambungan eksistensi kota itu. Hal inilah yang menyebabkan NHK, stasiun TV nasional Jepang, beberapa waktu lalu sampai menurunkan liputan khusus tentang keajaiban reformasi di Pittsburgh. Wajar saja, mengingat Jepang sendiri sedang tertatih bangun setelah mengalami pukulan telak krisis ekonomi. Dari wawancara terhadap beberapa pejabat pemerintah kota yang bertanggung jawab terhadap perumusan kebijakan pembangunan, di dapat satu kata kunci untuk menjelaskan mengapa mereka berani mengeluarkan kebijakan yang radikal tersebut, yaitu adanya perencanaan jangka panjang yang konsisten.

Sebagaimana jamak diketahui bahwa Pennsylvania, negara bagian dimana Pittsburgh berada, yang terletak di pantai timur AS memiliki tradisi intelektual yang panjang dan berkelas. Universitas Pennsylvania  yang merupakan salah satu perguruan tinggi swasta tertua di negerinya Obama itu juga merupakan salah satu anggota perkumpulan universitas kelas wahid di AS, yang lebih dikenal dengan sebutan the Ivy League. Ahmad Zewail, profesor kimia dan fisika di California Institute of Technology (Caltech) yang  pemenang Nobel kimia tahun 1999 atas kontribusinya dalam merintis bidang femtokimia juga merupakan jebolan  the Penn, sebutan akrab universitas itu. Selain bidang sains dan teknologi, universitas ini terkenal pula dengan keberadaan Wharton School of Business, yang merupakan salah  satu sekolah bisnis dan manajemen terbaik disamping Harvard dan Northwestern (Kellog School of Business). Budiono, mantan gubernur BI yang kemudian menjadi wapres RI periode 2009-2014 adalah salah satu alumni Wharton. Diluar the Penn, ada pula universitas Lehigh yang kuat dalam tradisi riset sains dan teknologi. Di universitas inilah, salah satu putera terbaik bangsa Indonesia yaitu Nelson Tansu, berkiprah dalam riset mutakhir tentang teknologi nano. Dia juga merupakan salah satu profesor termuda di sana, yang menyandang gelar itu pada saat berusia 26 tahun.

Setelah mengalami seretnya roda ekonomi akibat kehancuran industri baja dan menyadari bahwa mereka  diuntungkan dengan keberadaan atmosfer akademis yang berkualitas itu, maka pada akhir 1980an pemerintah kota Pittsburgh melakukan langkah penting dengan mentransformasi industri baja yang merupakan industri utama, ke industri bermuatan teknologi tinggi seperti farmasi, robot, dan pemrosesan logam langka (rare metal processing).

Sudah barang tentu proses perubahan struktur industri tadi tidaklah semudah membalik telapak tangan, karena diperlukan tahapan – tahapan serius untuk menyiapkan berbagai perangkat baik lunak maupun keras sehingga pelaku industri hi-tech maupun para pemodal mau untuk menjalankan bisnis dan menanamkan investasinya di Pittsburgh. Disinilah pentingnya perencanaan jangka panjang seperti yang tersebut di atas. Rencana jangka panjang dengan urutan tahapan serta target waktu yang jelas dan rasional akan sangat menentukan tingkat kepercayaan para pelaku usaha dan investor bahwa kota itu memang prospektif untuk kegiatan bisnis. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah konsistensi pemerintah kota dan seluruh elemen masyarakat dalam mengimplementasikan dan mengawal agenda transformasi industri tadi.

Dengan tahapan yang direncanakan secara baik serta komitmen dalam implementasinya, Pittsburgh akhirnya sukses melakukan transformasi industrinya. Kota ini sekarang dikenal  sebagai salah satu pusat industri teknologi tinggi di AS yang relatif stabil roda perekonomiannya.

Belajar dari transformasi industri di Pittsburgh, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

Pertama, perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik bukanlah sesuatu yang mustahil. Hanya saja yang musti dipahami disini bahwa prosesnya memerlukan tahapan dan target yang jelas, serta waktu yang tidak sebentar. Disinilah pentingnya konsensus di antara seluruh komponen masyarakat untuk berkomitmen menjaga agenda perubahan itu, serta sinergi yang produktif antara pemerintah dengan masyarakat dalam mewujudkan setiap tahapan dari rencana tersebut. Kaitannya dengan hal ini, maka kepentingan sesaat yang biasanya muncul dalam setiap kegiatan politik seperti pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum rasanya tidak pantas untuk dikedepankan. Akan lebih elok bila pada saat pergantian pejabat pemerintahan, pejabat lama dan baru saling berdiskusi untuk mengevaluasi capaian dari setiap tahapan rencana jangka panjang yang ditargetkan. Dengan demikian segala sumber daya di masyarakat dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk meraih target yang telah dicanangkan, dan bukannya memulai dari nol lagi sebagai akibat balas dendam politik yang akhirnya memunculkan jargon sinis “ganti pejabat ganti kebijakan”.

Kedua, keputusan yang tepat untuk memilih format atau struktur ekonomi yang baru dari banyak pilihan yang tersedia mensyaratkan sumber daya birokrasi yang berkualitas. Dalam sebuah institusi yang menentukan kepentingan publik, para anggotanya dituntut untuk mampu menemukan, mendeskripsikan, dan merumuskan akar persoalan, serta melakukan analisis untuk pemecahannya. Yang terpenting disini adalah pemecahan yang komprehensif, berdampak positif, dan berjangka panjang. Hal ini perlu ditekankan karena kebocoran maupun borosnya sumber daya pembangunan tidak saja berasal dari faktor bobroknya moral aparatur seperti korupsi, tapi juga dari kebijakan yang tidak tepat sasaran dan berjangka pendek.

Terlepas dari ketidaksukaan sebagian masyarakat kita terhadap negeri paman Sam itu, tidak ada salahnya jika kita belajar tentang hal – hal positif yang ada di sana. Dan salah satunya adalah Pittsburgh itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: