Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Perelman: Idealisme Nan Tak Kunjung Padam

Posted by imambudiraharjo on December 6, 2009

Bagi para peneliti ataupun ilmuwan, penghargaan ilmiah merupakan salah satu bukti pengakuan komunitas ilmiah tempatnya berkecimpung terhadap hasil karyanya. Di antara banyak penghargaan tersebut, mungkin hadiah Nobel adalah yang paling prestisius, yang menunjukkan bahwa penerimanya adalah ilmuwan kelas wahid yang berwibawa dan otoritatif di bidangnya. Penghargaan Nobel diberikan untuk pencapaian karya ilmiah di bidang fisika, kimia, kedokteran, dan ekonomi, kemudian karya yang berpengaruh di bidang sastra, serta bidang perdamaian.

Mungkin ada yang bertanya: kok tidak ada hadiah Nobel untuk matematika? Padahal katanya matematika itu ibu dari sains.

Nah, meskipun ada beberapa dugaan mengenai keengganan Alfred Nobel untuk memasukkan matematika sebagai bagian dari obyek penghargaan yang akan diberikannya, namun kebanyakan pendapat mengatakan bahwa Nobel melihat matematika adalah ilmu yang tidak memiliki aplikasi langsung dalam kehidupan nyata sehingga bidang itu tidak kebagian hadiah darinya.

Sehubungan dengan hal tersebut, seorang matematikawan Kanada bernama John Charles Fields kemudian menggagas perlunya sebuah penghargaan untuk mengapreasiasi karya di bidang matematika. Fields Medal, penghargaan yang dinisbatkan pada namanya, akhirnya diberikan pertama kali pada tahun 1936, saat berlangsung kongres matematikawan internasional (ICM) di Oslo, Norwegia. Inilah penghargaan yang disebut-sebut sebagai Nobel-nya matematika. Tapi jangan bandingkan nominalnya. Pemenang Fields Medal “hanya” akan menerima sekitar US$15.000 saja per orang, sementara untuk Nobel, US$1,5 juta siap diterima sendiri atau maksimal dibagi 3. Meskipun demikian, penerima Fields Medal lebih melihat aspek apreasiasi atas karyanya dibanding nilai nominalnya.

Dan berbeda dengan Nobel yang diberikan setiap tahun pada tanggal 10 Desember untuk memperingati hari meninggalnya Alfred Nobel, Fields Medals diberikan tiap 4 tahun sekali, pada saat dilangsungkannya kongres matematikawan internasional. Itupun dibatasi hanya untuk matematikawan yang berumur maksimal 40 tahun! Tujuannya tidak lain agar sang ilmuwan muda tidak berhenti berkarya setelah mendapat penghargaan tersebut. Karena itu tidaklah mengherankan bila matematikawan sekelas Andrew Wiles yang berhasil membuktikan teorema terakhir Fermat pun tidak masuk nominasi, karena usianya sudah berjalan 41 tahun pada saat dirinya berhasil menemukan jawaban atas teka – teki matematika yang sudah berusia lebih dari 3 abad itu. Dari sini dapatlah dipahami bila para pemenang Fields Medal adalah manusia – menusia yang berotak encer.

Salah satu contoh adalah Terence Tao, orang Australia pertama yang menerima Fields Medal pada saat kongres matematikawan internasional di Madrid, Spanyol, pada tahun 2006. Saat itu usianya baru 31 tahun dan berprofesi sebagai profesor matematika di UCLA. Catatan lain tentang Tao adalah, dia menyabet emas pada olimpiade matematika internasional (IMO) ketika baru berumur 13 tahun, yang masih tercatat sebagai peraih emas termuda sampai saat ini. Selain itu, dia meraih doktor matematika dari Universitas Princeton pada umur 20 tahun, dan diangkat sebagai profesor penuh di UCLA ketika usianya baru 24 tahun.

Saat kongres matematika di Madrid tahun 2006 itu, ada 3 orang selain Tao yang diumumkan menjadi pemenang Fields Medal. Mereka adalah Andrei Okounkov dari Universitas Princeton, Wendelin Werner dari University of Paris-Sud, serta Grigori Perelman dari Institut Matematika Steklov, Rusia.

Namun, hajatan para matematikawan sedunia itu nampaknya menjadi momen yang melambungkan nama Perelman. Penyelesaian Perelman tentang Poincare conjecture yang terkenal sebagai salah satu problem matematika tersulit memang menimbulkan decak kagum. Bahkan si jenius Tao pun berkomentar bahwa karya Perelman adalah pencapaian matematika yang fantastis dan mungkin yang paling berhak untuk diganjar medali pada forum itu.

Nah, sebenarnya ada hal lain yang lebih menghebohkan pada kesempatan tersebut, yaitu Perelman menolak pemberian medali dan tidak datang pada kongres itu! Dia mengatakan bahwa jauh-jauh hari sudah memilih tidak akan menerima medali, ketika presiden International Mathematical Union mendatangi dan memberinya pilihan: menerima medali dan datang; menerima tapi tidak datang, dengan catatan medali akan dikirimkan kepadanya; atau tidak menerima. Perelman menambahkan bahwa jika penyelesaiannya atas Poincare conjecture itu terbukti benar, maka dirinya tidak butuh pengakuan atau penghargaan lagi. Woow, mantaapp!!!

Untuk diketahui, Poincare conjecture – sebuah teorema yang berupaya menjelaskan perilaku bentuk-bentuk multidimensional – merupakan salah satu dari 7 persoalan matematika pelik yang diumumkan oleh Clay Mathematics Institute sebagai sayembara problem millennium. Pada tahun 2000, lembaga nirlaba yang berpusat di Cambridge, Massachusetts, AS, itu mengumumkan akan memberikan hadiah sebesar US$1 juta kepada siapa saja yang berhasil memecahkan salah satu dari problem tersebut. Lagi-lagi Perelman membuat heboh. Dia menolak hadiah uang US$1 juta itu!

Bukan kali ini saja Perelman menolak beberapa penghargaan bergengsi. Dia pernah menolak penghargaan prestisius dari komunitas matematika Eropa pada tahun 1996, dengan alasan jurinya tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk menilai hasil karyanya! Perelman memang super jenius. Dia menyabet medali emas IMO dengan skor sempurna ketika umurnya baru 16 tahun.

Demi mengikuti kontroversi dari jenius yang satu ini, mungkin benak kita akan bertanya-tanya: Apa sih yang kau mau, Perelman?

Dalam wawancara dengan salah satu media, dia mengatakan bahwa dirinya kecewa dengan nilai-nilai etika yang ada di komunitas matematika. Dia menyayangkan kebanyakan matematikawan yang bersikap kompromi dan memberikan toleransi terhadap perilaku tidak jujur segelintir oknum atas apresiasi karya ilmiah pihak lain. Mungkin prinsip inilah yang menyebabkannya berulangkali menolak berbagai hadiah, meskipun dirinya memiliki kekurangan secara finansial.

Tiga tahun sebelum pengumuman Fields Medal, Perelman sebenarnya sudah mengundurkan diri dari Institut Matematika Steklov pada tahun 2003. Dia mengatakan kepada koleganya bahwa matematika adalah topik yang menyakitkan untuk dibahas. Dan saat wawancara dengan media pada tahun 2006, diketahui bahwa dirinya tidak lagi memiliki pekerjaan, tinggal dengan ibunya di Saint Petersburg, Rusia. Padahal kalau dia mau, universtas top macam Stanford maupun Princeton sudah menawarinya pekerjaan sejak dirinya belum lagi berumur 30 tahun.

Sikap Perelman merupakan tamparan yang keras bagi sebuah komunitas ilmiah. Penyebabnya jelas, karena dia ilmuwan papan atas yang memiliki reputasi ilmiah semenjak remaja. Sebagian pihak mungkin menganggap Perelman kalah dalam kompetisi, tapi menurut saya, dia telah memberikan sindiran telak kepada pihak-pihak yang memiliki cacat secara moral.

Dalam konteks bangsa Indonesia, maka paralel dengan kisah Perelman, kita dapat jumpai orang-orang macam Bung Hatta, Sultan Hamengku Buwono IX, Hamka, Hugeng, serta tokoh-tokoh moralis idealis lainnya yang lebih memilih mengalah dan mundur dari pat gulipat kepentingan, dibandingkan dengan menyokong rejim tiranik. Dan sejarah pun membuktikan bahwa merekalah orang besar yang sesungguhnya, yang tidak punya pamrih dalam membangun masyarakat dan bangsa.

Idealisme dan kejujuran pada suatu saat mungkin menjadi sesuatu yang menyakitkan menurut sebagian orang. Tapi tidak akan pernah demikian bagi yang menetapinya.

Bahan: Situs Wikipedia, BBC News, Netsains.com, fisikanet.lipi.go.id.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: