Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Cinta Yang Tak Rumit dari Faiz

Posted by imambudiraharjo on November 10, 2009

Oleh: Helvy Tiana Rosa

Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.

Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum lebar Faiz.

“Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu….”

“Assalaamu’alaikum….”

“Mari Oma, mari Opa…”

“Dari mana, Tante?”

“Wah hari ini Kakak berseri sekali!”

“Mau kuliah, Bang?”

“Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?”

Dan seterusnya….

Saat ia duduk di kelas II SD , saya pernah bertanya pada Faiz,” Mas Faiz, apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?”

Faiz tertawa. “Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain. Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda.”

Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum berumur delapan tahun. “Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu mungkin sudah milyaran,” ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.

Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah, mereka kerap membicarakan Faiz.

“Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali.”

“Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?”

Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang banyak belajar dari Faiz!

Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk di bangku SD.

Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu dipanggilnya, diajak makan dan minum. “Hari ini di rumah masak sop dan perkedel.” Atau “Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk? Mau teh manis dingin?” Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya. “Istirahat dulu di sini, Pak. Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau mau makan nasi?”  Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota keluarga lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami tak terlalu membutuhkannya. “Apa salahnya sih menolong orang?” ujarnya.

Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.

“Ikhlas yaaa, Bunda…,” katanya sambil tersenyum manis.

Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata? Saya hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.

 

One Response to “Cinta Yang Tak Rumit dari Faiz”

  1. Nug said

    Jadi inget cerita pakdhe2 tentang H Ghozali (istri sy trmsk trah Bani Ghozali). Konon ktnya, beliau dikenal sangat dermawan. Alkisah, ktka liat tkg juwal ulekan keliling lwt dpn rmhnya, (byngin, bw batu2 berat gt kemana2…)karna kasian, diborongnya semua ulekan yg dibw tkg itu. Tntu sj tkg itu seneng bkn main. Nah, celakanya, hbs itu, dia cerita2 sm konco2nya seprofesi. Mk dtglah para tkg ulekan itu berduyun2 ke rmh H Ghozali, minta spy dagangannya diborong jg. Walhasil krn g bisa nolak, diborongnya semua ulekan2 itu. Akhirnya batu2 itu mangkrak menuh2in gudang, habis kan mau dibagi ke tetangga2 pun, uda pd punya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: