Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Rumus Keteledoran Berbuah Nobel

Posted by imambudiraharjo on November 17, 2009

Pernah membayangkan sebuah ketidaksengajaan malah justru menghasilkan sebuah karya yang diakui dunia? Kalau belum, coba tanyakan ke Koichi Tanaka, Nobelis Kimia tahun 2002. Barangkali alis Anda akan semakin berkerut sambil menggumam: yang bener aja … masak sih bisa dapat Nobel😦

Penasaran? Begini ceritanya.

Pada awal Oktober 2002, Akademi Sains Kerajaan Swedia mengumumkan keputusan mereka untuk memberikan Nobel Kimia 2002 kepada 3 orang yang berkontribusi terhadap pengembangan metode identifikasi dan analisis struktur makromolekul biologi. Ketiganya adalah Koichi Tanaka dari Shimadzu Corp, Prof. John B. Fenn dari Virginia Commonwealth University, AS, dan Prof. Kurt Wuthrich dari Swiss Federal Institute of Technology.

Dalam mempelajari makromolekul biologi, misalnya protein, spektrometri massa adalah cara yang lazim digunakan. Pada metode ini, sampel harus diionisasi dan diuapkan dengan menggunakan sinar laser. Yang menjadi masalah adalah penyinaran laser secara langsung dan intensif ke sebuah makromolekul akan mengakibatkan sampel tersebut terpecah menjadi kepingan kecil dan strukturnya menghilang. Tanaka berhasil menemukan cara mengionisasi sampel makromolekul tanpa harus kehilangan strukturnya, yaitu dengan menggunakan matrik berupa gliserin yang dicampur serbuk logam. Metode hasil temuannya itu kemudian dikenal dengan soft laser desorption (SLD).

Sebelum teknik SLD ditemukan, spektrometri massa hanya dapat mendeteksi senyawa-senyawa yang massa molekulnya relatif kecil. Metode ionisasi yang dikembangkan oleh Tanaka dan Prof. Fenn mampu menganalisis protein yang memiliki massa molekul sangat besar dengan tingkat kesalahan kurang dari 0.1%. Pengembangan metode ini memungkinkan peneliti untuk menentukan struktur 3 dimensi yang menggambarkan struktur molekul protein di dalam larutan dan bagaimana fungsi protein di dalam sel. Metode ini mendorong revolusi dari ilmu farmasi modern yang menjanjikan aplikasi di berbagai bidang seperti pengontrolan bahan pangan dan diagnosis awal pada kanker payudara dan kanker prostat.

Dengan terobosan ilmiah yang sedemikian itu, kalau yang menang para professor sih nampaknya bukan sesuatu yang aneh. Bukankah hampir semua pemenang penghargaan karya ilmiah, apalagi sekelas Field Medal dan Nobel, adalah para akademisi yang otoritatif di bidangnya? Kalaupun ada yang dari perusahaan seperti Bell Lab atau IBM, mereka adalah para peneliti yang jenius, inovatif, serta berlatar belakang pendidikan tingkat lanjut dengan pergaulan akademis yang tidak diragukan lagi.

Bagaimana dengan Tanaka? Pada saat namanya diumumkan sebagai salah seorang pemenang Nobel Kimia 2002, usianya baru 43 tahun dengan jabatan asisten manajer laboratorium ilmu hayati di Shimadzu Corp. Sebagai seorang peneliti teknik spektrometri massa, dia bahkan tidak memiliki gelar master apalagi doktor ilmu kimia. Pendidikan terakhirnya justru malah insinyur teknik elektro, jebolan Universitas Tohoku yang terkenal dengan antena Yagi-nya itu.

Setelah lulus sarjana pada tahun 1983, dia bergabung dengan Shimadzu pada proyek pengembangan spectrometer massa. Tugasnya adalah mencari matrik yang dapat menghasilkan ionisasi yang tidak bersifat merusak terhadap suatu makromolekul melalui penyerapan energi laser secara efektif. Karena belum pernah belajar tentang teori ionisasi ditambah minimnya pengetahuan kimia, Tanaka memutuskan untuk melakukan eksperimen trial and error tanpa henti terhadap ratusan sampel material di laboratoriumnya yang merupakan kandidat untuk matrik yang dimaksud.

Nah, tahukah Anda bahwa kisah penemuan matrik berupa campuran gliserin dan serbuk logam yang kemudian berkembang menjadi metode SLD itu sebenarnya adalah suatu kebetulan?

Dalam otobiografinya Tanaka bercerita bahwa suatu hari di bulan Februari 1985, dirinya tidak sengaja mencampur gliserin ke serbuk kobalt UFMP (ultra fine metal powder) untuk percobaannya. Padahal matrik yang seharusnya dia gunakan saat itu adalah serbuk kobalt UFMP. Menyadari kesalahannya, dia merasa sayang untuk membuang matrik tadi. “Mottai-nai”, katanya. Dalam bahasa Indonesia berarti “sayang banget (kalau dibuang)” atau “what a waste” dalam bahasa Inggris. “Toh kalau gliserinnya dikeringkan, UFMP masih bisa digunakan”, pikirnya.

Tanaka kemudian menempatkan matrik yang salah tadi ke tabung vakum untuk mengeringkannya. Berpikir bahwa dengan penyinaran laser mungkin akan membantu proses pengeringan, dia lalu menghidupkan laser. Untuk memastikan pengeringan gliserin itu, dia juga menghidupkan spectrometer dan mengamati hasilnya. Pada saat itulah dia menemukan puncak sebuah sinyal yang belum pernah muncul sebelumnya, bercampur dengan puncak sinyal gangguan (noise). Tanaka menyimpulkan demikian karena pada posisi dimana puncak sinyal yang baru itu muncul, biasanya hanya terlihat sinyal gangguan saja yang membuat hari – harinya terasa memusingkan. Dan puncak dari sinyal yang baru itu selalu muncul pada tempat yang sama, tidak peduli berapa kali dia mengulang – ulang percobaan tersebut.

Dari momen inilah akhirnya metode SLD ditemukan sehingga studi tentang analisis struktur makromolekul biologi dapat berkembang lebih jauh.

Dari kisah di atas, Tanaka mengajarkan bahwa blunder bisa menjadi sebuah momen untuk meraih keberhasilan. Tapi tidak sembarang kesalahan akan melahirkan kesuksesan tentunya. Dua hal di bawah ini mungkin menjadi formula yang diperlukan untuk itu.

Pertama, tidak bersikap menggampangkan diri untuk mengeliminasi sesuatu yang nampaknya tidak berguna atau tidak memenuhi sebuah persyaratan tertentu. Ini adalah pemaknaan dari apa yang Tanaka katakan di atas, yaitu “mottai-nai”. Ungkapan itu sebenarnya merupakan salah satu “mantera” yang diwariskan turun – temurun oleh masyarakat Jepang sehingga akhirnya membentuk karakter mereka untuk tidak mudah membuang – buang waktu, uang, dan sumber daya lainnya. Hal ini kemungkinan besar dilatarbelakangi oleh kondisi di sana yang yang miskin dengan sumber daya alam. Falsafah ini juga memberikan landasan berpikir bagi konsep kaizen atau perbaikan berkesinambungan (continuous improvement), yaitu sebuah upaya untuk menghilangkan pemborosan (waste) sedikit demi sedikit secara terus – menerus untuk menuju ke suatu kesempurnaan.

Pada tahapan selanjutnya, prinsip “mottai-nai” akan dapat memunculkan sikap kreatif dan mental untuk berpikir out of the box, atau meminjam istilah Edward de Bono, berpikir menyamping (lateral thinking). Tidak sedikit penemuan sains dan iptek besar lahir dari konsep berpikir nyeleneh alias keluar dari mainstream yang ada. Jika kita membiasakan anak – anak kita untuk bermental “mottai-nai” ini sejak kecil, saya yakin bangsa Indonesia akan memiliki tambahan daya dorong untuk membuatnya lebih melesat lagi.

Kedua, keseriusan dan ketelitian terhadap pekerjaan atau sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita.

Menarik untuk mengikuti kisah Tanaka. Bagaimana tidak, dengan pengetahuan yang kurang memadai tentang ionisasi tapi malah ditugaskan untuk mengumpulkan data tentang karakteristik ionisasi tersebut dari berbagai sampel. Menghadapi situasi seperti ini, saya yakin tidak sedikit yang terus patah arang dengan dalih ketidaksesuaian antara apa yang ditugaskan dengan latar belakang pendidikan. Sama halnya dengan kondisi ketika disuruh mengerjakan sesuatu yang sama sekali belum pernah kita lakukan. Nah, saat seperti ini, yang harus dilakukan hanyalah berlaku bonek seperti Tanaka: LEARNING BY DOING!

Sekedar berbagi pengalaman, saya sendiri pernah mengalaminya ketika melakukan tugas akhir. Saat itu, dosen pembimbing hanya memberikan foto kopi prosiding dalam bahasa Inggris tentang optical communications setebal 50an halaman dengan terminologi yang masih asing dan rumus – rumus yang kagak ngarti sama sekali. Pikiran saya waktu itu simpel saja: kalau baca satu kali nggak ngerti ya baca lagi; Kalau masih nggak ngerti ya baca lagi; Kalau sampai 5 kali baca nggak ngerti juga ya kebangetan🙂 Dengan pengkondisian mental seperti itu, akhirnya saya terpacu untuk segera bisa memahami apa yang tertulis di prosiding tersebut. Dan secara alami, saya tergerak untuk mencari referensi – referensi yang menjelaskan berbagai konsep yang ada di tulisan itu. Dan Alhamdulillah, tugas akhir pun rampung tepat waktu dengan penilaian memuaskan. Mohon maaf kalau terkesan narsis, tapi saya tidak bermaksud demikian🙂

Belakangan baru saya tahu bahwa jika diri kita berada pada kondisi yang kritis, atau kita paksakan pada kondisi kritis, maka sumber daya yang diperlukan akan bergerak secara alami untuk mendukung tujuan yang telah kita tetapkan. Inilah konsep mestakung alias semesta mendukung yang dicetuskan oleh Prof. Yohanes Surya, salah seorang pengasuh tim olimpiade fisika Indonesia yang sekarang menjabat rektor Universitas Multimedia Nusantara.

Dari sini dapat dimengerti bila sikap bonek yang positif seperti learning by doing akan dapat mengantar seseorang kepada suatu kesuksesan. Hal ini tidak lain karena unsur – unsur keberhasilan akan tertarik dengan sendirinya mengikuti atmosfer bonek tadi.

Nah, sudah paham rumusnya saudara – saudara sekalian?

Bahan: Situs Nobel, Wikipedia, Shimadzu Corp, dan situs chem-is-try.org.

2 Responses to “Rumus Keteledoran Berbuah Nobel”

  1. Nug said

    Yap. Spt kata slh satu teman saya, bhw kuncinya adlh ‘kepepet’, dimana ada ‘working under pressure’, barulah ‘learning by doing’ akan bekerja optimal, meng’explore’ seluruh ‘ability’ tubuh…
    Very inspiring posting. Thx.

  2. d0rman said

    bagus neh artikelnya, jadi tetap semangat dan inspirasi trs. salam kenal …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: