Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Transfer Teknologi dan Penyelamatan Lingkungan

Posted by imambudiraharjo on January 31, 2010

Tulisan terdahulu berjudul “Paradoks Kampanye Global Lingkungan Hidup” sedikit menyinggung sikap hipokrit negara-negara maju terhadap upaya pelestarian lingkungan secara global, terutama dukungan transfer teknologi terhadap negara-negara berkembang. Sikap tersebut memberikan kesan yang kuat akan upaya untuk mempertahankan dominasi mereka, terutama di bidang ekonomi. Namun karena masalah lingkungan bersifat mondial dan saling mempengaruhi, maka kurangnya sikap kooperatif tersebut bukannya akan memperkuat hegemoni mereka, tapi justru akan menjerumuskan dunia ke dalam krisis lingkungan yang semakin parah. Tulisan ini berupaya memberikan argumentasi tentang urgensi transfer teknologi bersih dan hemat energi (clean and energy-saving technology) ke negara-negara berkembang, terhadap upaya pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Tahapan Perkembangan Ekonomi

Tidak dapat dipungkiri bahwa industrialisasi merupakan salah satu pendorong utama kemajuan ekonomi suatu bangsa. Tapi industrialisasi juga rakus energi untuk menjaga roda ekonomi agar terus berputar, terutama ketika perjalanannya masih berada pada tahap awal. Inilah alasan kenapa proses menjadi negara maju membutuhkan biaya yang sangat besar, bukan saja untuk mendatangkan bahan baku tapi terutama biaya atas kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber energi (primer) yang digunakan untuk memproses bahan baku itu. Dan perlu digarisbawahi bahwa proses menuju negara maju yang dimaksud disini lebih merujuk ke tahapan yang dilalui oleh negara-negara kapitalis seperti Eropa (Barat) dan Amerika, karena praktis hanya merekalah yang eksis dengan sebutan negara maju sekarang ini sehingga kita perlu menelaah proses yang telah mereka lalui. Meskipun demikian, tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mendukung langkah – langkah tersebut, namun lebih kepada memberikan pemahaman tentang proses tersebut dan konsekuensi atau resiko yang mengikutinya. Untuk itu, terlebih dulu kita akan coba melihat tahapan perkembangan suatu masyarakat berdasarkan sejarah perkembangan ekonomi yang terjadi di Barat.

Dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economic Growth, Rostow membagi perkembangan ekonomi menjadi tahapan-tahapan seperti berikut ini:

  1. Traditional society, yaitu tahapan dimana kegiatan masyarakat berpusat pada pertanian. Pada masa ini, masyarakat memiliki pola pemahaman komunal pra Newtonian, dimana kepercayaan terhadap kekuatan supranatural menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas keseharian mereka.
  2. Preconditions to take-off, yaitu tahapan dimana teknologi modern mulai digunakan. Pada periode ini, terdapat penerimaan positif terhadap pertumbuhan ekonomi, serta merupakan masa berdirinya negara bangsa (nation-state).
  3. Take-off, yaitu masa dimana faktor-faktor penghambat pertumbuhan berhasil dihilangkan sehingga industrialisasi berkembang pesat.
  4. Drive to maturity, yaitu tahapan dimana pertumbuhan terus berlanjut, yang menyebabkan meningkatnya pendapatan per kapita.
  5. Age of high mass consumption, yaitu tahapan dimana fokus industri mengalami pergeseran ke produksi consumer durable goods dan jasa.

Konsumsi Energi & Penyelamatan Lingkungan

Dari pembagian di atas, nampak bahwa konsumsi energi akan membesar secara signifikan bersamaan dengan perkembangan industri yang pesat pada tahap lepas landas.

Pada kondisi ini, nilai elastisitas pendapatan* juga banyak yang lebih dari 1. Bahkan di negara-negara industri baru Asia, terlihat bahwa kenaikan konsumsi energi melampaui tingkat pertumbuhan ekonominya. Akan tetapi, saat pendapatan per kapita meningkat sehingga industrialisasi mencapai level tertentu, titik berat industri akan bergeser dari industri pengolahan material yang mengkonsumsi banyak energi ke industri jasa. Ketika itu, konsumsi energi akan sampai pada pertumbuhan yang melambat seolah-olah bergerak menuju nilai tertentu, dan terus bergerak ke tahap matang.

Gambar 1. Perkembangan ekonomi & kebutuhan energi

(Sumber: Enerugii Keizai Deeta no Yomi Kata Nyuumon, hal. 11)

Dengan menggunakan kurva logistik**, hubungan antara perkembangan ekonomi dengan tingkat kebutuhan energi ditampilkan pada gambar di atas. Kurva tersebut menunjukkan adanya kemungkinan untuk mengendalikan peningkatan kebutuhan energi di negara-negara berkembang, melalui upaya transfer energy-saving technology dari negara-negara maju terhadap negara-negara yang menempuh jalur perkembangan konvensional seperti yang ditunjukkan oleh garis penuh. Dari kurva di atas terlihat bahwa bila tidak ada upaya transfer atau pemajuan teknologi, konsumsi energi akan membesar secara signifikan seiring dengan perkembangan dari titik A ke titik B. Nah, jika pada tahapan itu dilakukan upaya seperti transfer teknologi, maka kurva akan bergeser ke kanan sehingga titik A akan bergerak menuju ke titik B’. Disini terlihat bahwa meskipun keduanya menempuh tahap perkembangan yang sama, tapi rute A ke B’ memberikan peluang yang besar untuk menyelesaikan tahap tersebut dengan konsumsi energi yang lebih sedikit.

Dari sini dapat dipahami bahwa berkurangnya konsumsi energi, secara otomatis juga akan meminimalisasi eksploitasi sumber energi primer serta mengurangi pelepasan zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan. Dengan demikian, jelaslah bahwa kemajuan teknologi merupakan salah satu solusi yang efektif untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang ramah terhadap lingkungan. Dan untuk itu, transfer teknologi merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan, sebagai sebuah kewajiban bersama untuk menyelamatkan lingkungan, sekaligus upaya untuk mengakselerasi perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang. Hal ini tentu tidak mudah, namun negara-negara maju harus mengingat bahwa merekalah penyumbang terbanyak dalam degradasi lingkungan sebagai biaya atas kemajuan yang mereka capai, sehingga transfer teknologi sudah seharusnya dipandang sebagai kewajiban moral, bukan dalam kerangka business as usual.

Keterangan:

* Elastisitas pendapatan = sebuah parameter untuk mengetahui secara langsung hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi, yang nilainya berubah sesuai dengan tahapan perkembangan ekonomi. Meskipun demikian, secara jangka panjang nilainya mendekati 1. Elastisitas pendapatan dirumuskan sebagai tingkat perubahan kebutuhan energi pada saat pendapatan mengalami perubahan 1%. Pada analisis makro, pendapatan yang dimaksud banyak merujuk ke GDP aktual. Misalnya, jika pertumbuhan GDP 2.5% dan elastisitas GDP 1.15%, maka kebutuhan energi bertambah sebanyak 2.5% X 1.1% = 2.75%

** Kurva logistik = salah satu jenis kurva pertumbuhan berbentuk huruf S, yang grafiknya terus bergerak mendekati level jenuh tertentu seiring dengan berjalannya waktu. Kurva ini sering diaplikasikan pada time-series pertambahan penduduk dan consumer durable goods

One Response to “Transfer Teknologi dan Penyelamatan Lingkungan”

  1. Mptgar said

    Pencemaran lingkungan sebenarnya tdk perlu terjadi oleh karena penggunaan energy utk industri, kalau org fisika sebagai pemegang mandat pemberi arti tentang energy itu, mau memahami kesilapannya tentang energy yg dimaksud.
    Mereka memaksakan bahwa energy itu hanya bisa dikonversi, akhirnya semua masyarakat hanya berfikir untuk mengkonversi.
    W = F . S, inilah kesilapan ilmu fisika, karena W disangkut pautkan dgn devenisi energy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: