Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Politik Kepentingan atau Kepentingan Politik?

Posted by imambudiraharjo on December 10, 2009

Mungkin ada yang perlu dicermati di pentas perpolitikan Jepang saat ini. Partai demokrat Jepang (DPJ) yang sekarang berkuasa di pemerintahan sedang rajin melakukan evaluasi anggaran melalui cara yang disebut jigyō shiwake atau pemilahan proyek di seluruh instansi pemerintah. Kegiatan ini berupa pertemuan tripartit antara birokrat, aleg DPJ, serta pihak ketiga yang terdiri dari kalangan profesional dan wakil masyarakat, untuk menilai tingkat kepentingan proyek-proyek yang sedang berjalan atau yang statusnya masih berupa proposal. Forum tersebut hanya akan mengambil salah satu dari opsi-opsi berikut: proyek terus berjalan normal, berjalan dengan anggaran yang dikurangi, ditunda, atau dihentikan.

Nah, yang menarik adalah ketika berlangsung pembahasan tentang proyek-proyek yang sedang dikerjakan oleh kementrian pendidikan, kebudayaan, olahraga, sains & teknologi (MEXT). Dari liputan salah satu media Jepang, terlihat bahwa aleg dari DPJ terkesan lebih memikirkan target efisiensi anggaran sehingga diskusi untuk membahas program-program pendidikan dan ristek yang diluncurkan depdiknas Jepang itu tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, forum itu justru mengeluarkan keputusan yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Misalnya pengurangan anggaran penelitian di perguruan tinggi, pembatalan proyek pembuatan super komputer mutakhir, penundaan pelaksanaan proposal perbaikan sarana serta prasana pendidikan, dan lain-lain.

Babat anggaran pendidikan dan ristek rupanya membuat gerah kalangan akademisi. Tak kurang 9 rektor perguruan tinggi terkemuka akhirnya mengeluarkan komunike bersama yang isinya mengkritisi cara evaluasi anggaran pendidikan dan ristek yang demikian itu. Forum rektor tersebut menyatakan bahwa kondisi itu secara jangka panjang akan menghambat kemajuan iptek Jepang. Bahkan tidak tanggung-tanggung, 7 orang penerima hadiah Nobel asal Jepang pun sampai menggelar jumpa pers bersama, untuk mengingatkan para politisi agar lebih mementingkan masa depan bangsa dengan penguasaan iptek meskipun memakan biaya yang tidak sedikit.

Liputan media terhadap suara-suara dari pihak yang berkompeten kemudian mendorong masyarakat untuk ikut pula menyampaikan opini mereka. Salah satu contohnya adalah membanjirnya ribuan surat elektronik ke mailbox penanggungjawab proyek pembuatan superkomputer di MEXT. Opini masyarakat dan para pakar selanjutnya memaksa menteri pendidikan, yang notabene adalah politisi DPJ, untuk meninjau langsung berbagai lembaga ristek dan fasilitas milik perguruan tinggi. Dan akhirnya, perdana menteri Yukio Hatoyama menyatakan bahwa efisiensi anggaran tidak berarti harus memangkas biaya untuk program-program pendidikan dan ristek. Polemik pun akhirnya mereda.

Dari fenomena tersebut terlihat bahwa kepentingan politik dari pihak atau partai yang berkuasa, mau menundukkan dirinya di bawah politik kepentingan, yaitu mendahulukan kepentingan negara.

Nah, untuk membahas supremasi politik kepentingan yang menempatkan masa depan bangsa di atas yang lain itu, sebenarnya tidak usah harus jauh-jauh menengok sampai ke Jepang. Tetangga kita, Malaysia, telah memberikan contoh yang hasilnya begitu nyata.

Dalam kondisi payah setelah merdeka dari Inggris, Malaysia masih menghadapi konflik dengan Indonesia terkait kampanye anti nekolim dan Dwikora yang dikobarkan oleh Bung Karno. Ketika pertikaian sudah usai dengan meninggalkan segudang kesulitan ekonomi, salah satu hal yang dilakukan Malaysia adalah mengimpor para guru dari Indonesia, dari guru SD sampai guru besar, untuk membangun manusia-manusia Melayu agar melek pendidikan. Bahkan ITB juga praktis menjadi pendiri Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 1970 dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) pada tahun 1972, karena praktis kurikulumnya 100% dibuat oleh para guru besar dan dosen senior bergelar PhD dari ITB sekaligus menjadi pensyarah (dosen) pada 15 tahun pertama UKM dan UTM ini berjalan.

Tidak sedikit pula mahasiswa yang dikirim untuk belajar ke beberapa universitas di Indonesia pada waktu itu. Pemerintah Kerajaan Malaysia melalui kerjasama dengan Pemerintah Republik Indonesia, mengirimkan ribuan mahasiswanya belajar ke Indonesia mulai tahun 1968. ITB yang paling banyak menjadi tujuan mahasiswa Malaysia yang ingin belajar sains dan teknologi, yakni lebih dari 600 orang mahasiswa Malaysia mengikuti Undergraduate Program (Program Sarjana, sekarang Program S-1) sampai angkatan terakhir mereka lulus pada tahun 1992. Hampir semua fakultas kedokteran universitas-universitas di Indonesia mulai dari FK USU Medan, FK Unpad Bandung, FK UGM Yogyakarta, FK Undip Semarang, FK Unair Surabaya, FK Unhas Makassar dan tentu saja FK UI menjadi favorit lainnya para mahasiswa Malaysia. Indonesia benar-benar menjadi guru bagi Malaysia sampai dengan dekade 1980an.

Negeri jiran itu memang patut menjadi contoh dalam hal berpikir panjang untuk kemajuan bangsa. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa UMNO sebagai partai yang berkuasa sangat mendominasi perpolitikan di sana, tapi mereka lebih memilih mengutamakan pembangunan manusia dibandingkan dengan membangun hegemoni politik yang otoriter pada waktu itu. Mereka tetap berkomitmen mempekerjakan para guru dari Indonesia dan mengirimkan para pemudanya untuk belajar ke luar negeri, sekalipun menghadapi kondisi ekonomi yang sulit.

Lalu, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada kurun waktu yang sama? Rupanya pemerintah Orba lebih memilih membangun kerajaannya sendiri dibandingkan dengan membangun manusia Indonesia. Keuntungan besar bisnis minyak sebagai imbas krisis Timur Tengah pada tahun 1970an malah justru dijadikan modal untuk memata-matai rakyatnya sendiri dan mendanai berbagai petualangan intelijen yang selalu mengatasnamakan demi keamanan dan ketertiban. Tidak heran bila mahasiswa yang semestinya mendapat keringanan biaya pendidikan melalui beasiswa yang seharusnya disediakan oleh pemerintah, malah justru ditangkapi dan dipenjara. Rejim Orba nampaknya lebih memilih membuat robot hidup yang diprogram dengan bahasa P4 hasil pemaknaan sepihak atas Pancasila.

Nah, di saat Malaysia mulai memetik hasil atas benih investasi pendidikan yang mereka tanam 20 tahun lalu, Indonesia baru mulai mengirim para lulusan SMA untuk belajar keluar negeri secara intensif pada pertengahan 1980an. Itu pun atas inisiatif Habibie yang waktu itu menjabat Menristek. Sehingga tidak heran kalau program pengiriman pelajar itu lebih terkenal dengan sebutan proyek Habibie. Tujuan program tersebut adalah untuk menghasilkan SDM yang unggul di bidang iptek, serta meningkatkan daya saing iptek nasional melalui pengkaryaan mereka di lingkungan instansi ristek maupun industri strategis dalam negeri. Namun sayang, berakhirnya bantuan (atau pinjaman?) dari Bank Dunia menyebabkan program tadi akhirnya terhenti di akhir tahun 1990an.

Proyek-proyek industri strategis yang digawangi oleh Habibie memang menelan anggaran negara yang tidak sedikit. Dengan alasan tidak jelas hasilnya, proyek tersebut banyak menuai kritikan terutama dari para ekonom berkacamata kuda yang bisanya hanya melihat hitungan surplus defisit dalam bilangan beberapa tahun, ditambah pemahaman yang cetek tentang urgensi kemandirian iptek suatu bangsa. Badai krisis ekonomi yang akhirnya menjungkalkan tahta Orba sepertinya membuat klaim tadi menemukan kebenarannya. Apalagi ditingkahi manuver menjijikkan para pihak yang menganggap Habibie sebagai musuh politik serta resep IMF untuk membubarkan beberapa industri strategis, maka klop sudah momen untuk melakukan perkosaan masal terhadap program-program yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian bangsa tersebut.

Yah, kebanyakan kaum politisi negeri ini memang degil, sialan, dan menjengkelkan. Mereka lebih suka mendahulukan kepentingan politik pribadi maupun partainya dibandingkan dengan politik kepentingan, yaitu kepentingan bangsa.

Bahan: situs Ikatan Alumni ITB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: