Belajar Memaknai

Urip Mung Mampir Ngombe

Boy Thohir : Tak Pernah Kapok Di Batu Bara

Posted by imambudiraharjo on May 2, 2011

Oleh: Rahayuningsih, Wisnu Wijaya & Abraham Runga Mali

Nama Garilbadi Thohir tak bisa dipisahkan dari perusahaan tambang batu bara terkemuka Indonesia, Adaro. Namun, sebelum memimpin perusahaan itu, Boy, begitu dia disapa, sudah jatuh bangun menekuni bisnis batu bara. Berikut adalah penuturan pengalamannya dalam berbisnis.


Kapan terlibat di bisnis tambang batu bara?

Saya lulus SMA pada 1984 di SMA 3. Setelah itu, saya melanjutkan pendidikan saya di Amerika Serikat ambil bachelor dan master. Pada 1991 saya pulang ke Indonesia dan langsung berpikir mencari kerja. Waktu sudah sempat melamar ke beberapa perusahaan asing khususnya asal Amerika Serikat dan diterima dengan gaji sekitar US$2.000.
Begitu mendapatkan pekerjaan itu, saya beritahu ayah dan reaksinya kala itu adalah beliau tidak setuju saya bekerja di perusahaan orang lain. Saya bersyukur mempunyai ayah Teddy Thohir yang mengarahkan untuk menjadi pengusaha.
Ayah yang juga pendiri Astra mengubah pola pikir saya. Saat itu beliau menantang saya untuk mengembalikan biaya kuliah yang sudah saya habiskan sekitar Rp700 juta.
Dengan gaji US$2.000 sebulan tentunya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melunasinya.
Akhirnya saya menyerah dan mengikuti apa yang diinginkan beliau. Lantas ayah meminta saya untuk bekerja di perusahaannya karena waktu itu dia full time di Astra. Lama bergabung di sana, saya pun merasa bosan karena hanya menghadiri rapat mewakili Teddy Thohir, ayah saya.
Kemudian saya bicara ke ayah ingin berbisnis sendiri dan memilih properti sebagai langkah awal. Alasannya, waktu itu saya melihat peluang di daerah Casablanca karena akan dibuat jalan tembus dari Tebet ke Prof. Satrio.
Melihat itu, saya memutuskan membangun apartemen di kawasan itu di atas lahan seluas 2.000 meter saja. Berbisnis properti yang saya pikir mudah ternyata tidak seperti yang dipikirkan.
Pembebasan lahan menjadi masalah utama. Tidak hanya itu, rencana awal hanya 2.000 meter per segi malah meningkat menjadi 3,2 hektare karena pembebasan tanah negara minimal satu kaveling yang luasnya sekitar 5.000 meter persegi.
Biaya membengkak, akhirnya saya bicarakan ke ayah dan mengatakan tidak sanggup kalau harus membeli seluas itu. Solusinya ada, yaitu membeli dan kemudian menjualnya kembali ke Astra karena dulu Edwin Soeryadjaya berkeinginan membangun Astra City.
Dari properti, pada 1992 saya berkenalan dengan pengusaha asal Australia yang memiliki perusahaan tambang di Sawah Lunto-Sumatra Barat dengan bendera PT Allied Indo Coal (AIC).


Tahun itu, batu bara belum diminati pasar. Batu bara AIC berkalori 6.9007.300 dinilai US$32,5 per ton, padahal biaya produksi mencapai US$32, untung kami hanya US$0,5 per ton.
Namun, saya optimistis kalau batu bara ini akan menjadi pengganti minyak sebagai energi utama. Permasalahan datang pada 1997, mitra saya pengusaha asal Australia kabur dan pemilik lahan pertambangan yang semula sudah dibebaskan menggugat AIC.
Tak ingin bermasalah, saya pun membayar para pemilik yang mengaku tanahnya dijadikan lahan pertambangan AIC. Namun, saya tidak mau menyerah, filosofi saya kalau mau berhasil harus gigih, ulet, dan tekun.
Bagi saya, AIC merupakan sekolah pertama dan hingga sekarang masih tetap berproduksi sekitar 5.000 ton per bulan untuk memasok kebutuhan PLTU Ombilin.
Dari Sawah Lunto, saya mulai merambah Kalimantan dengan menggunakan PT Padang Bara Sukses Makmur (PBSM) menggandeng Theodore Permadi (T.P) Rachmat. Alasannya waktu itu, ingin berbagi risiko. Selain itu, T.P Rachmat yang biasa dipanggil Tedi juga sangat jago dalam hal manajemen dan keuangan.
Di Kalimantan Selatan, saya bertemu dengan H. Sulaiman pemilik PT Hansur, kami pun bekerja sama di bawah bendera PT Bumi Rantau Energi. Di pertambangan milik H. Sulaiman, kalori batu bara yang dihasilkan sangat rendah akibatnya harga pun hanya sekitar US$13,5 per ton lebih rendah daripada Sawahlunto.

Mengapa masih bertahan meski berulang kali gagal?

Karena bisnis yang ingin saya geluti hanya dua yaitu natural resources dan population base atau bisnis konsumer. Dari Kalsel saya masuk di Kalimantan Tengah, hanya berdasarkan mimpi orang. Waktu itu saya berdua dengan Tedi sangat berambisi membesarkan perusahaan ini. Apa pun dilakukan untuk mendapatkan lahan pertambangan, sampai mimpi orang pun dipercaya.
Karena tidak logis, akhirnya investasi yang kami tanamkan sebesar US$30 juta melayang. Saya tak pernah kapok. Gagal, saya pun memutuskan untuk serius membesarkan Padang Bara di Kalsel yang baru untung Rp5 miliarRp10 miliar.
Agar produksi Padang Bara diminati pasar, saya mencari solusi dengan blending. Waktu itu, Adaro menjadi pilihan karena dua orang pemiliknya Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno sudah di perusahaan itu.
Berteman dengan mereka tak lantas membuat Padang Bara mudah mendapatkan batu bara dari Adaro karena yang mengoperasikannya adalah New Hope dan harga batu bara pada 20042005 sudah mulai naik.
Tidak beberapa lama setelah kami melakukan pendekatan ke Adaro, saya mendengar perusahaan itu mau dijual. Lantas saya mendekati pak T.P Rachmat, Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, Benny Soebianto agar membeli Adaro.
Pembelian Adaro ini seperti reuninya pendiri Astra. Saya mewakili ayah Teddy Thohir, Edwin mewakili William Soeryadjaya, T.P Rachmat menantunya William Soerdyajaya.
Persoalan berikutnya adalah pendanaan. Strategi kami waktu itu adalah dengan menggunakan sistem leveraged buyout untuk mendapatkan pinjaman US$1 miliar. Kami pun menggandeng konsorsium internasional terdiri dari Noonday Asset Management Asia Pte. Ltd, GIC Special Investments, Kerry Coal (bagian dari grup Kuok), Goldman Sachs, Citigroup Global.
Krediturnya DBS Bank, Standard Chartered, RBS, ANZ, UOB Asia, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Mandiri, Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Kami berlima memegang 65% dan sisanya konsorsium asing 35%.

Siapa yang mendorong Anda untuk membeli Adaro?

Bukan percaya diri, tetapi saya selalu memanfaatkan kesempatan yang datang. Menurut saya, perusahaan ini bagus, manajemennya bagus, rekan yang saya gandeng juga bereputasi baik.
Tahun itu, kami juga dituduh melakukan transfer pricing, karena nilai transaksinya yang tinggi. Namun, kami bisa buktikan dengan rekam jejak yang baik. Contohnya saja pajak, pada 2008-2009, mungkin kami pembayar pajak terbesar.

Tidak ada konflik dengan sesama pemegang saham?

Kami diuntungkan, karena ini kan seperti reunion pendiri Astra. Saya tidak mengerti alasan mereka [pemegang saham] memilih saya untuk memimpin perusahaan ini. Namun, saya berterima kasih atas semua itu.
Namun, karena kami melihat Adaro ini himpunan keluarga besar, akhirnya manajemen sepakat untuk mencatatkannya ke pasar modal. Jadi, semuanya mengikuti aturan main yang ada. Meski waktu itu tetap ada perbedaan pendapat. Karena tujuan kami satu ingin membesarkan perusahaan ini, akhirnya disepakati go public.
Kami berharap, meski pemegang saham berganti perusahaan ini akan tetap ada seperti Astra yang telah berganti kepemilikan berulang kali.

Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

Kalau sampai sekarang perusahaan ini dari pertambangan ke pelabuhan, kini manajemen akan mengembangkannya dari pertambangan ke pelabuhan ke pembangkit listrik.
Saat ini kami membangun pembangkit berkapasitas 2X30 MW, sekitar 10 MW untuk masyarakat sekitar dan sisanya untuk perusahaan dalam rangka efisiensi penggunaan pembangkit dari minyak.

Selain pembangkit listrik?

Kami juga membangun islamic cen ter sebagai tempat peribadatan masyarakat setempat. Selain itu, manajemen tengah melakukan kajian untuk membangun Tanjung City Center sebagai tempat rekreasi masyarakat Kalimantan Selatan yang membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar.
Kami juga tengah melakukan kajian untuk membangun Adaro Institute dalam rangka melahirkan sumber daya manusia lokal yang andal, karena selama ini tenaga kerja banyak berasal dari lulusan ITB dan UPN Jogja.

Siapa tokoh idola Anda?

Ayah saya dan Om William Soerjadjaya. Mereka mengajarkan saya bagaimana menjadi pengusaha yang tangguh tetapi tetap humble dan dekat dengan karyawan.

Apa makna dari logo PT Adaro Energi Tbk?

Logo ini yang mendesain Landor Associates yang juga mendesain logonya PT Garuda Indonesia Tbk, BP Petroleum dan banyak lagi. Pada waktu Adaro mau go public, saya dan teman-teman memutuskan untuk membuat logo baru.
Pemilihan Landor sebagai perusahaan yang mendesain logo awalnya mendapat reaksi dari pemegang saham dengan alasan itu perusahaan asing.
Lantas saya jelaskan, suatu hari perusahaan ini akan menjadi perusahaan tambang berkelas dunia, semuanya harus dipikirkan dari jauh hari termasuk logo dan apa makna yang tertera.
Sejak semula, saya memang memiliki mimpi besar, ingin membawa Adaro ke level yang lebih besar. Maka, dipilihlah Landor dan logonya menyerupai diamond atau berlian karena batu bara kalau ditunggu selama 2 juta tahun akan menjadi berlian.
Selain itu, pemilihan logo menyerupai berlian karena batu bara produksi Adaro dari sisi kandungan ash content (kadar abu) merupakan yang terendah di dunia. Saya membayangkan nilai batu bara kami seperti berlian, sangat berharga. Kalau orang bilang batu bara ini emas hitam, tetapi saya menyebutnya diamond hitam.
Untuk warna hijau dan biru, artinya mencerminkan kegiatan produksi Adaro ramah lingkungan karena itu kami menyebutnya sebagai enviro coal. Karena batu bara kami itu salah satu terbaik di dunia dalam hal ultra low sulfur dan ultra low ash.

Apakah sebelum ini, Adaro sudah mempunyai logo?

Cikal bakal Adaro Indonesia ini kan dari Adaro. Nama Adaronya masih sama tetapi sudah dimodifikasi lebih internasional. Ciri lamanya tetap ada. Seperti saya bilang, pada waktu mau mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia para pemegang saham hanya ingin mengubah tulisan PT Adaro Indonesia, tetapi akhirnya kami putuskan juga untuk membuat logo baru.

Nama Adaro sejak kapan?

Nama Adaro sudah ada sejak awal. Adaro itu adalah nama seorang geologist dari Spanyol. Dia merupakan bapak geologi Spanyol. Karena pemilik awal pertambangan ini adalah orang Spanyol, maka dinamakan Adaro.
Tapi kok syukur alhamdulillah arti nama Adaro itu, meski sedikit beda pengucapannya, dalam bahasa setempat (Banjar) anugerah dari Tuhan. Jadi, sekarang saya mengartikannya anugerah dari Tuhan karena pertambangan ini sudah menjadi aset bangsa.

Sumber: http://www.bisnis.com/opini/20848-boy-thohir-tak-pernah-kapok-di-batu-bara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: