Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Revolusi Otomotif Milik Cina!

Posted by imambudiraharjo on November 4, 2009

Bila saat ini khalayak diramaikan oleh wacana emisi nol terhadap kendaraan bermotor, maka boleh jadi hal tersebut bakal menjadi akselerator bagi timbulnya revolusi otomotif pada abad ke-21 ini. Jika kemunculan Ford model T satu abad lampau merupakan monumen kemenangan mesin berbahan bakar bensin atas baterai listrik sebagai tenaga penggerak kendaraan, maka baterai listriklah yang sepertinya akan menjadi jawara pada abad ini.

Meskipun teknologi hibrida yang mengkombinasikan penggunaan mesin bakar dan motor mungkin menjadi jawaban yang realistis untuk mengakomodasi isu lingkungan yang berkembang saat ini, namun hal itu sepertinya tidak akan berlangsung lama. Bagaimana tidak, meskipun penjualan Prius berhasil melampaui angka 2 juta unit sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1997, tapi Toyota akhirnya memutuskan menunda peluncurannya dari pabrik barunya di Mississippi yang dibangun khusus untuk memproduksi mobil hibrida tersebut. Awalnya, Prius hasil produksi pabrik itu direncanakan akan dipasarkan pada kuartal ke-4 tahun 2009 ini.

Tidak dapat dipungkiri, lompatan dari penggunaan mesin bakar ke baterai listrik tidaklah mudah dikarenakan masih minimnya ketersediaan sarana pendukung untuk itu. Namun hal itu rupanya tidak menyurutkan langkah fabrikan besar seperti Nissan, yang justru mengundang pihak ketiga untuk menyediakan fasilitas charging di berbagai tempat di AS. Bahkan lebih jauh lagi, Nissan mengubah 1 diantara 3 jalur perakitan mereka di Tennessee, khusus untuk memproduksi mobil listrik dengan kapasitas produksi 150 ribu unit per tahun. Dan tidak tanggung – tanggung, sang bos yaitu Carlos Ghosn pun melempar sesumbar bahwa Nissan lah yang paling siap untuk produksi mobil listrik secara masal.

Dibandingkan dengan mesin bakar yang memiliki konstruksi rumit serta berpresisi tinggi, sistem penggerak yang menggunakan baterai listrik jauh lebih sederhana. Bila jumlah blok komponen pada satu unit kendaraan berbahan bakar minyak sekitar 30 ribu buah, maka untuk mobil listrik hanya memerlukan 10 ribu komponen saja. Penurunan jumlah komponen secara signifikan ini secara otomatis akan mempengaruhi sistem rantai pasok yang telah terjalin diantara fabrikan dengan para supplier-nya. Dalam hal ini, yang paling terpukul tentunya adalah para pemasok komponen mesin. Selain itu, karena baterai listrik tidak menghasilkan panas sebagaimana mesin bakar, maka pelat besi tidak akan lagi diperlukan untuk body kendaraan. Material ringan yang terbuat dari plastik berkekuatan tinggi yang akan menggantikan fungsi pelat besi tersebut.

Karakteristik – karakteristik inilah yang menyebabkan kendaraan listrik tidak hanya akan diproduksi oleh para fabrikan besar saja, tapi juga oleh perusahaan kecil dan menengah. Di Cina, mobil listrik berukuran kecil tidak dikenakan pajak, bahkan tidak perlu menggunakan pelat nomor segala. Ditambah dengan harganya yang jauh lebih murah menyebabkan permintaan terhadap kendaraan jenis ini terus meningkat, terutama di daerah pedesaan. Sehingga tidaklah mengherankan bila home industry yang memproduksi mobil listrik berukuran kecil terus bermunculan di Cina. Selain perusahaan skala kecil dengan beberapa puluh karyawan, perusahaan otomotif skala besar pun juga ikut ambil bagian dalam kompetisi mobil listrik ini. BYD Auto yang memiliki puluhan ribu karyawan, saat ini sudah memproduksi kendaraan listrik yang mampu menempuh jarak 300 km sekali jalan. Meskipun ada yang skeptis dengan kemampuan mobil itu mengingat beratnya yang sekitar 2 ton, tapi bahkan wakil predir Nissan bidang enjiniring tidak menyangkal bahwa peningkatan performansi dan kualitas hanyalah soal waktu saja.

Bila sekarang ini fabrikan Cina lebih banyak memenuhi kebutuhan pasar domestik, maka Reva yang dari India berhasil menembus pasar Eropa untuk mobil listrik berukuran kecil mereka. Jalanan dalam kota di Eropa yang relatif sempit merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kendaraan ini dapat diterima oleh masyarakat sana, disamping faktor legal pro lingkungan yang sudah dijalankan.

Lain lagi dengan di AS. Tren produksi mobil listrik justru malah berkembang di Silicon Valley yang selama ini terkenal dengan industri ICT. Prospek yang menjanjikan dari kendaraan listrik menyebabkan tidak sedikit para pemodal ventura yang menanamkan uangnya untuk inisisasi perusahaan – perusahaan pembuat kendaraan berpenggerak baterai listrik. Salah satu perusahaan yang saat ini sudah beroperasi adalah Tesla Motor, yang membuat mobil listrik bergaya sport untuk kalangan menengah ke atas. Dengan banderol harga yang tidak murah, yaitu sekitar 100 ribu dollar per unit, Tesla berhasil membukukukan penjualan sebanyak 800 unit sejauh ini. Demi melihat catatan yang mengesankan itu, raksasa Google pun akhirnya ikut membenamkan sebagian uangnya di Tesla.

Tidak cukup sampai disini, Google bahkan melangkah lebih jauh dengan berpartisipasi pada proyek sistem distribusi listrik efisien yang disebut dengan smart grid, dan berperan sebagai data integrator. Kendaraan listrik yang dapat di-charge menggunakan listrik rumah tangga adalah salah satu komponen dari sistem tersebut. Karena tulisan ini tidak akan membahas smart grid, maka penjelasan tentang hal itu dapat ditelusuri dari sumber – sumber yang lain.

Meskipun banyak pihak berlomba – lomba untuk saling mendahului dalam merebut pasar kendaraan generasi baru ini, tapi nampaknya yang paling diuntungkan dari gelombang revolusi otomotif ini adalah Cina. Hal ini karena kunci dari teknologi motor hibrida maupun baterai adalah pada rekayasa material terutama rare earth (RE) dan Lithium (Li), dimana Cina memiliki cadangan yang melimpah. Negara itu bahkan menyuplai 95% kebutuhan RE dunia saat ini, sedangkan sisanya dipasok oleh India dan Afrika Selatan.

Kebijakan Cina untuk mengurangi kuota ekspor RE menyebabkan perubahan yang signifikan dalam peta rantai pasok komponen motor maupun baterai listrik, karena akan memaksa pihak fabrikan untuk sourcing komponen vital tersebut di Cina jika tidak ingin produksi mereka terganggu. GM bahkan sudah memindahkan divisi riset miniaturisasi magnet beserta seluruh staf mereka ke Cina sejak tahun 2006. Strategi perdagangan RE oleh Cina ini, secara jangka panjang akan menjadikan mereka sebagai pusat litbang teknologi RE, sekaligus pemain kunci dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik.

Tidak lama lagi, Cina sepertinya akan benar – benar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Jika para ilmuwan dan insinyur mereka dulu jauh – jauh pergi ke Silicon Valley untuk ikut menciptakan keajaiban teknologi informasi, kini mereka cukup beraktivitas di halaman rumah sendiri untuk menciptakan keajaiban teknologi lainnya.

*Tulisan ini terinspirasi oleh acara NHK Special yang bertajuk “Jidousha kakumei (Automobile revolution)”, yang ditayangkan pada tanggal 18 & 25 Oktober 2009. Bahan pendukung diperoleh dari internet, misalnya Wikipedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: