Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

SASOL: Membangun Kemandirian Energi Ala Afrika Selatan

Posted by imambudiraharjo on January 25, 2010

Tak lama lagi, hajatan akbar sepakbola dunia akan dilangsungkan di Afrika Selatan (Afsel). Mungkin ada yang mempertanyakan, apa sih hebatnya Afrika hingga FIFA sampai mempercayakan pementasan piala dunia di sana? Meskipun orang tidak meragukan talenta pemain-pemain sepak bola asal Afrika yang merumput di berbagai liga utama dunia, tapi kesan bahwa Afrika identik dengan kelaparan dan keterbelakangan tampaknya sulit terlepas dari benak banyak orang. Nah, penyelenggaraan world cup yang pertama kali di benua hitam itu mungkin merupakan bentuk apreasi badan sepak bola dunia terhadap Afrika, yang telah banyak menyumbangkan putra-putranya yang berbakat dalam kancah sepak bola dunia. Dan nampaknya Afsel menjadi pilihan yang tepat untuk menunjukkan bahwa Afrika tidak melulu sama dengan keterbelakangan.

Tulisan ini akan menampilkan salah satu perusahaan asal Afsel, yaitu Sasol, yang sukses mentransformasi diri menjadi pemain kunci dalam industri energi skala global. Eksistensinya sekaligus menjadi bukti bahwa kemandirian (energi) suatu bangsa dapat dicapai dengan visi jangka panjang yang jelas serta komitmen yang kuat dari pemerintah, bukan oleh basa basi politik yang menjemukan.

Berawal Dari Boikot Minyak

Republik Afrika Selatan yang terletak di ujung selatan benua Afrika adalah negara yang miskin dengan minyak bumi tapi kaya dengan sumber daya batubara. Politik apartheid yang menyebabkan Afsel mengalami boikot pasokan minyak mentah mendorong pemerintah setempat mendirikan perusahaan bernama Sasol pada September 1950, bertujuan mengkonversi batubara peringkat rendah yang melimpah menjadi produk minyak dan bahan baku kimia. Sasol I yang dibangun di Sasolburg berhasil memproduksi bahan bakar minyak sintetis pertama kali pada tahun 1955, dengan menggunakan metode pencairan batubara tidak langsung (indirect coal liquefaction), yaitu melalui gasifikasi batubara yang kemudian diproses dengan metode Fischer-Tropsch (FT). Pembuatan minyak sintetis ini sering disebut dengan coal-to-liquids (CTL).

Selama kurun waktu 1975 sampai dengan 1982, Sasol menginvestasikan 7 milyar dollar AS (waktu itu) yang merupakan pinjaman dari pemerintah, untuk membangun plant komersial pencairan batubara satu-satunya di dunia yang terletak di Secunda, dekat Johannesburg. Sasol II yang berkapasitas 80 ribu barel per hari mulai beroperasi pada tahun 1980, sedangkan Sasol III dengan kapasitas yang sama mulai berproduksi pada tahun 1982. Saat ini, total produksi dari kedua plant adalah sekitar 150 ribu barel per hari, dengan menggunakan bahan baku batubara dari tambang bawah tanah sebanyak 50 juta ton per tahun. Dan sekitar sepertiga kebutuhan bahan bakar minyak di Afsel sekarang ini dipasok oleh Sasol.

Ketika proyek Secunda selesai di awal 1980an, harga minyak dunia sedang mengalami kejatuhan, terus berfluktuasi di bawah 40 dollar AS. Meskipun disebutkan bahwa pembangunan CTL bernilai ekonomis jika harga minyak mencapai 50 dollar per barel, tapi proyek ini berjalan terus dan dikatakan sukses, karena pemerintah apartheid Afsel saat itu akhirnya berhasil memenuhi sendiri kebutuhan minyak mereka tanpa harus membelinya dari luar negeri. Beberapa upaya pun dilakukan agar plant tersebut tetap menghasilkan keuntungan, diantaranya adalah efisiensi secara kontinyu serta diversifikasi produk.

Gambar 1. Plant Sasol di Secunda, Afsel

(Sumber: Google)

Terhadap BUMN yang menyandang misi menjamin keamanan energi dalam negeri ini, pemerintah Afsel memberikan dukungan penuh berupa pemberian pinjaman maupun melakukan pembayaran kontan kepada Sasol ketika harga minyak jatuh di bawah level tertentu. Seiring perkembangan bisnisnya, Sasol akhirnya berhasil melunasi seluruh utang mereka dan tidak lagi menerima subsidi dari pemerintah sejak tahun 2000.

Transformasi Sasol

Sasol kemudian berkembang menjadi perusahaan energi dan kimia, serta mencatatkan diri sebagai produsen bahan bakar sintetis terbesar di dunia. Selain memproduksi BBM sintetis, Sasol juga kemudian mengembangkan produk akhir, diantaranya adalah plastik, pupuk, dan bahan peledak. Portofolio produk kimianya meliputi polimer dan solvent serta turunannya, wax, phenol, dan produk berbasis nitrogen. Bidang usahanya juga merambah bisnis ritel yang menjual produk BBM dan pelumas.

Gambar 2. Diagram alir gasifikasi di Sasol serta produk-produknya

(Sumber: Sasol-Lurgi Tehnology Company, Gas Tech. Council Conf, Oct 2005)

Pengembangan teknologi juga intensif dilakukan oleh Sasol, berdasarkan pengalaman  pencairan batubara tidak langsung yang telah mereka jalani selama 50 tahun. Untuk proses gasifikasi batubara, unit yang digunakan adalah pengegas lapisan tetap (fixed bed gasifier) dari perusahaan Lurgi, Jerman. Saat ini, unit pengegas yang sama dipasarkan ke seluruh dunia, dikenal dengan nama pengegas Sasol-Lurgi. Kemudian sebagai bagian dari strategi global mereka, maka sejak tahun 2000 Sasol telah memulai pengembangan proyek – proyek teknologi sintetis FT secara komersial, dengan target produksi bahan bakar sintetis sebanyak 500 ribu barel per hari pada tahun 2020.

Disamping mengerjakan berbagai proyek pencairan batubara tidak langsung berskala komersial berkapasitas produksi 80 ribu barel per hari di Cina, India, dan AS, Sasol juga sedang merencanakan pembangunan plant mereka yang keempat di Afsel. Selain CTL, inovasi teknologi Sasol juga merambah ke produksi BBM sintetis berbahan baku gas alam atau yang populer disebut GTL (gas–to-liquids). Saat ini, di Qatar telah beroperasi proyek Oryx I, yaitu plant GTL berskala komersial yang menggunakan teknologi Sasol, berkapasitas produksi 34 ribu barel per hari (2 unit reaktor berkapasitas 17 ribu barel). Pengembangan Oryx II direncanakan berkapasitas 60 ribu barel per hari, sedangkan proyek GTL terpadu akan memiliki kapasitas produksi sebesar 130 ribu barel per hari. Sasol juga sedang mengerjakan pembangunan plant GTL di Nigeria, serta merencanakan pembangunan unit serupa di negara-negara dengan suplai gas alam yang murah seperti Iran dan Australia.

Belajar dari Sasol

Bila ketiadaan suplai minyak di Afsel terjadi akibat isolasi dunia terhadap politik diskriminasi rasial pada waktu itu, maka krisis minyak di Indonesia lebih karena salah urus pemerintah dalam masalah energi. Selisih harga antara komoditas minyak mentah dan produk akhirnya (end product) menyebabkan pemerintah Indonesia berlaku pragmatis dengan menjual minyaknya secara mentah-mentah dan membeli BBM dari Singapura dengan harga murah. Bahkan Indonesia mendeklarasikan diri sebagai negara eksportir minyak dan bergabung dengan OPEC, walaupun cadangan minyaknya relatif tidak seberapa. Bias sudut pandang yang menjadikan minyak sebagai komoditas ritel belaka ini menyebabkan rentannya keamanan energi dalam negeri. Konsumsi minyak berlebih akibat kebijakan ekonomi yang terlalu bergantung kepada migas akhirnya menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dan akhirnya, jadilah Indonesia menjadi net importer minyak sejak 2004, karena secara aktual nilai impor lebih besar dari ekspornya.

Setelah minyak habis, rupanya gas menjadi obyek dagang lainnya. Berita-berita miring tentang proyek-proyek gas seperti Donggi-Senoro dan Tangguh nampaknya menjadi salah satu indikasi masih dominannya kebijakan ritel dalam pengelolaan energi primer. Nasib batubara juga tidak beda jauh. Persentase ekspor yang mencapai 80% dari total produksi batubara nasional sungguh memprihatinkan ditengah berlarut-larutnya defisit listrik yang tidak berkesudahan. Fakta terjadinya ketidaksinkronan antara peraturan pertambangan dengan otonomi daerah menyebabkan ritel-isasi batubara menjadi tidak terelakkan.

Sama-sama mengalami krisis minyak, ternyata Afsel jauh lebih cerdas dan visioner dalam membangun keamanan energi dalam negerinya. Kualitas cadangan batubara di Afsel mirip dengan di Indonesia, dimana sebagian besarnya tergolong berperingkat rendah sehingga kurang memiliki nilai ekonomi sebagai barang komoditi. Jika di Indonesia cadangan batubara kualitas rendah tetap dibiarkan sambil menunggu yang kualitas tinggi habis dieksploitasi dan diekspor, maka inisiasi proyek Sasol langsung menyasar ke batubara peringkat rendah sebagai obyeknya. Dalam hal ini, kata kuncinya adalah nilai tambah (value-added).

Pemerintah Afsel rupanya memiliki pandangan yang jauh ke depan dengan tetap melaksanakan proyek Sasol, meskipun tidak layak secara biaya dikarenakan harga minyak dunia saat itu berada dibawah kisaran harga yang ideal. Mereka juga berpikir strategis dengan memilih teknologi gasifikasi sebagai metode pencairan batubara. Berbeda dengan pencairan batubara secara langsung yang hanya akan menghasilkan produk BBM sintetis saja, pencairan tidak langsung via gasifikasi memiliki spektrum produk yang lebih luas dan bernilai tambah tinggi. Selain diproses menjadi BBM sintetis (CTL), gas sintetis dari proses gasifikasi juga dapat dijadikan sebagai bahan baku industri kimia (coal-to-chemical) untuk menghasilkan produk-produk seperti amonia, pupuk, metanol, olefin, dan paraffin. Sasol sendiri saat ini memproduksi sekitar 200 produk bahan bakar dan produk kimia, yang diekspor ke lebih dari 70 negara. Segmen produk kimia sendiri menyumbang lebih dari separoh pendapatan perusahaan ini.

Keberhasilan Sasol sebagai plant pencairan batubara pertama berskala komersial dan terbesar sampai saat ini membuat perusahaan ini juga berhasil mematangkan dan menguasai teknologi gasifikasi serta coal-chemical. Dengan harga minyak dunia yang cenderung terus naik, tidaklah mengherankan bila Sasol boleh dikatakan menjadi pemain utama industri CTL dan kimia berbasis batubara. Saat ini Sasol mempekerjakan karyawan sekitar 30 ribu orang, tercatat sebagai perusahaan dengan karyawan bergelar PhD terbanyak di belahan bumi selatan, serta memberikan kontribusi kurang lebih 4.4% terhadap GDP Afsel.

Investasi teknologi sudah pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit dan butuh urat kesabaran untuk menuai hasilnya. Sayangnya, mindset ini nampaknya masih menjadi barang asing bagi sebagian besar para penyelenggara negara kita yang lebih sibuk mengasong untuk biaya politik mereka.

Sumber: sekitan no hon, post-gazette.com, mediaclubsouthafrica.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: