Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Jangan Kebanyakan Membaca!

Posted by imambudiraharjo on November 24, 2009

Bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang positif mungkin semua orang sudah paham. Membaca bagaikan menyuapi pikiran dengan makanan bergizi sehingga dapat terus aktif menyerap dan mengolah beragam ide, informasi, maupun pengetahuan. Selain memperkaya pikiran dengan pengetahuan, membaca juga dapat memperkaya jiwa sekaligus. Tidak sedikit orang yang terpuruk dalam kegagalan sehingga anjlok mentalnya tapi berhasil bangkit dan akhirnya sukses, hanya dengan membaca sebuah buku yang menyentuh dan memotivasi jiwanya.

Namun membaca saja tidaklah cukup. Perlu ada aktivitas lain untuk mengimbangi kegiatan membaca supaya pikiran dan jiwa kita selalu tampil prima.

Logikanya mungkin sama dengan aktivitas makan. Jika makanan terus masuk ke tubuh sementara tidak ada kegiatan fisik yang dilakukan, maka makanan akan disimpan oleh tubuh dalam bentuk lemak yang pelan – pelan akan mengganggu kesehatan. Untuk itulah maka perlu olah raga yang sebaiknya dilakukan secara teratur. Kegiatan itu selain dapat membakar lemak tentunya, juga akan memperlancar metabolisme tubuh sehingga jasmani akan selalu bugar. Nah, badan yang sehat dengan organ – organ pencernaan yang berfungsi baik sudah pasti akan dapat memproses makanan secara optimal sehingga tidak ada penumpukan lemak yang berlebihan.

Membaca tidak jauh berbeda dengan makan. Memberi input kepada otak secara terus – menerus sama saja menjejalinya dengan beragam pengetahuan. Memang benar bahwa jaringan otak akan terus berkembang bila kita memberinya stimulus. Namun yang jadi masalah adalah apakah dengan cara yang demikian otak malah tidak akan menjadi terbebani? Maksud saya, apakah pengetahuan itu bukannya malah menjadi sampah informasi yang analog dengan tumpukan lemak berlebih di tubuh? Tentunya ini bukanlah stimulus yang dimaksud.

Jadi, agar pengetahuan yang diserap melalui membaca tidak malah menjadi lemak informasi yang mengganggu, maka langkah yang perlu dilakukan adalah berolah otak, kemudian mengekspresikannya.

Lho, bukannya membaca adalah olah otak juga?

Iya, membaca memang bagian dari olah otak karena di dalamnya pasti terlibat proses pencernaan ide. Tapi ini tidak lebih dari langkah awal saja, sekedar untuk menginventarisasi beragam ide, pemikiran, maupun informasi. Yang dimaksud olah otak di sini adalah tahapan setelah kegiatan membaca, yaitu berpikir secara mandiri terhadap suatu hal dengan mengembangkan modal ide yang terdaftar dalam memori kita tadi, atau kalau mampu, bisa saja menumbuhkembangkan benih idenya sendiri dengan merangkai berbagai ide menjadi suatu rajutan pemikiran baru yang orisinal.

Dalam hal ini, berpikir secara mandiri adalah poin utama yang harus ditekankan. Kenapa? Sederhana saja jawabannya. Karena proses berpikir dan hasilnya, yaitu pemikiran, memiliki muatan tanggung jawab dan moral. Misalnya kasus mengaku – aku hasil karya atau pemikiran orang lain, atau yang disebut dengan plagiarisme. Tindakan ini jelas merupakan perampokan kekayaan intelektual dari si empunya ide, disamping menunjukkan kemalasan berpikir dari si plagiat. Tapi ini masalah integritas dalam skala kecil saja karena lebih bersifat individual. Yang lebih parah adalah ketika seseorang menggadaikan intelektualitasnya dengan menerima pesanan dan mengasong pemikiran yang bertujuan menyelisihi dan mengobrak – abrik mainstream yang sudah final dan terbukti mapan secara ilmiah. Di negerinya cicak lawan buaya, tipe yang kedua ini biasanya dipergoki suka mengumpul di lokalisasi prostitusi intelektual, selalu tampil nyeleneh dan bergaya genit demi mendapatkan lemparan receh dari om – om kapitalis, (neo)liberalis, orientalis, dan konco – konconya.

Nah, berpikir mandiri akan menciptakan otak yang selalu lapar dan haus akan ide atau pengetahuan baru. Ini jelas sangat berbeda dengan pelacur intelektual yang membatasi paradigma berpikirnya sekedar pada wacana genit hanya demi saweran belaka.

Jika industri manufaktur modern menggunakan sistem tarik (pull system) untuk mewujudkan arus barang yang efektif dan efisien melalui minimalisasi stok yang tidak diperlukan, maka berpikir mandiri juga akan dapat meminimalisasi tumpukan lemak informasi di otak. Oleh karena itu, paradigma membaca yang efektif yang tidak membebani otak sebaiknya diletakkan pada bingkai pembelajaran atau pemikiran tematis. Mudahnya, tentukan terlebih dulu topik apa yang ingin kita pelajari atau pikirkan daripada membaca atau mempelajari banyak hal satu persatu lebih dulu. Topik tematis yang dipatok duluan ini secara otomatis akan menarik berbagai referensi yang diperlukan untuk melengkapi bangunan ide yang sedang dibangun. Ini mungkin bisa disebut dengan metode tarik dalam berpikir (pull methode of thinking).

Ketika kerangka berpikir sudah jelas, maka tugas yang tersisa tinggal menembok dinding – dindingnya sehingga menjadi bangunan pemikiran yang utuh. Pembelajaran atau proses berpikir tematis ini ibarat membangun gedung – gedung pemikiran dalam otak, bukannya membangun sebuah gudang di otak yang kemudian dijejali dengan berbagai pengetahuan. Saat membangun itu, barulah kita mengumpulkan bahan – bahan bangunannya. Dengan paradigma yang demikian, maka setiap kita diharapkan seperti pengembang yang akan terus – menerus membangun properti intelektualnya sepanjang hayat. Tapi tunggu dulu. Agar lansekap pemikiran kita tegak menjulang dan mampu menjadi contoh peradaban yang mencerahkan, meskipun dalam skala kecil, maka kita harus menyesuaikannya dengan rencana tata ruang yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.

Dan agar arsitektur bangunan serta lansekap kompleks pemikiran itu bisa dinikmati banyak orang, maka diperlukan media untuk menggambarkannya. Menulis itulah media ekspresinya. Sedemikian pentingnya menulis ini sehingga Ali bin Abi Tholib yang merupakan khalifah keempat kaum muslimin sampai mengatakan: ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

Sebagai penutup, saya akan meminjam ungkapan Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pemikir muslim kontemporer terkemuka, yang menyentil murid – muridnya dengan kalimat: berpikirlah, jangan terlalu banyak membaca!

One Response to “Jangan Kebanyakan Membaca!”

  1. Ardiansyah said

    mantapppp.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: